Memahami dan Menghitung Goodwill

by redaksi

Goodwill merupakan aset tidak berwujud yang dikaitkan dengan pembelian perusahaan oleh perusahaan lain. Nilai goodwill ini bisa memberikan peta bagi perusahaan pengakuisisi untuk memahami seberapa besar keunggulan kompetitif yang dimiliki perusahaan yang akan dibeli.

Wartapenilai.id—Goodwill secara khusus bisa di definisikan sebagai bagian dari harga beli yang lebih tingg dari jumlah nilai wajar bersih dari semua asset yang dibeli pada proses akuisisi dan liabilitas yang diambil alih.

Itu terkait nilai nama perusahaan, reputasi merek, basis pelanggan yang loyal, layanan pelanggan yang solid, hubungan karyawan yang baik, dan teknologi kepemilikan mewakili aspek goodwill. Nilai inilah yang membuat mengapa satu perusahaan dapat membayar premi untuk yang lain.

Nilai goodwill biasanya muncul dalam akuisisi perusahaan. Jumlah perusahaan pengakuisisi membayar untuk perusahaan target yang melebihi dan di atas aset bersih target pada nilai wajar biasanya memperhitungkan nilai goodwill perusahaan yang menjadi target.

Misal perusahaan pengakuisisi membayar kurang dari nilai buku perusahaan target, perusahaan memperoleh goodwill negatif. Ini berarti pengakuisisi membeli perusahaan dengan harga murah dalam penjualan darurat.

Goodwill dicatat sebagai aset tidak berwujud pada neraca perusahaan pengakuisisi di bawah akun aset jangka panjang. Goodwill dianggap sebagai aset tidak berwujud (atau tidak lancar) karena bukan aset fisik seperti bangunan atau peralatan.

Berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum, perusahaan diharuskan mengevaluasi nilai goodwill di laporan keuangan mereka setidaknya setahun sekali dan mencatat setiap penurunan nilai.

Proses menghitung goodwill pada prinsipnya cukup mudah, tetapi dalam praktiknya bisa sangat rumit. Untuk menentukan goodwill dengan rumus sederhana, ambil harga beli perusahaan dan kurangi nilai pasar wajar bersih dari aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi.

Goodwill= P − ( A − L )

P=Harga beli perusahaan target

A=Nilai pasar wajar aset

L = Nilai pasar wajar kewajiban

Namun demikia, dalam praktiknya, penghitung goodwill diantara profesi keuangan, terjadi perbedaan pendekatan. Alasannya, diantranya, bahwa goodwill melibatkan anjak piutang dalam estimasi arus kas masa depan dan pertimbangan lain yang tidak diketahui pada saat akuisisi.

Meskipun biasanya ini mungkin bukan masalah yang signifikan, ini bisa menjadi masalah manakal akuntan mencari cara untuk membandingkan aset yang dilaporkan atau laba bersih antara perusahaan yang berbeda (perushaaan pengakuisisi dengan perusahaan yang belum pernah).

Contoh goodwill dalam akuntansi melibatkan penurunan nilai. Penurunan nilai aset terjadi ketika nilai pasar aset turun di bawah biaya historis. Ini bisa terjadi sebagai akibat dari peristiwa yang merugikan seperti menurunnya arus kas, meningkatnya lingkungan persaingan, atau depresi ekonomi, di antara banyak hal lainnya.

Jika suatu perusahaan menilai bahwa aset bersih yang diperoleh jatuh di bawah nilai buku atau jika jumlah goodwill itu dilebih-lebihkan, maka perusahaan harus menurunkan atau melakukan write-down pada nilai aset di laporan keuangan. Beban penurunan nilai dihitung sebagai selisih antara nilai pasar saat ini dan harga pembelian aset tidak berwujud.

Penurunan nilai tersebut mengakibatkan penurunan akun goodwill di laporan keuangan. Beban tersebut juga diakui sebagai kerugian pada laporan laba rugi, yang secara langsung mengurangi laba bersih tahun berjalan. Pada gilirannya, laba per saham (EPS) dan harga saham perusahaan juga terpengaruh secara negatif.

Untuk itu, perusahaan bisa melakukan penilaian apakah ada penurunan nilai dengan melakukan tes penurunan nilai pada aset tidak berwujud. Ada dua metode yang umum digunakan untuk menguji penurunan nilai yaitu pendekatan pendapatan dan pendekatan pasar. Dengan menggunakan pendekatan pendapatan, estimasi arus kas masa depan didiskontokan ke nilai sekarang. Dengan pendekatan pasar, aset dan kewajiban perusahaan sejenis yang beroperasi di industri yang sama dianalisis.

Saat ini, regulator standar akuntandi keuangan, sedang mempertimbangan perubahan cara menghitung penurunan nilai goodwill. Karena subjektivitas penurunan nilai goodwill dan biaya pengujiannya, regulator standar mempertimbangkan untuk kembali ke metode lama yaitu amortisasi goodwill. Metode ini mengurangi nilai goodwill setiap tahun selama beberapa tahun.

Goodwill VS Intangible Lainnya

Goodwill tidak sama dengan aset tidak berwujud lainnya. Goodwill adalah premi yang dibayarkan di atas nilai wajar selama transaksi dan tidak dapat dibeli atau dijual secara independen. Sedangkan aset tidak berwujud lainnya berupa lisensi atau paten yang dapat dibeli atau dijual secara mandiri. Goodwill memiliki umur yang tidak terbatas, sedangkan barang tidak berwujud lainnya memiliki umur manfaat yang pasti.

Untuk itu, goodwill sulit ditentukan harganya, dan goodwill negatif bisa terjadi ketika pihak pengakuisisi membeli perusahaan dengan harga kurang dari nilai pasar wajarnya. Ini biasanya terjadi ketika perusahaan target tidak dapat atau tidak akan menegosiasikan harga yang wajar untuk akuisisinya.

Goodwill negatif biasanya terlihat dalam penjualan yang tertekan dan dicatat sebagai pendapatan pada laporan laba rugi pengakuisisi. Ada juga risiko bahwa perusahaan yang sebelumnya sukses bisa menghadapi kebangkrutan. Ketika ini terjadi, investor mengurangi goodwill dari penentuan ekuitas residualnya. Alasan untuk ini bisa dikarnakan bahwa pada titik kebangkrutan, goodwill yang sebelumnya dinikmati perusahaan tidak memiliki nilai jual kembali.

Sebagai ilustrasi nilai wajar aset Perusahaan XYZ dikurangi kewajiban sebesar 180 miliar, dan perusahaan membeli perusahaan ABC Rp 225 miliar, presmi yang dibayarkan untuk akuisisi sebesar Rp 45 miliar (225 miliar dikurangi 180 miliar. Presmi sebesar Rp  45 miliar itu akan dimasukan dalam laporan keuangan pengakuisisi sebagai goodwill.

Lalu perbedaan goodwill dengan asset lain? Goodwill ditampilkan dalam laporan keuangan sebagai asset tak berwujud ketika perusahaan mengakuisisi perusahaan lain, dengan harga yang lebih besar dari nilai asset bersihnya. Tidak seperti aset lain yang memiliki masa manfaatnya bisa dilihat, goodwill tidak diamortisasi atau disusutkan tetapi diuji secara berkala untuk penurunan nilai goodwill. Jika goodwill dianggap mengalami penurunan nilai, nilai goodwill harus dihapuskan, sehingga mengurangi pendapatan perusahaan.

Untuk mengevaluasi goodwill membutuhkan keterampilan yang menantang yang penting bagi banyak investor. Lagi pula, ketika membaca laporan keuangan perusahaan, bisa sangat sulit untuk mengetahui apakah goodwill yang diklaimnya benar-benar dibenarkan. Misalnya, sebuah perusahaan mungkin mengklaim bahwa goodwill didasarkan pada pengakuan merek dan loyalitas pelanggan dari perusahaan yang diperolehnya.

Saat menganalisis laporan keuangan perusahaan, investor akan memeriksa apa yang ada di balik goodwill  yang dinyatakan untuk menentukan apakah goodwill itu perlu dihapuskan di masa depan. Dalam beberapa kasus, kebalikannya juga dapat terjadi, dengan investor percaya bahwa nilai sebenarnya dari goodwill perusahaan lebih besar dibanding yang dinyatakan di laporan keuangan.

Contoh lain, perusahaan mengakuisisi perusahaan barang konsumsi yang popular di sebuah kota. Meski perusahaan itu hanya memiliki asset bersih Rp 15 miliar, investor setuju untuk membayar Rp 18 miliar. Artinya, investor rela membukukan Rp 3 miliar dari goodwill tercermin di laporan keuangannya. Investor beranggapan merek dan loyalitas konsumen mengikuti sebagai pembenaran utama untuk nilai goodwill yang mereka bayarkan. Namun, jika nilai merek itu menurun, maka mereka mungkin perlu menghapus sebagian atau semua goodwill itu di masa depan. (***/HS)

 

 

0 0 votes
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x