Menentukan Nilai Likuidasi

by redaksi

Nilai yang diharapkan dari aset setelah dilikuidasi atau dijual—mungkin dengan kerugian biaya historis—biasa disebut nilai likuidasi. Nilai likuidasi dihitung dari hasil penjualan lelang dikurangi dengan kewajiban perusahaan.

Wartapenilai.id—Nilai likuidasi merupakan nilai bersih dari aset fisik perusahaan jika akan dipailitkan dan aset tersebut dijual. Nilai likuidasi merupakan nilai real estat, perlengkapan, peralatan, dan inventaris perusahaan. Dan aset tak berwujud (ATB) dikeluarkan dari nilai likuidasi perusahaan.

Nilai likuidasi sama dengan nilai total aset fisik perusahaan jika keluar dari bisnis dan asetnya dijual. Ini ditentukan dengan aset perusahaan seperti real estat, perlengkapan, peralatan, dan inventaris. Aset tidak berwujud dikeluarkan dari nilai likuidasi perusahaan.

Nilai likuidasi biasanya lebih rendah dari nilai buku, tetapi lebih besar dari nilai sisa.

Aset dijual dengan kerugian selama likuidasi karena penjual harus mengumpulkan uang tunai sebanyak mungkin dalam waktu singkat.

Untuk memahami nilai likuidasi, umumnya ada empat tingkat penilaian untuk aset bisnis: nilai pasar, nilai buku, nilai likuidasi, dan nilai sisa. Setiap tingkat nilai menyediakan cara bagi akuntan dan analis untuk mengklasifikasikan nilai agregat aset. Nilai likuidasi sangat penting dalam kasus kebangkrutan.

Nilai likuidasi tidak termasuk aset tidak berwujud seperti kekayaan intelektual, goodwill, dan pengakuan merek perusahaan. Namun, jika sebuah perusahaan dijual daripada dilikuidasi, nilai likuidasi dan aset tidak berwujud menentukan nilai kelangsungan hidup perusahaan. Nilai investor melihat perbedaan antara kapitalisasi pasar perusahaan dan nilai kelangsungan usahanya untuk menentukan apakah saham perusahaan saat ini layak dibeli.

Calon investor akan menilai nilai likuidasi perusahaan sebelum berinvestasi. Investor ingin mengetahui berapa banyak dananya akan dikembalikan jika terjadi kebangkrutan.

Perbedaan Nilai

Nilai pasar biasanya memberikan penilaian aset tertinggi meskipun ukurannya bisa lebih rendah dari nilai buku jika nilai aset menurun karena permintaan pasar daripada penggunaan bisnis.

Nilai buku adalah nilai aset yang tercantum di neraca. Neraca mencantumkan aset pada biaya historis, sehingga nilai aset mungkin lebih tinggi atau lebih rendah dari harga pasar. Dalam lingkungan ekonomi dengan kenaikan harga, nilai buku aset lebih rendah dari nilai pasar. Nilai likuidasi adalah nilai yang diharapkan dari aset setelah dilikuidasi atau dijual, mungkin dengan kerugian biaya historis.

Terakhir, nilai sisa adalah nilai yang diberikan ke aset di akhir masa manfaatnya; dengan kata lain, ini adalah nilai sisa. Nilai likuidasi biasanya lebih rendah dari nilai buku tetapi lebih besar dari nilai sisa. Aset tetap memiliki nilai, tetapi dijual dengan kerugian karena harus segera dijual.

Sebagai ilustrasi, perusahaan alas kaki mengajukan pailit pada Februari 2019. Meskipun pernah memiliki 3.400 gerai di 40 negara, perusahaan tersebut mengumumkan akan menutup semua lokasinya di semu negara.

Likuidasi adalah perbedaan antara beberapa nilai aset berwujud dan kewajiban. Sebagai contoh, asumsikan kewajiban untuk perusahaan A adalah Rp 7,7 miliar. Juga, asumsikan nilai buku aset yang ditemukan di neraca sebesar Rp 14 miliar, nilai sisa Rp 700 juta dan perkiraan nilai penjualan semua aset di lelang sebesar Rp 10,5 miliar. Nilai likuidasi dihitung dengan mengurangkan kewajiban dari nilai lelang, Rp 10,5 miliar dikurangi Rp 7,7 miliar atau Rp 2,8 miliar. (***/HS)

5 1 vote
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x