Jalani Profesi Penuh Integritas Dan Kejujuran

by redaksi

Itu wejangan Rasoeli Moeloek, Ketua MAPPI Pertama (1981-1983), dimana pelaku profesi penilai harus selalu jujur saat menjalani praktik penilaian dan mengutamakan kehati-hatian. Wejangan sesepuh penilai dan pendiri Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) itu disampaikan saat meneriman kedatangan Balon DPN Paket SEPAKAT di kediamannya.

Wartapenilai.id—Rasoeli Moeloek merasa tersanjung, saat Balon DPN Paket SEPAKAT (Setiawan, Prasodjo, Kak Toyo) bersilaturahmi mewakili penilai anggota MAPPI yang ia dirikan tahun 1981 tempo dulu. Moeloek panggilan akrabnya, semenjak tidak berkiprah di profesi penilai praktis tidak pernah berhubungan dengan anggota MAPPI. Baru, kali ini, Rasoeli Moeloek menerima kedatangan penilai dan raut mukanya terlihat sumringah, menerima kedatangannya.

Silaturahmi dengan pendiri MAPPI itu dihadiri Setiawan, Abdullah Fitriantoro, dan Budi Prasodjo tidak bisa hadir lantaran masih mengikuti meeting organisasi yang tidak bisa ditinggalkan. Selain itu, silaturahmi dengan pendiri MAPPI diikuti Anggota Dewan Penilai, Toto Suharto dan Balon DPK MAPPI, Juniadi Amral. Rombongan itu diterima, Rasoeli Moeloek di ruang tengah, di kediamannya, Jalan Situbondo No. 1 Menteng, Jakarta Pusat, 11 Agustus 2020.

Dalam silaturahmi itu, Rasoeli Moeloek yang jebolan Arsitek Institute Teknologi Bandung (ITB) tahun 1961, ini mengawali cerita organisasi MAPPI ini berdiri serta mengembangkan profesi. Moeloek teringat bagaimana berjuang bersama rekan se-profesi, kala itu, membangun kompetensi penilai yang berkiblat ke American Society of Appraisers (ASA). Tentu pilihan itu sudah melalui kajian mendalam, pilihan terbaik di bandingkan dengan praktik penilaian di negara Inggris. ASA dipilih karena lebih mudah dipahami dan dipraktikan di lapangan.

Berbagai pendidikan untuk meningkatkan kompetensi penilai di Indonesia, saat itu, dilakukan kerjasama dengan ASA. Bahkan penilai Indonesia sudah ada yang bersertifikat dari ASA. “Saya termasuk yang ambil sertifikasi dari ASA,” kenang Rasoeli Moeloek Alumnus S2 Arsitektur dan Desain, di Cornell University, Amerika Serikat 1965.

Diskusi dengan pendiri MAPPI berlangsung penuh akrab, bagaikan anak yang baru ketemu orang tuanya, yang terpisah puluhan tahun lalu. Itulah gambaran pertemuan Rasoeli Moeloek dengan Balon DPN Paket SEPAKAT, yang mewakili generasi penerus profesi, banyak cerita yang tersampaikan.

Setiawan, dalam pertemuan itu banyak memberikan cerita dan gambaran akan perkembangan profesi penilai, yang dulunya peran terbatas, sekarang lebih luas pekerjaannya. Dari belum memiliki standar hingga MAPPI memiliki standar lengkap (KEPI dan SPI). Bahkan profesi penilai juga sudah dilengkapi dengan pendidikan Designasi dan Ujian Sertifkasi yang dilakukan Komite Pendidikan dan Sertifikasi MAPPI. Termasuk pendidikan penilai diluar MAPPI, sudah ada pendidikan Master Penilaian seperti yang diselenggaran Universitas Gadjah Mada, Universitas Tarumanegara, Universitas Sumatera Utara, dan lainnya. di tingkat DIV juga sudah mulai banyak pendidikan penilaian di lakukan.

Tidak hanya itu, untuk menjaga kompetensi secara berkelanjutan juga profesi penilai diwajibkan memenuhi CPD poin oleh regulator profesi. “Profesi penilai di bawah MAPPI sudah memiliki tools lengkap mulai pendidikan dan sertifikasi yang diakui regulator,” terang Setiawan.

Namun sayang, Setiawan menjelaskan profesi penilai belum memiliki regulasi setingkat UU. Profesi yang memiliki kontribusi besar mendorong pertumbuhan ekonomi, namun dalam menjalani profesi berada diambang risiko. Itu karena database pasar properti di Indonesia belum menjadi komitmen bersama. Notaris belum mampu mencatat nilai transaksi jual beli properti secara benar. Masalah utama, Setiawan menjelaskan penilaian yang dipersoalkan data pembanding. “Hampir 99 % terkait data pembanding yang muncul di penilaian,” terang Setiawan.

Sharing dengan pendiri MAPPI, Setiawan melanjutkan bahwa penilaian banyak terkait dengan hukum. Seperti penilaian lelang, banyak yang kurang memahami masuk ke properti orang tanpa ijin. Padahal objek yang dinilai itu sudah masuk lelang, namun pemilik objek tidak setuju. Dianggap masuk properti orang tanpa ijin. “kondisi seperti itu harus dipahami penilai dan nantinya juga dimasukan ke pendidikan,” terang Setiawan memberikan gambaran akan profesi ini pada Rasoeli Moeloek.

Terkait persoalan yang dihadapi di profesi yang pernah dibesarkan, Rasoeli Moeloek turut urun rembuk. Untuk menjalani profesi penilai, Moeloek menyarankan menjalani praktik penilaian harus dilakukan penuh dengan kejujuran. Selain itu, Moeloek juga turut memberikan dorongan munculnya UU profesi ini. Di banding profesi lain seperti Arsitek, sejatinya UU profesi penilai lebih penting.

Profesi penilai mengeluarkan nilai, yang memiliki pengaruh besar terhadap nasib para pihak, bisa menguntungkan atau malah merugikan, pihak yang terkait dengan penilaian maupun keuangan negara. Untuk itu penilai harus selalu hati-hati dalam menjalankan praktik penilaian. “Disamping kejujuran dan akan sehat (common sense) yang harus dilakukan profesi ini,” terang Rasoeli Moeloek. Lebih lanjut, Dia menambahkan menjalani profesi dilakukan dengan kejujuran, berpengetahuan luas, menggunakan akal sehat, dan harus selalu menyadari apa yang bakal terjadi terkait hasil penilaian di masa mendatang.

Lepas dari itu, Rasoeli Moeloek juga memberikan saran untuk membesarkan bisnis penilaian, pelaku profesi ini harus melakukan branding perusahaan penilaian (KJPP). Dia memberikan ilustrasi sebuah perusahaan Arsitek, dengan brand besar mampu meraup bisnis besar, lantaran kualitas arsiteknya dijamin. Begitu juga apa yang harus dilakukan di profesi penilai, branding KJPP menjadi yang utama dilakukan untuk meraih bisnis penilaian lebih besar lagi. “Selain pentingnya membangun kemampuan teknis, brand KJPP perlu diperkuat,” terangnya.

Realisasi Program Kerja SEPAKAT

Setelah mendapat arahan, sumbang saran, pencerahan secara filosofi praktik penilaian, dalam silaturahmi itu Balon DPN Paket SEPAKAT disinggung program kerjanya membesarkan MAPPI. Apakah realisasi program kerjanya bisa diselesaikan satu periode kepemimpinan atau lebih. Itu pertanyaan yang dilontarkan Rasoeli Moeloek pada Balon DPN Paket SEPAKAT, yang maju pada pemilihan di pesta demokrasi 19 September 2020 mndatang.

Terkait dengan itu, Setiawan menjelaskan Paket SEPAKAT mengusung tiga pilar konstruksi program kerja yang ditawarkan untuk menngembangkan MAPPI ke depan. Pilar-1, perlindungan, keamanan dan kepastian hukum. Pilar-2, pembangunan profesionalisme penilai maju, berintegritas dan kompeten. Dan Pilar-3, menciptakan lingkungan profesi yang bermanfaat, sejahtera dan berkesinambungan. “Tiga pilar konstruksi program kerja dalam empat tahun bisa diwujudkan,” terang Setiawan. Lebih lanjut, dia menambahkan juga akan membentuk karater penilai, yang selalu waspada sebelum mengeluarkan hasil penilaian. Termasuk melakukan kaji risiko apa saja yang bakal muncul terkait hasil penilaian.

Apa yang disampaikan Setiawan mendapat perhatian dari Rasolei Moeloek. Diskusi dua arah yang semakin menarik membawa pada perubahan MAPPI yang egaliter, semangat merangkul semua di semua level kepentingan anggota. “Dengan terpilih menjadi DPN MAPPI, bisa men-drive secara langsung program kerja yang ditawarkan,” terang Setiawan.

Atas majunya Balon DPN Paket Sepakat, pada pesta demokrasi 19 September 2020 mendatang, Rasoeli Moeloek memberikan restu. Dia cukup bangga telah berkesempatan dikunjungi dan melakukan diskusi dengan Balon DPN Paket SEPAKAT yang sangat enerjik, berjuang untuk kemajuan lewat jalan yang hak dan jujur. “Saya merasa beruntung mendapat pengetahauan-pengetahuan baru dalam bidang dan profesi yang dulu yang perjuangkan,” terang Rasoeli Moelek.

Harapannya terhadap profesi ini mampu memberikan kontribusi lebih besar pada bangsa Indonesia. Melalui praktik penilaian, profesi ini mampu menilai semua kekayaan, termasuk kekayaaan yang berada di perut bumi (sumber daya alam). Dia memberikan contoh, kekayaan perusahaan rokok yang terbilang ratusan trilyunan, sejatinya masih kalah dengan kekayaan yang dimiliki Pertamina. Namun sayang, kekayaan yang ada di perut bumi belum, yang dimiliki Pertamina belum bisa dinilai. “Itu salah satu visi saya bagaimana penilai itu bisa berkontribusi pada bangsa dan negara ini,” terang Rasoeli Moeloek yang masih aktif di perusahaan Konsultan Arsitek dan Engineering, PT Jasa Ferrie Pratama ini.

Tidak hanya itu, Rasoeli Moeloek memiliki harapan besar salah satunya agar orang Indonesia itu menjadi orang yang jujur, tidak menjadi bangsa korup. Melalui profesi ini, dia berharap pelaku praktik penilaian harus bisa memberikan contoh perilaku profesi yang menjunjung tinggi kejujuran. Salam penilai. (***/HS)

3.8 4 votes
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x