Memahami Konsep Amortisasi dan Depresiasi

by redaksi

Wartapenilai.id—Terkadang memahami perlakuan biaya penyusutan antara amortisasi dan depresiasi sedikit mengerutkan dahi. Depresiasi adalah penyusutan untuk aktiva atau aset yang memiliki benutk fisik, sedangkan amortisasi aset tak berwujud alias yang tidak memiliki bentuk secara fisik.

Aset berwujud, aset yang memiliki bentuk fisik seperti tanah, bangunan, kendaraan, furniture, mesin pabrik dan lainnya. sedangkan aset tak berwujud aset yang tidak memiliki bentuk fisik seperti goodwill, hak paten, hak cipta, merek dagang, hak sewa, dan franchise.

Untuk memiliki aset itu tentu ada biaya yang dikeluarkan. Dan biaya aset bisnis ini bisa dibebankan setiap tahun selama masa pakai aset. Amortisasi dan depresiasi, dua metode untuk menghitung nilai aset tersebut. Jumlah biaya yang dikeluarkan itu kemudian bisa sebagai pengurang jumlah pajak yang harus dibayar bisnis itu.

Dimana amortisasi, praktik menyebarkan biaya aset tidak berwujud selama masa manfaat aset. Sedangkan depresiasi juga sebagai pengeluaran aset tetap selama masa manfaatnya. Sedangkan metode lain adalah deplesi, metode perhitungan akrual yang digunakan bisnis yang mengambil sumber daya alam dari bumi seperti kayu, minyak dan mineral lainnya.

Dalam praktiknya amortisasi untuk menyebarkan biaya aset tak berwujud selama masa manfaat aset. ATB ini tidak ada bentuknya secara fisik. ATB yang dibebankan melalui amortisasi mencaku hak paten, merk dagang, perjanjian waralaba, proses kepemilikan hak cipta, biaya penerbitan obligasi untuk meningkatkan modal, biaya organisasi.

Perlakuan amortisasi, tidak seperti depresiasi, biasanya dibebankan dengan metode garis lurus, julah yang sama dibebankan setiap periode selama masa manfaat. Selain itu, aset yang dibebankan dengan metode amortisasi biasanya tidak memiliki nilai jual kembali atau nilai sisa, tidak seperti depresiasi.

Penting untuk memperhatikan konteks saat menggunakan istilah amortisasi karena istilah tersebut memiliki arti lain. Sebuah jadwal amortisasi sering digunakan untuk menghitung serangkaian pembayaran pinjaman yang terdiri dari pokok dan bunga di setiap pembayaran, seperti dalam kasus surat berharga (hipotek). Amortisasi digunakan baik dalam akuntansi dan pinjaman dengan definisi dan penggunaan yang sangat berbeda.

Sebagai ilustrasi, sebuah perusahaan mampu memperoleh hak paten atas ciptaan aplikasi. Biaya perolehannya Rp 300 juta, yang disusutkan dalamm jangka 10 tahun. Dengan begitu biaya amortisasi atas hak paten Rp 3 juta per tahunnya. Ini diperlakukan sebagai biaya pengurang atas pajak yang akan di bayar.

Sedangkan depresiasi adalah penyusutan dari pengeluaran aset tetap selama masa manfaat. Aset tetap berwujud merupakan aset fisik yang bisa disentuh yang biasa disusutkan meliputi bangunan, peralatan, perabotan kantor, kendaraan, tanah, mesin.

Aset berwujud, dimungkinkan memiliki beberapa nilai di akhir masa pakainya, penyusutan dihitung dengan mengurangkan nilai sisa aset atau nilai jual kembali dari biaya aslinya. Selisihnya disusutkan secara merata selama tahun perkiraan umur aset. Dengan kata lain, jumlah penyusutan yang dibebankan pada setiap tahun merupakan pengurang pajak bagi perusahaan hingga masa manfaat aset tersebut telah berakhir.

Misalnya, gedung perkantoran dapat digunakan selama bertahun-tahun sebelum menjadi rusak dan dijual. Biaya bangunan tersebar di sepanjang perkiraan umur bangunan, dengan sebagian biaya dibebankan pada setiap tahun pembukuan.

Penyusutan beberapa aset tetap dapat dilakukan dengan basis yang dipercepat, yang berarti sebagian besar nilai aset dibebankan pada tahun-tahun awal masa pakai aset. Misalnya, kendaraan biasanya disusutkan dengan dasar dipercepat.

Dalam mengitung depresiasi harus diketahui harga perolehan, taksiran umur ekonomis dan taksiran nilai residu. Untuk menghitung depresiasi harga perolehan dikurangi nilai residu lalu dibagi dengan taksiran umur ekonomis.

Sementara untuk deplesi, cara lain untuk menetapkan biaya aset bisnis. Ini mengacu pada alokasi biaya sumber daya alam dari waktu ke waktu. Misalnya, sumur minyak memiliki masa pakai yang terbatas sebelum semua minyak dipompa keluar. Oleh karena itu, biaya penyiapan sumur minyak tersebar selama perkiraan umur sumur.

Dua bentuk dasar tunjangan deplesi adalah deplesi persentase dan deplesi biaya. Metode persentase deplesi memungkinkan bisnis untuk menetapkan persentase deplesi tetap pada pendapatan kotor yang diterima dari penggalian sumber daya alam. Metode deplesi biaya memperhitungkan dasar properti, total cadangan yang dapat dipulihkan, dan jumlah unit yang terjual.

Dengan penyusutan, amortisasi, dan deplesi, ketiga metode tersebut adalah biaya non tunai tanpa kas yang dibelanjakan pada tahun-tahun pembebanannya. (***/Arief M)

0 0 votes
Article Rating
0
FacebookTwitterPinterestLinkedinWhatsappTelegramLINEEmail

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
  1. https://palembang-pos.com/
  2. https://dongengkopi.id/
  3. https://jabarqr.id/
  4. https://wartapenilai.id/
  5. https://isrymedia.id/
  6. https://onemoreindonesia.id/
  7. https://yoyic.id/
  8. https://beritaatpm.id/
  9. https://www.centre-luxembourg.com/
  10. https://jaknaker.id/