Menghitung nilai aset takberwujud lebih sulit dibanding aset berwujud. Tidak memiliki bentuk fisik, namun sangat berharga dan menjadi penting bagi keberhasilan atau kegagalan sebuah perusahaan dimas mendatang. Menilai aset takberwujud butuh penilai yang profesional.
Wartapenilai.id—Nilai perusahaan telah bergeser secara real, dari aset berwujud menjadi aset takberwujud seperti modal intelektual. Aset yang tak terlihat ini menjadi pendorong utama dari nilai pemegang saham pada ekonomi pengetahuan. Namun aturan akuntansi tidak mengakui perubahan pada penilaian perusahaan. Pernyataan yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum, belum mampu mengakui dan mencatat aset ini secara real. Terlihat masih gelap, investor harus mengandalkan tebakan buah manggis untuk menilai keakuratan nilai perusahaan.
Meskipun persentase perusahaan dari aset takberwujud telah meningkat, aturan akuntansi belum sejalan. Contoh, upaya R&D perusahaan farmasi menciptakan obat baru dan lolos uji klinis, nilai pengembangan seperti itu tidak ditemukan pada laporan keuangan. Itu tidak muncul, sampai benar-benar terjadi penjualan, yang mungkin beberapa tahun ke depan baru diakui.
Dampaknya yang serius antara apa yang terjadi di pasar modal dan apa yang tercermin oleh sistem akuntansi. Nilai akuntansi didasarkan pada biaya historis peralatan dan inventaris, sedangkan nilai pasar berasal dari ekspektasi tentang arus kas di masa depan perusahaan, yang sebagian besar berasal dari hal-hal takberwujud seperti upaya R&D, paten, dan “pengetahuan” tenaga kerja yang baik.
Sebagaimana diketahui, prinsip akuntansi mensyaratkan aset takberwujud seperti bentuk kekayaan intelektual dicatat di laporan keuangan sebesar biaya yang dibebankan. Namun, terkadang kekayaan intelektual yang dikembangkan secara internal seperti rahasia dagang atau ide kemungkinan besar tidak dicatat di neraca, tidak memiliki biaya terkait langsung atau nilai yang jelas.
Padahal beberapa jenis kekayaan intelektual (intellectual property) dianggap sebagai aset modal dan bisa dicatatkan pada neraca perusahaan sebagai aset takberwujud. Kekayaan intelektual, istilah yang cukup luas dan bermacam-macam bentuknya. Ini mewakili aset non fisik, seperti hak paten, merek dagang, hak cipta, rahasia dagang, pengakuan merek, daftar pelanggan, teknologi hak milik, hingga ide unik lainnya.
Beberapa aset takberwujud yang dicatat di laporan keuangan perusahaan, nilai pasarnya kerap sulit ditentukan. Karena aset ini tidak memiliki bentuk fisik dan tidak mudah dikonversi menjadi uang tunai, menghitung nilainya merupakan tantangan tersediri. Namun, ada kalanya menghitung nilai aset takberwujud menjadi penting. Saat pemilik ingin menjual perusahaannya, dapat menyewa penilai bisnis yang secara spesialis kerap melakukan penialaian aset taberwujud.
Paten, merek dagang, dan hak cipta umumnya memiliki biaya yang terkait dan biasanya dikapitalisasi sebagai aset pada neraca. Ini harus diamortisasi selama masa manfaat aset. Ketika kekayaan intelektual dibeli dari bisnis pihak lain, dicatat pada neraca dengan biaya dan diamortisasi selama sisa masa manfaat aset.
Standar akuntansi mengharuskan kekayaan intelektual dicatat secara terpisah di neraca dari goodwill, yang merupakan jenis lain dari aset takberwujud.
Lalu bagaimana menilai properti intelektual? Standar akuntansi menentukan biaya, digunakan untuk mencatat kekayaan intelektual dalam laporan keuangan perusahaan, harga pasar realistis dari bentuk tertentu kekayaan intelektual sulit ditentukan. Seringkali, seorang pakar industri harus melakukan studi penilaian mendalam untuk menentukan harga pasar wajar untuk kekayaan intelektual ketika satu perusahaan mempertimbangkan untuk membeli properti semacam itu dari perusahaan atau pihak lain.
Salah satu metode untuk menghitung aset takberwujud adalah calculated intangible value (CIV). Metode ini menilai aset takberwujud perusahaan, penghitungan ini berupaya mengalokasikan nilai tetap ke aset takberwujud yang tidak akan berubah sesuai dengan nilai pasar perusahaan. Metode ini mempertimbangkan faktor-faktor seperti pendapatan sebelum pajak perusahaan, pengembalian rata-rata perusahaan atas aset berwujud, dan pengembalian rata-rata industri atas aset berwujud.
Sering, aset takberwujud perusahaan dinilai dengan mengurangi nilai buku perusahaan dari nilai pasar. Namun, metode ini ada yang mendebat dan mereka berpendapat karena nilai pasar terus berubah, nilai aset takberwujud juga berubah, menjadikannya ukuran yang lebih rendah.
Di sisi lain, nilai takberwujud yang dihitung mempertimbangkan faktor-faktor tambahan, seperti penghasilan sebelum pajak perusahaan, pengembalian rata-rata perusahaan atas aset berwujud, dan pengembalian rata-rata industri atas aset berwujud.
Langkah mengkalkulasi kekayaan intelektual, menghitung rata-rata penghasilan sebelum pajak selama tiga tahun terakhir. Menentukan rata-rata aset berwujud akhir tahun selama tiga tahun terkahir. Menghitung laba atas aset perusahaan (ROA). Lalu hitung ROA rata-rata industry tiga tahun terakhir. Hitung kellebihan ROA dengan mengalikan ROA rata-rata industri dengan aset berujud selama tiga tahun terkahir. Baru di kurangi kelebihan pengembalian dari pengasilan sebelum pajak. Lalu hitung tarif pajak perusahaan rata-rata tiga tahun dan kalikan dengan pengembalian berlebih. Kurangi hasil dari kelebihan pengembalian. Dan hitung nilai bersih (NPV) dari pengembalian kelebihan setelah pajak. Gunakan biaya modal perusahaan sebagai tingkat diskonto.
Terlihat memang jauh lebih mudah menghitung nilai aset berwujud daripada aset takberwujud. Aset berwujud, seperti inventaris produk, bangunan, tanah, dan peralatan, terlihat dan mudah dipahami. Aset tak erwujud lebih sulit untuk dinilai, perusahaan dapat memilih untuk menyewa penilai atau penilai bisnis pihak ketiga untuk melakukan tugas rumit mengidentifikasi aset unik perusahaan dan memberikan nilai pada aset tersebut. Ketika sebuah perusahaan dijual, proses ini menjadi lebih penting karena pertanyaan tentang nilai aset dapat menyebabkan perselisihan antara pembeli dan penjual.
Meskipun kesulitan penilaian yang ditimbulkan oleh aset takberwujud, aset ini dapat memainkan peran besar dalam kesuksesan perusahaan. Apple Inc., misalnya, telah menghabiskan banyak uang dan waktu untuk mengembangkan teknologi dan pengakuan mereknya, yang dapat dilihat dalam desain produk, logo, kemasan, dan slogan, yang semuanya berdampak pada kemampuan Apple untuk menghasilkan keuntungan dan penjualan.
Aset takberwujud tidak memiliki nilai fisik yang jelas dari pabrik atau peralatan, yang dianggap tidak signifikan. Bahkan, aset itu dapat terbukti sangat berharga bagi perusahaan dan dapat menjadi penting untuk keberhasilan atau kegagalan jangka panjangnya. (***)