Smart Valuation, Sudah Diterapkan Di Indonesia

by redaksi

Smart valuation, pelan dan pasti, sudah diterapkan di praktik penilai di Indonesia. Penilai muda, yang tergabung dalam Sahabat SEPAKAT telah menerapkan praktik penilaian berbasis aplikasi guna mempermudah pekerjaan penilaian di KJPP-nya.

Wartapenilai.id—Itu terungkap di Warung Kopi Sepakat (WKS-S4), yang digelar Timses Balon DPN SEPAKAT, bertema Penilaian Dalam Dunia Digital, “Pengenalan Mambangun Sistem IT dan Database Properti dengan Biaya Terjangkau”. WKS-S4 itu digelar via Zoom, yang diikuti 196 peserta, mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WIB, 28 Agustus 2020.

Dalam diskusi WKS-S4, Penilai muda yang tergabung dalam Sahabat SEPAKAT, ujuk kebolehan memamerkan perannya memajukan praktik penilaian berbasis digital. Diskusi WKS-S4 menghadirkan Agung Laksana (Rekan KJPP Pung’s & Rekan), Taufan Satria Nusantara (Rekan KJPP WNR), Muhammad Joni (Management Representatif KJPP TNR), Firmansyah (Managing Partner KJPP Firmansyah & Rekan), dan Putri Sekarningrum (Partner KJPP SPR).

Abdullah Fitriantoro, Balon DPN SEPAKAT saat nibrung di WKS-S4 mengungkapkan di setiap KJPP sudah harus mulai menerapkan praktik penilaian berbasis digital. Selain membuat pekerjaan mudah, efisien, penilaian digital mampu menghemat banyak anggaran. Meskipun di awal KJPP harus investasi sistem IT yang bisa di customize untuk mendukung praktik penilaian di KJPP-nya.

Kak Toyo, panggilan akrabnya menegaskan praktik penilaian sudah tidak bisa dilakukan secara manual lagi. Bila laporan yang dihasilkan puluhan ribu setiap tahunnya, sangat memakan waktu dan tenaga. Memasuki Industri 4.0 semua pekerjaan penilai harus terdata dengan baik dan in-line dengan Standar Pengendalian Mutu (SPM) yang wajib di penuhi. “Untuk membuat sistem yang customize, sesuai dengan kebutuhan kantor KJPP, tidak mudah dan mahal,” terangnya.

Sebagai penilai senior, Toyo juga baru menyadari bahwa praktik penilaian bisa menggunakan aplikasi yang tersedia di google. Praktik penilaian dengan memanfaatkan aplikasi di google, menjadi simpel, mulai penawaran hingga laporan bisa diselesaikan dengan cepat. Memang penilaian seperti itu, penilai yang sudah senior agak sulit mengejar, namun penilai muda sudah banyak mempraktikan. “Saya sangat bersemangat diskusi dengan penilai muda ini, mereka sangat memahami digitalisasi yang mudah diterapkan pada praktik penilaian,” terangnya. “Satu alur proses bisnis penilaian, yang biasanya membutuhkan SDM 3 sampai 4 orang, cukup dilakukan dua orang selesai”.

Dalam diskusi WKS-S4 ini ada dua model membangun sistem dan praktik penilaian berbasis digital. Peserta yang terlibat bisa memilih mana yang sesuai, memilih yang customize atau memakai aplikasi yang disediakan di Google. Semua diulas, sebagai langkah awal pengenalan untuk di terapkan di setiap KJPP.

Memang di tengah digitalisasi, praktik penilaian mau tidak mau, isa menampilkan kinerja lebih efektif, efisien, akuntabel, dan lebih professional. Semua iu bisa dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan Teknologi Informasi (TI), yang bisa membantu praktik penilaian dilakukaan menjadi lebih mudah, efektif dan efisien, namun tetap menghasilkan laporan yang terjamin mutunya.

Mohammad Joni, Manajemen Representatif KJPP TNR dalam diskusi di WKS-S4 mengungkapkan ditempatnya bekerja dalam satu tahun terdapat 15 ribu sampai 16 ribu laporan yang dihasilkan. Bila dilakukan secara manual, sangat memakan energi, waktu dan biaya yang sangat mahal. Belum lagi terjadinya human erorr pun sangat tinggi.

Lebih lanjut, Joni menjelaskan untuk meringkas bisnis proses di KJPP TNR, membagi dalam 15 aktivitas untuk membangun sistem yang terintegrasi dengan Standar Pengendalian Mutu (SPM) yang wajib diikuti. SPM ini menjadi dasar membangun manajemen sistem administrasi di KJPP-nya.

Joni menambahkan basicnya SPM yang di kembangkan menjadi 15 aktivitas. Mulai penawaran, penugasan, reporting, pengukuran jam kerja staf, progress pekerjaan, kinerja marketing, hingga e-gov (laporan penilaian yang harus disampaikan ke PPPK). “Sistem bisnis proses yang in-line dengan SPM dibangun dari awal untuk memenuhi kebutuhan aktivitas KJPP TNR. Sistem itu dibangun programer internal dan bantuan programmer ekternal, dan memang membutuhkan pendanaan lumayan besar,” terang Joni.

Dengan sistem itu, penilai bisa melakukan pekerjaannya dimana saja, kinerjanya terukur, data pembanding tersedia, bila ditemukan data baru tinggal dilakukan update ke sistem itu. Penilaian dilakukan melalui smartphone, tinggal foto objek penilaian, input data, termasuk data pembanding, yang dikirim ke kantor, dan penilai di kantor menyelesaikan pekerjaan penilaian, lalu dilakukan review oleh seniornya, dan keluar menjadi laporan penilaian. Semua bisa dikerjakan mudah efektif, efisien.

Pakai Platform Googe

Lain yang dilakukan Agung Laksana, Rekan KJPP Pung’s & rekan Cabang Yogyakarta. Agung dalam WKS-S4 menceritakan untuk mempermudah bisnis proses penilaian menggunakan aplikasi yang disediakan di Google Maps atau My Maps. Google memiliki banyak aplikasi yang bisa dioptimalkan untuk tujuan penilaian. “Ini berbiaya murah, namun sekuritisnya data sangat terjamin. Platform Google dikenal aman meskipun gratis disbanding aplikasi lainnya,” jelas Agung.

Setidaknya ada lima aplikasi yang dimiliki Google bisa dimanfaat seperti My Maps, untuk melakukan manajemen data pasar dan sebarannya lebih mudah hanya menggunakan android. Semua data bisa diinput dari lapangan, lalu foto objek dan data pembanding submit. Sambil pulang ke kantor, penilai sudah bisa menyelesaikan pekerjaannya, lalu naik dilakukan review hasil penilaian.

Lebih lanjut, Agung Laksana, menegaskan mulai modul e-gov, administrasi, membuat penawaran, surat tugas, alurnya mengisi di Google Forms. Semua data di pasar bisa di petakan dengan jelas diberikan tanda, misalnya data tanah kosong diberikan warna hijau, rumah tinggal warna merah dan lainnya. Begitu semua disubmit, semua langsung tampil di email dan berupa penawaran, surat tugas, hingga laporan penilaian.

Semua dikerjakan dimana saja, Google sangat user friendly. “Menggunakan Google Forms, ada kesatuan palform, semua terintgrasi. Membuat penawaran, tinggal masukan pemberi tugas, objek penilaian, lalu keluar penawaran surat tugas dan lainnya,” terang Agung.

Aplikasi My Maps, terang Agung, sangat mobile data sekali input di My Maps yang terintegrasi dengan Google Maps di handphone penilai, penilai yang butuh data tidak harus datang ke kantor, karena semua terintegrasi, sekali masuk data, kertas kerja dan banyaknya data artibut bisa di downlaod dengan mudah. “Bila KJPP menggunakan aplikasi ini tinggal dilakukan sortir, ke depan ini bisa menjadi big data, semua diolah mendasarkan diri pada data pasar,” terang Agung.

Semua data, mulai laporan objek data pembanding, dan lainnya bisa disinkronkan dan itu tidak membuat berat operasi sistem tersebut. Untuk 2.000 laporan hasil penilaian tergolong masih kecil, cuma sebesar 200 kilobate. Platform Google Maps atau My Maps sangat membantu dan dalam aplikasinya sangat user friendly. Dari awal menerapkan belum ada kendala berarti, sangat membantu kinerja KJPP-nya. “KJPP Pung’s & Rekan Cabang Yogyakarta ini baru dua bulan memakai aplikasi ini dan banyak membantu, membuat penawaran, surat tugas report langsung jadi,” terangnya.

WKS-S4 yang membahas praktik penilaian dengan mengaplikasikan praktik penilaian digitalisasi ini baru sebatas pengenalan. Bagaimana cara  membuatnya belum di bahas secara mendalam, bagaimana membangun data dengan exxel yang teringrasi, tentu akan di bahas di WKS berikutnya. “Ini baru sesi pengenalan saja, dan nanti akan di perdalam dengan pelatihan yang mendalam,” terang Taufan S Nusantara.

Taufan menambahkan WKS-S4 ini memberikan gambaran platform digital yang bisa dimanfaatkan untuk praktik penilaian, ada yang membangun dari awal sistem yang customize sesuai kebutuhan KJPP yang jelas mahal. Atau KJPP bisa menggunakan aplikasi yang disediakan Google secara gratis, yang secara kinerja lebih mudah diintegrasikan. Semua KJPP membutuhkan dukungan database properti yang saling terintegrasi dan untuk mewujudkan bukan perkara mudah. “Aplikasi Google menyediakan pilihan, dan membuat KJPP tidak harus berinvestasi besar untuk membangun sistem yang mendukung praktik penilaian secara digital,” jeasl Taufan. (***/HS)

5 2 votes
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x