Sulitnya Lulus, Terkesan Ada Sesuatu Yang Janggal

by redaksi

Di salah satu whatsapp Group PDP-2, peserta sangat antusias menunggu diberlakukan kurikulum pendidikan baru di MAPPI. Bak angin segar, mereka menilai pemberlakukan kurikulum bisa mengakhiri kesulitannya lolos di setiap tahapan pendidikan dan sertifikasi penilai di MAPPI. Mereka juga berharap perbaikan sistem pendidikan dan ujian, melalui kurikulum bisa mencerminkan kualitas calon penilai, tanpa rekayasa.

Wartapenilai.id—Sepertinya penyelenggaran pendidikan, minim melakukan review atas pelaksanaan jenjang pendidikan yang dilakukan, apakah kualitasnya benar-benar bisa diharapkan untuk meningkatkan kualitas keprofesian. Atau hanya melalui jenjang pendidikan yang semakin panjang dan sulit untuk lulus itu, sekedar sebagai sapi perahan untuk memasukan pundi-pundi lebih besar buat organisasi?

Adalah anggota di Group WA PDP-2, berinisial RG, yang melontarkan pertanyaan itu. Dia sudah berulang kali mengikuti jenjang pendidikan di PDP-2 belum juga lulus. Jenjang pendidikan profesi penilai di MAPPI tergolong panjang dan sulit lulusnya.

Anehnya Pembina dan pengawas dari kementerian terkait, tidak pernah melakukan intervensi terkait praktik pendidikan profesi yang dibinanya. Mereka kurang memahami atau memang tutup mata bahwa keberadaan profesi sebagai pemberi kesempatan kerja dan penyerap tanaga kerja terlatih untuk semua anak bangsa.

Lebih lanjut, RG menjelaskan sulitnya lulus jenjang pendidikan itu disinyalir sebagai unsur yang disengaja untuk membuat kelulusan di setiap jenjang pendidikan menjadi sulit, agar peserta terus terus mengikuti ujian ulang (HER).

“Setiap HER pasti membayar, di PDP-2 yang saya ikuti sudah habis hampir Rp 7 jutaan, dan saya belum pula lulus alias mengulang kembali pendidikan jenjang itu. Itu membuat saya menjadi males melanjutkan jenjang pendidikan profesi ini,” terang RG salah satu penilai dari internal bank.

RG bersama anggota group WA PDP-2 berani buka suara lantaran telah membaca artikel “Menunggu Janji Kurikulum Baru Di Terapkan”. Selain RG juga penilai yang masih nyantol di PDP-2 lainnya juga banyak berharap dengan bakal diterapkan kurikulum baru tersebut, bisa merubah keadaannya, bisa meraih jenjang pendidikan dan sertifikasi lanjutannya.

RG dan peserta PDP-2 lainnya, memang masih banyak berharap terhadap pendidikan profesi, yang bisa diikuti hanya di MAPPI, bisa mengantarkannya mencapai puncak tangga menjalani profesi penilai. Namun, kenyataannya mereka susah lulus, salahnyanya dimana tidak pernah tahu. “Karena soal dan hasil jawaban tidak pernah diketahui, hanya keluar nilai huruf dan lulus tidak lulus saja. Jika soal dan jawaban, hasilnya dikembalikan ke peserta bisa menjadi koreksi salah dari jawabannya dimana,” tambah RG.

RG juga menceritkan komen dari teman peserta PDP-2 lainnya banyak yang mengikuti PDP-2 hingga lima kali belum juga lulus. “kadang soalnya yang susah dimengerti, yang diajarkan kurang dari 50 persen yang keluar. Seperti KEPI dan SPI kan texk book, masa harus mengulang berkali-kali, sebagai aturan atau panduan menjalankan pekerjaan penilaian lulusnya sulit. Itu kan aturan yang harus ditaati dan itu kebangetan,” tegasnya. Disinilah RG mempertanyakan sulitnya lulus jenjang pendidikan di MAPPI, meskipun berulang kali ikuti HER. Salah dimana, apa cara ngajarnya yang kurang tepat, yang diajarkan dan keluar ujian berbeda.

Lebih lanjut, RG meminta pengurus MAPPI yang dipercaya benar-benar memegang amanah, bahwa keberadaan profesi ini menjadi penyedia lapangan kerja bagi seluruh anak bangsa. Dia berharap MAPPI mampu menyediakan sistem jenjang pendidikan dan ujian sertifikasi yang transparan, peserta ujian harus mengetahui ketidaklulusannya dimana.

Selain RG, penilai lain dalam group itu juga banyak yang komentar “Nah makannya generasi muda jarang ada yang mau ikut pendidikan di MAPPI karena sulit lulus nya, bahkan sampai her 3 kali belum juga lulus, salah dimana tidak pernah diberikan bimbingan”. Ada pula yang suddah sampai dua tahun untuk satu jenjang belum juga kelar.

Yang miris, lanjut peserta yang nyantol di PDP-2 itu, bekerja sebagai tenaga inspeksi/survey berharap bisa lulus paling tidak untuk PDP1. Namun, kenyataannya sulitnya bukan main, dan ikut pendidikan lagi ternyata masih tidak lulus pula. “Saya memilih resign dari profesi ini,” terangnya. “Mencari peluang potensi lain”.

Apa yang disampaikan RG, juga diakui teman penilai lainnya bahwa ketidaklulusannya di jenjang pendidikan itu, salahnya di mana saja dia tidak tahu, karena memang tidak dikasih tahu. “Sudah lelah nih bekerja di level afiliasi, mau upgrade ke P aja susah bener. Semoga Pengurus MAPPI betul-betul mau memikirkan orang yang bekerja di profesi penilai lebih dari 3 tahun. Lulus PDP saja belum, hahahah…jadi curhat akhirnya,” terangnya.

 

AADC MAPPI

Memang, sejatinya, MAPPI telah menyusun kurikulum untuk menjawab keresahan tidak menentukan angka kelulusan pendidikan itu. Silabus dan kurikulum yang disusun Tim penysusun telah diserahkan ke MAPPI akhir tahun 2019 lalu. Namun, hingga kini belum juga diaplikasikan, ada apa dengan curriculum (AADC) MAPPI?

Salah satu peserta PDP-2, yang juga enggan disebut namanya, mengetahui bahwa itu seperti serial sinetron “Ada Apa Dengan Cinta” (AADC). Dia melihat ada aktor sutradara yang dikejar jam tayang, serial terus bertambah, Namun penonton masih terus terbuai dengan serial televisi yang ditontonnya, sekalipun dalam kenyataannya bisa masuk angin.

Lalu dia bandingkan dengan AADC Kurikulum MAPPI. Dimana biaya pembuatan kurikulum itu jelas menghabiskan pembiayaan besar dari organisasi, namun dia mengibaratkan filmnya belum bisa tayang.

Itu, terangnya, mirip dengan lirik lagu ….Entah apa yang merasuki mu.., Hingga kau tega menunda-nunda, yang tulus menunggu-nunggu…. Ini lirik sudah dilakukan modifikasi hanya untuk menggambaran keadaan, tidak diberlakukan kurikulum yang sudah menghabiskan anggaran besar itu, terangnya.

Dia berharap, sutradara tidak khawatir AADC MAPPI, bisa merubah tata ruang kavling komersial campuran menjadi zona pelayanan umum dan sosial. “Akhirnya, mari kita tetap sama-sama mendoakan semoga DPN bisa menuruti kata hati sendiri dengan bijaksana, bukan kata hati sutradara yang masih kejar jam tayang tapi tak ingin sinetron berakhir,” jelasnya.

 

Aspirasi Peserta PDP-2

Selain itu, ada penilai yang berinisial IRS menjelaskan kalau buat dirinya, profesi penilai adalah passionnya, selain bisa asah kampuan dan bisa belajar di pendidikan yang diadakan MAPPI, dia bekerja juga untuk keluarga, ada anak istri selalu punya berharapan yang besar. “Tapi semua bisa pupus kalau berkali kali ikut ternyata tidak lulus juga, antara tidak bakat atau tidak hoki, tidak mengerti juga di mana nya. Da ah itu saja mau nonton banjir jadetabek dulu,” terang IRS.

Penilai lain yang tergabung dalam Group itu tidak bisa disebutkan inisialnya banyak yang turut berkomentar semoga aspirasi ini ada yang sama di teman-teman ini bisa sebagai pertimbangan untuk merubah sistem pendidikan penilai di MAPPI.

Tidak sebatas itu, ada pula yang mengajak demo ke MAPPI agar bisa didengar aspirasinya untuk perbaikan jenjang pendidikan dan sertifikasi di MAPPI. Sebab, mereka sangat merasakan dan kena dampak ketidakadilan dan parahnya sistem pendidikan profesi penilai. Ada pula yang mengingatkan takut nanti kalau demo ditandai bisa-bisa dikeluarkan dari kasus bikin makar. “Kayak sekarang gitu,” jelasnya.

Komentar lainnya seperti yang sudah tiga tahun tidak lulus-lulus seharusnya mendapat kompensasi. Lima kali ikut PDP-2 telur belum juga pecah. Kuliah saja tidak sampai sesulit itu, Jika sekali lagi ikut pendidikan tidak lulus mendingan resign dari profesi. Untuk yang sudah berumur menjadi generasi profesi tertua karena tidak lulus. Ini sama dengan menghambat kesempatan seseorang bila Permenkeu diterapkan harus keluar karena mereka pasti tidak bisa bekerja di profesi ini. mudah-mudahan ada solusi dari MAPPI.

Meski kondisi yang diidamkan belum tercapai, peserta PDP-2 yang tergabung dalam group itu tetap semangat, namun bila peraturannya tidak mendukung akhrinya membuat mereka kendor juga. Ada pula yang mendoakan semoga rekan sejawatnya semua dalam group itu selalu diberikan kesehatan, sabar dan selalu istifar, meskipun masih dirundung harapan yang jauh.

Apa yang disuarakan meraka, bisa menjadi semangat pengurus untuk merubah kondisi yang memang sangat merugikannya. Semoga di tahun ini ada perubahan pendidikan lebih baik dan banyak yang lulus. (***/Hari Suharto)

 

5 2 votes
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x