Kali Ini, Dengarkan Saran Penilai Senior

by redaksi

Para penilai senior sejatinya prehatin melihat kondisi yang terjadi di Organisasi MAPPI saat ini. Di usainya yang ke 39 tahun, seharusnya MAPPI sudah lebih matang berorganisasi, memberikan kontribusi pada bangsa, mampu menyerap aspirasi anggota dengan tepat.

Wartapenilai.id—Perkembangan Organisasi Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI), tak lepas dari pantauan para senior penilai. Meski jauh dari gelanggang, mereka terus menyimak perkembangan profesi dan MAPPI yang dia lahirkan.

Mereka melihat ada sesuatu yang salah, pengurus MAPPI kurang pandai menyerap aspirasi anggotanya dalam mengelola organisasi ini. Juga kurang mau menyerap nasehat dan petuah para senior dalam mejalankan roda organisasi ini. Padahal keberadaan profesi penilai sangat penting, namun belum optimal berkontribusi untuk bangsa dan negara.

Mantan Sekjen MAPPI tahun 1981, Doli D. Siregar menghimbau seluruh Penilai Indonesia bisa bekerja sama bahu membahu untuk menopang keberadaan MAPPI. Menjaga marwah MAPPI mutlak dilakukan semua anggota tanpa kecuali. Semua itu untuk menjaga agar kepercayaan yang diberikan masyarakat pada profesi ini tetap terjaga. “Jangan melakukan manuver dengan niat dan tindakan yang akan membuat MAPPI rentan. Apalagi tindakan yang bisa memalukan organisasi ini dari dalam yang akan membuat hilannya marwah profesi,” terang Doli D. Siregar di Lereng Gunung Salak, Bogor.

Seperti pro kontra di tengah anggota terkait munas konvensional dan virtual, ya serahkan ke anggota apa yang dimau anggota. Pengurus harus mampu menangkap aspirasi anggota dengan tepat, tanpa rekayasa. Doli menyarankan Pengurus MAPPI sekarang harus menyadari sepenuhnya bahwa untuk saat ini dan ke depan keberadaan profesi ini milik generasi penerus profesi ini (penilai muda). “Sudah waktunya generasi muda penilai mendapat quota lebih besar dalam kepengurusan dengan tetap mendapat bimbingan para senior,” terangnya.

Doli D. Siregar, tahun 1981 mendapampingi Rasoeli Moelok sebagai Ketua Umum MAPPI. Saat itu, anggota MAPPI berjumlah 20 penilai yang bekerja di perusahaan penilai. Meski terbilang sedikit penilai yang menjadi anggota, Doli bersama Rasoeli Moeloek tetap semangat mengemban amanah anggota untuk mngurus dan membesarkan MAPPI.

Berdirinya MAPPI, sejatinya digagas oleh Pengurus Gabungan Perusahaan Penilai Indonesia (GAPPI), untuk mewadahi para penilai yang bekerja di Perseroan Terbatas (PT). Tahun1981, melalui penilai perwakilan PT, berkumpul sekitar 14 perwakilan penilai untuk mendeklarasikan berdirinya MAPPI di Jalan Sindoro No. 6 Area Guntur, Jakarta Selatan (Rumah Rasoeli Moeloek).

Duet Rasoeli Moeloek dengan Doli D. Siregar ini mampu menumbuhkan minat penilai yang bekerja di PT untuk menjadi anggota MAPPI.

Doli D. Siregar sejak awal berkiprah di MAPPI sangat nyakin bahwa profesi penilai di Indonesia bisa berkembang bila MAPPI memiliki anggota anggota penilai yang menguasasi ilmu penilaian yang mumpuni. Sebab. Keberadaan profesi ini sangat strategis untuk bisa berkontribusi terhadap perekonomian, mengelola aset bangsa demi kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Wawasan kebangsaan, terang Doli bagi profesi penilai layak harus dimiliki. Tekad dan inovasi itu dimiliki semua penilai di Indonesia. Negara Indonesia kaya dengan aset yang begitu besar dan potensi yang menjamin kemakmuran generasi mendatang. “Disinilah Penilai Indonesia harus lebih keras berperan. Jangan menjadi penilai hanya sekedar mencari uang tanpa terlibat membangun bangsa,” terangnya.

Doli D Siregar memberikan contoh banyak aset negara berpindah tangan, yang dikuasai konglomerat. Aset Gelora Bung Karno, misalnya banyak berpindah tangan menjadi hotel mulia, Sultan dan lainnya pindah ke tangan konglomerat. Doli menegaskan ada peran peran penilai untuk menentukan nilai aset yang berpindah. Ini menurutnya bukan hanya dosa penilai tetapi keserakahan pejabat pula yang bisa membuat aset negara itu berpindah tangan. “Itu juga dosa bersama dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan penilai di Indonesia,” terangnya.

Doli sedikit menyindir keberadaan market value yang diatur di SPI, sejatinya sulit diterapkan di Indonesia. Pasalnya, market value yang ada, terbentuk dari campur tangan konglomerat properti dan penilai mengakui itu sebagai nilai pasar. “Padahal di Indonesia saat ini masih ada harga Rp 30 ribu permeter,” terangnya.

Kembali ke soal profesi dan organisasi MAPPI, Doli D Siregar mengingatkan pada para pemimpin MAPPI saat ini. Pemimpin adalah cerminan dari keberadaan anggota. Pemimpin atau pengurus yang baik, adalah pemimpin yang secara tulus dan ikhlas mampu menangkap aspirasi anggota dengan tepat. “Anggota yang baik adalah anggota yang berusaha mendukung dan mewujudkannya,” terangnya.

Terkait daluwarsanya pengurus (DPN, DP, DPK), Doli D Siregar setuju dibentuk DPN transisi. DPN yang ada harus berani menyatakan mundur dan memimpin sidang untuk membentuk DPN transisi, dan itu juga mendapat dukungan dari semua calon yang ada. “Kalau itu tidak dilakukan bisa hancur semua,” terangnya.

Itu terang Doli bisa untuk mengakhiri pro kontra di tengah anggota dan menghantarkan hingga munas. Dan itu harus secepatnya di lakukan. Mau tidak mau pengurus yang ada harus mendengarkan para senior, agar perjalanan MAPPI ke depan menjadi lebih baik. Bila sumbang saran senior tidak di dengarkan akan terjadi sesuatu yang sangat gawat, terangnya. (***/HS)

5 1 vote
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x