Penilai Harus Selalu Menjaga Integritas

by redaksi

Mungkin sebagian besar penilai anggota MAPPI, hanya kenal samar-samar Razoeli Moeloek sebagai Ketua Umum Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) pertama. Bersama 15 orang anggota Gabungan Perusahaan Penilai Indonesia (GAPPI), tahun 1981 mendeklarasikan berdirinya MAPPI di rumahnya Jalan Sindoro No. 6, Area Guntur, Jakarta Selatan.

Wartapenilai.id—Hampir 40 tahun lamanya, Razoeli Moeloek, pendiri dan Ketua Umum MAPPI Pertama tidak ada kabar. Memang setelah tidak menjadi Ketua MAPPI, Moeloek panggilan akrabnya, menghabiskan waktunya berkarir sebagai CEO di perusahaan besar (High Teknologi milik konglomerat di Negeri ini), sambil menjalankan bisnis konsultan arsitektur dan engineering.

Razoeli Moeloek, jebolan Arsitek Institute Teknologi Bandung (ITB) tahun 1961 dan tahun 1965 menyelesaikan S2 Arsitektur dan Desain, di Cornell University, Amerika Serikat. Sekembalinya di Indonesia tahun 1969 membuka bisnis Konsultan Arsitek dan Engineering, berbadan hukum Jasa Ferrie Pratama (PT).

Sebelum menekuni bisnis penilaian, Moeloek memang banyak menangani konsultan arsitek dan engineering di negeri ini, karyanya seperti Gedung Wisma Kosgoro di Jalan Tamrin, Gedung Duta Merlin, apartemen, dan gedung lainnya. Usahanya,  banyak berkecimpung dengan bangunan, setelah jadi properti baru menangani properti manajemen. “Penilaian erat kaitannya dengan properti manajemen, dari situ saya mulai terlibat di bisnis penilaian. Sebagai properti manejemen saya harus tahu nilai sebuah properti baru mengelolanya,” terang Razoeli Moeloek, saat didatangi  wartapenilai.id, dikediamannya Apartemen bilangan Jakarta Selatan, 25 Februari 2020.

Profesi penilai kala itu ditekuni tahun 1970 dengan mendirikan PT Penilai. Dan sepanjang menjalani bisnis penilaian, Razuli Moeloek cukup aktif dan hati-hati menjalani profesi penilai. Dia juga aktif menjadi salah satu Ketua di Gabungan Perusahaan Penilai Indonesia (GAPPI). Perusahaaan penilaian (PT Penilai) didirikan karena melihat ada peluang besar dari limpahan pekerjaan properti manajemen. “Perusahaan saya menangani properti manajemen, saya butuh properti manajemen dan penilaian, dan ternyata saat itu sudah banyak teman-teman yang menajalankan praktik penilaian,” kenangnya.

Bahkan saat pemilihan Ketua GAPPI, kala itu, Moeloek menjadi penentu terpilihnya Marwan Muchtar menjadi Ketua GAPPI. Saat itu pencalonan Ketua diikuti dua kandidat yang sama kuat, akhirnya dilakukan pemilihan putaran kedua, Moeloek memberikan kesempatan pada Marwan Muchtar (proletar) menjadi ketua dengan mengkosongkan kertas suara pemilihan. “Saya yang angkat Marwan Muchtar  dan dia yang kapabel kala itu menjadi Ketua GAPPI,” kenangnya.

Sambil mengingat masa lalu, Razoeli Moeloek menceritakan perjalanan profesi penilai kala itu. Penilaian di Indonesia bermula di bawah pengelolaan perusahaan dan berdirilah GAPPI. Namun, untuk menjalani profesi penilai yang menghasilkan opini nilai, melibatkan tanggung jawab pribadi. Jika penilai memberikan opini ada tanggung jawab pribadi bukan perusahaan.

Razoeli Moeloek, 84 tahun, sambil memberikan contoh ada barang yang digadaikan, penilai yang menilai harus bertanggung jawab terhadap nilai yang dikeluarkan. Jika barangnya dijual ternyata laku dibawah nilai yang dikeluarkan, maka penilai itu harus bertanggung jawab. “Penilai harus memberikan tanggung jawabnya, kenapa terjadi penurunan nilai saat dijual,” tambahnya.

Itu juga terjadi penilaian agunan, Moeloek sambil mengenang saat itu ada penilaian di Bank Niaga, sebuah rumah tinggal dinilai Rp 20 miliar dan cair pinjaman Rp 12 miliar. Saat debitur tidak mampu bayar, lalu agunan itu dijual bank, namun di jual Rp 10 miliar pun tidak laku. “Disitu penilai di panggil bank untuk mempertanggung jawabkan nilai yang dikeluarkan,” kenangnya. Disitulah dia baru memahami bahwa pekerjaan penilai itu penuh risiko, makanya perlu mengendepankan integritas.

Adanya tanggung jawab pribadi itu, yang dipahami anggota GAPPI, membuat peran organisasi itu pelan dan pasti mulai digantikan. Sebab, tanggung jawab sebagai penilai berada di perorangan, tidak bisa dilakukan perusahaan, mulai digagas berdirinya Masyarakat Profesi Penilai Indoensia (MAPPI). “Tepatnya tahun 1981 berdirilah MAPPI, yang dideklarasikan di Jalan Sindoro No. 6, Guntur, Jakarta Selatan (rumah saya), yang dihadiri sekitar 15 orang anggota GAPPI,” terang Moeloek mengingat-ngingat masa lalu.

Dalam deklarasi MAPPI itu, Razoeli Moeloek, oleh rapat anggota yang dihadiri 15 anggota GAPPI itu, ditunjuk secara aklamasi sebagai Ketua Umum MAPPI pertama. Kala itu, Razuli Moeloek, bersama anggota lainnya, menjalankan dua organisasi baik GAPPI dan MAPPI, termasuk menjadi anggota di kedua oragnisasi itu. “Saya sebagai direktur PT Penilai, menjadi anggota GAPPI, juga ditunjuk menjadi Ketua Umum MAPPI pertama,” terangnya.

Berawal dari situ, Moeloek mulai mengembangkan pendidikan yang dibutuhkan anggota untuk update kompetensi penilaian di Indonesia. Bahkan kursus, pendidikan dan ujian sertifikasi mulai diperkenalkan dan diikuti semua anggota penilai. “Kita pelajari penilaian dan panggil asosisasi penilai dari US untuk memberikan pembelajaran penilaian di Indonesia. Meskipun di Indonesia, sebelumnya, ada taxateur (penaksir) yang tersumpah peninggalan Belanda,” terangnya.

Tidak hanya itu, Moeloek bersama pengurus MAPPI kala itu juga banyak menggali ilmu penilaian dari Malaysia, Hong Kong, Inggris, USA hingga Australia. “Seperti Jusuf Anwar dari Kekementerian Keuangan, yang menggantikan saya menjadi Ketua Umum MAPPI, adalah peserta yang lulus kursus penilai di MAPPI pertama dan murid saya paling pintar,” kenang  Moeloek.

Senior yang pernah menekuni profesi penilai ini menambahkan di profesi penilai memiliki tanggung jawab pribadi, juga memilliki peluang besar melakukan penyelewengan. Seperti properti yang sama untuk agunan nilainya 100 miliar, tapi aset yang sama dimasukan ke kantor pajak harganya 25 miliar. Ini jomplang, aset dan barang sama, nah disini penilai dan pemilik sama sama nakal. “Makanya di PT Penilai, kala itu saya tekankan penting kejujuran (integritas) menjalani profesi ini, baru kemampuan. Percuma mampu tapi suka bohong atau nyeleweng,” terangnya. Memang dulu banyak perusahaan yang meminta penilaian untuk diatur nilai. “Itu bukan dasar kerja saya, kerja benar saja masih bisa makan. Penilai seharusnya menolak penilaian yang mengikuti keinginan klien,” Moeloek mengarahkan.

Melihat perkembangan profesi penilai saat ini yang mampu menjadi wadah berkarir yang memakmurkan anggotanya, Moeloek turut bahagia melihat perkembangan profesi penilai di bawah MAPPI. Makanya, Moeloek mewanti-wanti pelaku profesi ini selalu menjunjung kejujuran dalam menjalankan pekerjaan penilaian, selalu menjaga berintegritas. “Saya bangga melihat perkembangan penilai, yang dirintis beberapa teman dan saya perkiraakan saat itu bakal menjadi profesi yang bisa berkembang,” tambahnya.

Meski begitu tetap menjaga perilaku kehati-hatian dalam menjalankan pekerjaan penilaian. Seperti saat melakukan penilaian properti misalnya, selalu dan tetap harus memastikan objek penilai yang dikerjakan anak buah, jangan asal percaya. Sebab, di profesi penilai ini kesempatan untuk tidak jujur sangat besar, untuk cepat menjadi kaya dengan melakukan tindakan yang kurang terpuji sangat mudah. “Saya tidak mau melakukan itu dan saya pikir masih bisa hidup dengan kerja jujur, menyekolahkan tiga anak saya,” kenangnya.

Moeloek menegaskan di profesi penilai butuh orang yang jujur, baru mengembangkan ilmunya, kalau tidak jangan masuk di profesi penilai ini. Sebab, profesi penilai memberikan kemanfaatan kebanyak orang, opini nilai yang dikeluarkan mendasari keputusan penting bisa untuk pajak, jual beli, ganti rugi, jaminan bank, dan lainnya. Opini nilai yang dihasilkan menjadi sangat penting dan jangan dibuat mainan. “Saya melihanya seperti itu, profesi ini penting dibutuhkan orang, dan tidak patut untuk memainkan hidup orang lain melalui hasil penilaian. Jangan mengejar kepentingan dan keuntungan sendiri,” terangnya.

Lebih lanjut, Moeloek menambahkan seperti contoh pengadaan tanah bisa dibayangkan bila penilai memainkan nilai untuk pemilik tanah yang dibebaskan dan bagaimana nasib orang itu. Pengadaan tanah untuk kepentingan publik, harus dilakukan penuh integritas dan kehati-hatian. Makanya perlu kehatian-hatian dalam menjalankan praktik profesi sesuai standar dan etika, tanggung jawab moral penilai.

Melihat perkembangan profesi yang pernah di pimpinnya, Moeloek yang masih aktif di bisnis konsultan arsitek dan engineering ini, merasa tersanjung pesatnya peluang dan pertumbuhan profesi penilai di Indonesia. Bisnis konsultan arsiteknya yang digeluti 50 tahun lalu, dan hingga kini masih menjadi aktivitasnya dan tidak pernah akan pensiun. “Banyak pekerjaan bisnis konsultan saya, bikin rumah sakit Primer Bintaro, Rumah Sakit Mayapada dan lainnya,” jelasnya.

Razoeli Moeloek berharap terhadap profesi penilai yang telah tumbuh makmur ini untuk terus maju, terus update kompetensi terkini, selalu menjaga integritas. Sebab tantangan ke depan semakin rumit, selain peluang yang ada, Moeloek menyebutkan tantangan melakukan penilaian startup seperti gojek yang tidak memiliki aset besar, namun memiliki nilai triliunan. Bagaimana penilaian facebook, whatsapp, youtube, Alibaba dan lainnya. “Ini tantangan penilai ke depan melakukan penilaian perusahaan seperti itu,” terangnya.

Lalu saat ditanya, kenapa meninggalkan profesi penilai? “Dunia saya arsitek,” terangnya.

Meski terlihat jauh dengan profesi penilai, namun hatinya tetap dekat dengan profesi penilai, meskipun tidak pernah menampakan diri dihadapan anggota profesi, masih tetap update informasi terkini. Pesannya penilai Indonesia tidak harus selalu benchmaking kompetensi penilaian dari luar, harus mampu menggali kompetensi dari hasil penilaian sendiri. Seperti penilaian kekayaan NKRI, baik yang ada di dalam tanah, dibawah laut, diatas tanah dan diudara berapa nilai. “Harapan saya penilai Indonesia bisa melakukan penilaian seperti itu,” jelasnya. (HS)

0 0 vote
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x