Kerumitan Yang Kerap Ditemui Pada Penilaian Bisnis

by redaksi

Nilai suatu bisnis kerap kali tergantung pada pihak yang melakukan penilaian. Ini semakin menambah deret panjang kerumitan. Kenyataannya penilai yang melakukan penilaian bisnis tidak punya pilihan selain berasumsi, semua informasi yang di berikan, pada kenyataannya benar dan akurat.

WartaPenilain.id—Ada sedikit keraguan, sejatinya, bahwa menilai suatu bisnis seringkali menghadapi kerumitan. Sebagian kesuliltan itu dikarenakan kenyataan bahwa evaluasi bisnis yang bersifat subjektif. Fakta sederhana, nilai suatu bisnis kerap kali tergantung pada pihak yang melakukan penilaian. Justru itu, semakin menambah kerumitan dan pada kenyataannya orang yang melakukan penilaian bisnis tidak memiliki pilihan selain berasumsi bahwa semua informasi yang di berikan, pada kenyataannya benar dan akurat.

Kegiatan penilaian bisnis, setidaknya penilai harus mempertimbangkan beberapa item seperti aset tak berwujud, keragaman produk, kepemilikan ESOP, konsentrasi pelanggan, siklus hidup perusahaan dan industri.

Sebab, menentukan nilai bisnis melibatkan pengambilan beberapa faktor. Diantaranya aset tak berwujud. Aset ini bisa membuat penentuan nilai bisnis semakin rumit. Bagaimana menilai kekayaan intelektual mulai dari paten hingga merek dagang dan hak cipta. Sebab itu sangat memengaruhi nilai bisnis dan aset tidak berwujud terkenal sulit untuk dinilai.

Lalu, keragaman produk. Salah satu kebenaran penilaian bisnis, bahwa bisnis dengan hanya satu produk atau layanan memiliki risiko jauh lebih besar daripada bisnis yang memiliki banyak produk atau layanan. Keragaman produk atau layanan akan berperan dalam sebagian besar penilaian.

Juga keberadaan kepemilikan ESOP. Sebuah perusahaan yang kepemilikannya melibatkan karyawan membuat tantangan penilaian semakin nyata. Apakah perusahaan itu dimiliki sebagian atau seluruhnya karyawan, situasi ini dapat membatasi pemasaran dan pada akhirnya berdampak nilai.

Lalu, sumber pasokan. Jika suatu bisnis sangat rentan terhadap gangguan pasokan, misalnya, menggunakan pemasok tunggal untuk mencapai kemajuan kompetitif berbiaya rendah, maka penilai harus memperhatikan. Alasannya bahwa gangguan pasokan dapat berarti bahwa daya saing bisnis bisa berubah yang membuuat rentan kondisi perusahaan. Begitu juga dengan persediaan beresiko maka mungkin ada gangguan pengiriman dan penilai harus memperhatikan faktor ini.

Begitu juga, konsentrasi pelanggan. Jika sebuah perusahaan hanya memiliki satu atau dua pelanggan utama, yang seringkali merupakan situasi dengan banyak bisnis kecil, ini dapat dilihat sebagai masalah serius. Dan siklus hidup perusahaan ata industry. Bisnis, yang pada dasarnya, mungkin mencapai akhir dari siklus hidup industri, misalnya, perbaikan mesin, juga akan menghadapi tantangan selama proses evaluasi. Bisnis yang menghadapi keusangan biasanya memiliki prospek yang suram.

Ada masalah lain yang juga dapat mempengaruhi penilaian suatu perusahaan. Beberapa faktor dapat mencakup persediaan yang sudah ketinggalan zaman, serta ketergantungan kontrak jangka pendek dan faktor-faktor seperti persetujuan pihak ketiga atau waralaba yang diperlukan untuk menjual perusahaan. Daftar faktor yang dapat berdampak negatif terhadap nilai perusahaan memang panjang. (deal/berbagai sumber)

0 0 votes
Article Rating
0
FacebookTwitterPinterestLinkedinWhatsappTelegramLINEEmail

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
  1. https://palembang-pos.com/
  2. https://dongengkopi.id/
  3. https://jabarqr.id/
  4. https://wartapenilai.id/
  5. https://isrymedia.id/
  6. https://onemoreindonesia.id/
  7. https://yoyic.id/
  8. https://beritaatpm.id/
  9. https://www.centre-luxembourg.com/
  10. https://jaknaker.id/