Capital appreciation bukanlah satu-satunya sumber pengembalian investasi. Dividen dan bunga sumber pendapatan utama lainnya bagi investor. Kombinasi capital appreciation dengan dividen atau bunga kembali sebagai pengembalian total.
Wartapenilai.id—Capital appreciation atau apresiasi modal tidak lain peningkatan harga pasar investasi, yang merupakan selisih antara harga beli dan harga jual investasi. Sebagai ilustrasi, bila seorang investor membeli saham seharga Rp 150 ribu per saham, misalnya, dan harga saham naik menjadi Rp 170 ribu, investor tersebut memperoleh Rp 20 ribu sebagai apresiasi modal. Ketika investor menjual saham, Rp 20 ribu yang diperoleh menjadi capital gain.
Pertanyaan umum ditanyakan banyak investor apakah sebaiknya berinvestasi pada saham dengan tingkat pengembalian dividen yang baik atau yang memiliki capital appreciation yang tinggi. Sebelum menentukan capital appreciation atau atau dividen, strategi investasi sebaiknya mendasarkan diri pada beberapa aspek. Pertma, berapa tingkat pertumbuhan dan aspek masa depan bisnis itu. kedua, bagaimana manajemen mengelola dana (hutang, ekuitas, keuntungan dan sumber lainnya). Ketiga, apakah ada rencana pertumbuhan jangka panjang yang tersedia atau perusahaan hanya bekerja pada pertumbuhan jangka pendek. Keempat, bagaimana manfaat diberikan pada stakeholder yang berbeda (manfaat untuk karyawan dan tidak hanya manajemen puncak). Sebab, ini penting karena para stakeholder berpengaruh banyak pada harga saham.
Selain di saham, capital appreciation terjadi pada investasi untuk real estate, reksadana dana yang diperdagangkan di bursa, dan komoditas. Capital appreciation ini dihitung dengan cara harga jual dikurangi harga pembelian sama. Rumus ini mengasumsikan harga lebih tinggi dari harga beli. Jika seorang investor menjual aset kurang dari yang dia bayarkan, ini disebut kerugian modal.
Capital appreciation mengacu porsi investasi di mana keuntungan harga pasar melebihi harga beli atau dasar biaya investasi awal. Ini bisa terjadi karena berbagai alasan di pasar dan kelas aset yang berbeda.
Beberapa aset keuangan yang diinvestasikan untuk capital appresciation antara lain kepemilikan real estat; reksa dana atau dana yang berisi kumpulan uang yang diinvestasikan di berbagai sekuritas; dana atau sekuritas yang diperdagangkan di bursa yang mengacu indeks; komoditas (minyak atau tembaga), dan saham atau ekuitas.
Capital appreciation tidak dikenakan pajak sampai investasi dijual, dan keuntungannya direalisasikan, yang kemudian menjadi capital gain. Tarif pajak atas capital gain bervariasi tergantung apakah investasi tersebut merupakan kepemilikan jangka pendek atau jangka panjang.
Namun, capital appreciation bukanlah satu-satunya sumber pengembalian investasi. Dividen dan pendapatan bunga adalah dua sumber pendapatan utama lainnya bagi investor. Dividen biasanya pembayaran tunai dari perusahaan kepada pemegang saham atas investasi yang dilakukan di perusahaan tersebut. Pendapatan bunga diperoleh melalui rekening bank yang menanggung bunga seperti sertifikat deposito. Pendapatan bunga juga dapat berasal dari investasi pada obligasi yang merupakan instrumen hutang yang diterbitkan pemerintah dan perusahaan. Obligasi biasanya memberikan hasil atau tingkat bunga tetap. Kombinasi capital appreciation dengan dividen atau bunga kembali disebut sebagai pengembalian total.
Nilai aset dapat meningkat karena beberapa alasan. Ada kecenderungan umum untuk nilai aset meningkat termasuk faktor makro ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi yang kuat atau kebijakan penurunan suku bunga, yang merangsang pertumbuhan pinjaman, menyuntikkan uang ke dalam perekonomian.
Pada tingkat yang lebih terperinci, harga saham dapat naik karena perusahaan yang mendasarinya tumbuh lebih cepat daripada perusahaan pesaing dalam industrinya atau pada tingkat yang lebih cepat dari yang diharapkan oleh pelaku pasar. Nilai real estat seperti rumah dapat meningkat karena kedekatannya dengan perkembangan baru seperti sekolah atau pusat perbelanjaan. Perekonomian yang kuat dapat menyebabkan peningkatan permintaan perumahan karena orang memiliki pekerjaan dan pendapatan yang stabil.
Berharap Capital Appreciation
Apresiasi modal sering kali menjadi tujuan investasi banyak reksa dana. Dana ini mencari investasi yang akan naik nilainya berdasarkan peningkatan pendapatan atau metrik fundamental lainnya. Investasi yang ditargetkan untuk apresiasi modal cenderung memiliki risiko lebih besar daripada aset yang dipilih untuk perolehan pendapatan, seperti obligasi pemerintah, obligasi daerah, atau saham yang membayar dividen. Dana capital appreciation dianggap paling sesuai untuk investor yang toleran terhadap risiko. Dana pertumbuhan biasanya dicirikan sebagai dana capital appreciation karena mereka berinvestasi pada saham perusahaan yang tumbuh dengan cepat dan meningkatkan nilainya. Capital appreciation ini digunakan sebagai strategi investasi untuk memenuhi tujuan keuangan investor.
Capital Appreciation Bond
Capital appreciation bonds didukung lembaga pemerintah daerah dan oleh karena itu dikenal sebagai sekuritas daerah. Obligasi ini bekerja dengan bunga majemuk hingga jatuh tempo, ketika investor menerima jumlah sekaligus yang mencakup nilai obligasi dan total bunga yang masih harus dibayar. Obligasi apresiasi berbeda dari obligasi tradisional, yang biasanya membayar pembayaran bunga setiap tahun.
Lalu kenapa harus memikirkan deviden dan capital appreciaton. Ini akan memberikan gambaran yang jelas tentang strategi perusahaan dan membantu investor menyesuaikan selera risiko. Perusahaan yang mendistribusikan keuntungan dalam jumlah besar kepada investor memiliki tingkat pertumbuhan yang relatif lebih lambat. Ini adalah jenis pendekatan konservatif. Jadi, risiko yang terlibat lebih sedikit dan karenanya diharapkan pengembalian yang lebih rendah. Di sini, lebih banyak uang akan tersedia dengan para investor.
Sedangkan investor dengan risk appetite yang tinggi akan lebih menyukai capital appreciation. Investasi ulang besar-besaran dari keuntungan menunjukkan tingkat pertumbuhan akan tinggi. Namun dalam beberapa waktu terakhir, terlihat bahwa harga saham turun drastis jika bursa saham ambruk. Dan dalam situasi seperti itu, investor harus menghadapi kerugian yang sangat besar. Sehingga karena pasar fluktuatif, investor terlihat cenderung ke arah saham-saham yang memberikan deviden tinggi.
Investor harus menyadari capital appreciation bisa dikenakan pajak, tetapi hanya jika aset tersebut dijual. Hingga saat itu, keuntungan apa pun dianggap belum direalisasi dan tidak kena pajak. Hampir setiap aset yang dimiliki baik individu/ perusahaan sebagai modal aset tunduk pada pajak capital gain. (***)
Berikan Komentar