Cafe Pin9! Tempat Kongkow Cozy Para Penilai

by redaksi

Kini penilai di bilangan Bintaro dan sekitarnya, memiliki tempat kongkow baru yang sangat nyaman dan cozy di Cafe Pin9! (dibaca ping). Cafe itu didirikan kakak beradik yang berprofesi sebagai penilai. Selain Cafe, Pin9 juga juga menyediakan resto yang menyajikan menu nusantara. Jadi makan, ngopi dan kongkow bisa dilakukan di satu lokasi, di Palem Indah 9, Bintaro Sektor 9.

Wartapenilai.id—Cafe Pin9! , kini bisa menjadi alternatif tempat kongkow baru. Lokasinya di bilangan Bintaro Sektor 9, tepatnya Jalan Palem Indah No. 9. Cafe Pin9!  menyediakan berbagai jenis Cafe pilihan, yang diracik secara khusus untuk menemani penilai dan pengunjung lain menikmati kongkow bersama teman dan relasi.

Kehadiran Cafe Pin9! Terasa lebih istimewa dengan disajikannya kopi Arabika asli Gunung Gombong, Ciengang – Sukabumi hasil produksi dari petani yang sudah terkenal sejak jaman kolonial Belanda dulu.

Pin9! Cafe  di launching pada hari Rabu, 24 Februari 2021, oleh pemiliknya Ahmad Salahuddin dan Ahmad Fajar. Keduanya kakak beradik, yang masih aktif menjalani profesi penilai. Pembukaan usaha Cafe Pin9!  ini tidak lepas dari kesuksesan sebelumnya membuka usaha kuliner. Usaha kuliner Sate Kambing Barakat dan Makanan Khas Sunda yang dirintis satu tahun lalu, membuahkan hasil yang sangat menjanjikan. Kiranya wabah Covid-19 bukan menjadi kendala, namun diubah menjadi peluang oleh mereka berdua.

Tidak hanya Cafe, Pin9 juga menyediakan resto yang menyajikan Menu Nusantara. Menu yang disajikan mulai dari nasi timbel, nasi bakar (ayam kemangi, cumi rempah, ati ampela, tutug oncom, hingga nasi goreng), sate (kambing, ayam, bandeng), ikan (nila, sop kakap pedas), berbagai jenis pepes, sop dan tumisan. Untuk resto ini ditangani chef berpengalaman kelas hotel berbintang.

Ahmad Salahuddin, mengakui membuka usaha resto dan Cafe, juga mendasarkan diri pada survey pasar akan daya beli masyarakat. Tak heran, dari segi harga di resto dan Cafenya tergolong bersahabat dengan isi kantong pengunjung.

“Ya ilmu memahami pasar saya terapkan sebelum memulai usaha kuliner ini. Survey akan daya beli dan sektor usaha yang menjanjikan, menjadi pijakan pengambilan keputusan membuka usaha café dan resto,” jelasnya. Cafe Pin9! , juga  menjual paket meeting berkapasitas 4-6 orang. Saat ini ruang meetingnya sudah siap digunakan untuk rapat-rapat kecil.

“Untuk meeting penilai anggota MAPPI, di bilangan Bintaro atau penilai yang mendekati kliennya, bisa ke Cafe Pin9! , tentunya ada harga khusus anggota,” terang Ahmad Fajar.

Selain dari sisi harga, usaha kuliner yang dirintisnya dinilai tergolong bisnis yang tahan banting   dan masih memberikan potensi dan peluang untuk terus tumbuh, karena sektor kuliner akan terus dibutuhkan meski di tengah pembatasan sosial. “Memang saat ini banyak usaha tumbang terkena dampak Covid-19, namun menurut kami,  justru saat ini lah waktu yang tepat untuk  memulai usaha Cafe dan kuliner,” terang Salahuddin.

Terobosan yang dilakukan  Salahuddin dan Fajar selain mencuri start dalam  memulai  bisnis di masa pendemi  juga mempunyai tujuan menampung tenaga kerja terampil, yang terkena PHK di tempat lain. Seperti koki di restonya melibatkan chef berpengalama kelas hotel berbintang, yang memiliki pengalaman luas. “Ada sekitar 7 tenaga terampil yang kita pekerjakan di Cafe dan resto,” terang Salahuddin, anggota MAPPI-T ini.

Ahmad Salahuddin dan Ahmad Fajar yang keduanya alumni IPB Bogor, bukan beralih profesi, mereka tetap setia berprofesi sebagai penilai. Hal ini mereka lakukan hanya untuk mengembangan potensi dan peluang yang ada. Untuk usaha resto dan caffee itu berdiri, berdua menggelontorkan modal patungan untuk membiayai usaha itu (sewa tempat, peralatan dan perlengkapan, pengembangan produk) mereka merogok kocek sekitar Rp 250 juta.

Ahmad Fajar sangat berharap Cafe Pin9!  yang dirintisnya ini bisa berkembang dan memiliki banyak cabang di semua kota besar di Indonesia. Fajar mengakui usaha Cafe ini sebenarnya usaha hulu, bisnis yang paling besar ada di hilirnya yaitu eksport kopi ke Negeri Belanda dan Eropa.

Kopi Gunung Gombong yang Melegenda

Kopi yang diolah Fajar untuk Cafe Pin9! berasal dari dataran tinggi Gunung Gombong, Desa Ciengang, Gegerbitung, Sukabumi, Jawa Barat. Kopi dari jenis Arabika ini paling cocok ditanam di ketinggian tanah 1.200 dpl atau lebih seperti kondisi ketinggian di Desa Ciengang.  Kopi dengan kualitas terbaik dikumpulkan dari petani kopi dan diolah memakai peralatan mekanis sehingga menghasilkan green bean dengan kualitas puncak.

Berdasarkan sejarah daerah antara Cianjur sampai Sukabumi dikenal sebagai perkebunan penghasil kopi berkualitas dan langsung di ekspor ke negeri Belanda.  Belanda pada tahun 1696, pernah sukses menanam kopi, hasilnya selain  langsung di kirim Amsterdam, Belanda juga dikirim ke lembaga biology di Hortus Botanicus Amsterdam, sebagai bahan penelitian.

Biji kopi dari Sukabumi, Jawa Barat itu itu sangat digemari oleh penduduk Belanda kala itu. Para biolog Belanda mengakui kopi Jawa punya kualitas dan cita rasa unik, berbeda dengan kopi yang pernah ada di dunia sebeumnya. Hal itu kemudian mendorong para ilmuwan Belanda mengirim bibit kopi Jawa ke berbagai kebun raya di Eropa. Dari situ muncul istilah a Cup of Java di dunia barat dan mengesankan kopi Indonesia identik dengan Kopi Jawa.

Mulai tahun 2021 ini hasil petani kopi di Desa Ciengang, Gegerbitung, Sukabumi,  Jawa Barat yang melegenda itu, hasilnya di tampung Ahmad Fajar dan Ahmad Salahuddin.  Dan dikembangkan sebagai produk minuman kopi di Cafe Pin9!  dan akan terus dikembangkan untuk dibuka gerai-gerai baru Cafe Pin9!  lainnya.

Saat ini Fajar sedang menjajaki pasar ekspor ke Belada melalui eksportir kopi. “Tahap awal harus kerja sama dengan eksportirnya dulu, mereka sudah memahami kualitas kopi yang kita miliki sesuai dengan permintaan dan kebutuhan di Belanda,” terang Fajar.

Desa Ciengang, Sukabumi yang berada di pegunungan itu berudara sejuk dan dingin. Ke depan Fajar juga akan mengembangkan desa wisata di kebun kopi milik petani. Untuk mendukung ke arah sana, Fajar mendorong pemerintah daerah dan pemerintah desa untuk terus memperbaiki akses masuk, yang memudahkan wisatawan berkunjung ke sana.

“Ngopi langsung di kebun kopi sambil menikmati sejuknya udara pegunungan, untuk melupakan sejenak kepenatan kehidupan di Jakarta, dan kembali fresh” terang Fajar.

Itulah usaha kakak beradik, yang sama-sama berprofesi sebagai penilai, mengoptimalkan potensi ditengah pandemic Covid-19. Selain membangun usaha, juga memanfaatkan tenaga terampil yang terdampak PHK, untuk di optimalkan menjadi nilai. (***/HS)

2.5 6 votes
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x