Tim Sukses Paket SEPAKAT, menggelar Warung Kopi SEPAKAT (WKS-S3)—Bengkel Bisnis: “Testimoni: Ngobrol Strategi Bisnis Penilai Masa Pendemik Vs Normal”. Banyak pengalaman yang bisa dipetik, kesiapan dan stretegi memulai bisnis penilaian, khususnya penilai bersertifikat dan menghadapi bisnis di tengah pandemic covid-19.
Wartapenilai.id—Sobat sepakat benar-benar dimanjankan, di WKS dan pelaksanaan Bimbel penyegaran PDP-1 Properti, PDP-2 Properti, PDS Properti, PLP-1 Bisnis, Persiapan USP tulis sebelumnya. Timses Balon DPN SEPAKAT banyak memberikan pengetahuan teknis maupun berbagi pengalaman. Semua itu, diberikan secara free untuk anggota MAPPI dan kali ini Timses SEPAKAT menggelar Bengkel Bisnis, melalui WKS-S3, untuk berbagi strategi bisnis penilaian, di Jakarta yang disiarkan via zoom diikuti 125 peserta dan live streaming YouTube ditonton 115 orang, 15 Agustus 2020.
WKS-S3 Bengkel Bisnis menghadirkan testimoni Budi Prasodjo (Balon DPN SEPAKAT), Firmasyah (Managing Partner KJPP Firmansyah & Rekan), mereka berbagi pengalaman mulai menekuni bisnis penilaian, suka duka memulai bisnis baru, apa saja yang dibutuhkan dan lainnya. Dan bagaimana strategi menghadapi bisnis penilaian yang tertekan di tengah krisis, seperti di tengah Covid-19. Juga sesi dua, menghadirkan pembicara JH Sianipar, penulis buku “The Fundamental of Real Estate” dan Andika Pujangkoro, CEO Grapadi Group. Acara itu dimoderatoti Taufan S Nusantara di Jakarta dan Putri dari Lampung.
Kegiatan WKS-S3, Bengkel Bisnis ini dibuka, Abdullah Fitriantoro bersama Setiawan, dilakukan via Zoom dari Kota Pekalongan. Toyo mengatakan Balon DPN SEPAKAT bakal mengatur ulang kesetaraan penilai saat melakukan kontrak kerja dengan perbankan. Selama ini penilai, hanya mengerjakan sesuai purchasing order (PO) dari perbankan belum sesuai dengan SPI, menyangkut lingkup penugasan yang harus di teken bersama. Selain itu, Toyo juga mengajak KJPP menggarap bisnis diluar penilaian, setidaknya ada 9 bidang jasa yang belum digarap secara optimal. “Anggota dibekali kompetensi agar bisa mengembangkan peluang baru,” terang Toyo.
Sementara, Setiawan menambahkan perlunya penilai dibekali technical skill, managerial skill, leadership dan entrepreneurship skill, agar mampu mengelola KJPP, baik sebagai partner, managing partner, hingga pimpinan cabang. “Itu akan menjadi perhatian Paket SEPAKAT untuk memfasilitasi anggota sesuai tingkatannya, bila nanti memperoleh amanah dari anggota,” terang Setiawan.
Dan jika diberi kepercayaan, itu akan dilakukan secara bertahap untuk peningkatakn kompetensi seperti HBU, Studi Kelayakan, manajemen property dan lainnya. bahkan Toyo siap mensosialisasikan 9 jasa yang menjadi mean penilai itu ke pengguna jasa seperti BUMN, Pemda, perusahaan dan lainnya. Tidak hanya itu, Toyo juga akan mengatur dan menciptakan persaingan yang sehat di antara anggota terkait jasa penialian. Standar fee harus dipatuhi semua anggota, tidak boleh lagi banting-bantingan harga. Itu yang ditawarkan, agar penilai bisa bekerja nyaman, kompetensi tetap terjaga, ujungnya kesejahteran pelaku jasa ini bisa tercapai.
Terkait pengembangan bisnis penilai, Budi Prasodjo berbagi pengalaman bagaimana memulai bisnis penilaian awal tahun 2008. Budi menceritakan masuk ke Jakarta 1990 bekerja di perusahaan penilai sebagai pengawasan proyek. Alumnus S1 Arsitek ITS ini berasal dari sebuah kampung di Probolinggo Jawa Timur, tidak menutup diri, selalu rasa ingin tahunya tinggi, ringan tangan mau terlibat di divisi lain seperti penilaian, studi kelayakan, properti marketing, dan lainnya. Penguasaan terhadap semua bidang itu menjadi bekal menjalani profesi penilai sekarang.
Tahun 1994, Budi dipercaya mensupervisi penjualan apartemen di bilangan Rasuna. Kebetulan perusahaan tempatnya bekerja dipercaya melakukan penjualan apartemen. Dia didapuk menjadi properti manajer dan sukses melakukan penjualan dalam dua minggu 2.000 unit apartemen. “Pasaran apartemen kala itu Rp 600 hingga Rp 800 juta, apartemen rasuna dijual Rp 125 juta laku seperti kacang goreng,” terang Budi Prasodjo.
Pengalaman sebagai pengawas proyek, manajer properti, penilai, marketing, analis property dan lainnya, Budi Prasodjo memiliki pengalaman luas. Saat masih berkarir di perusahaan itu, Budi Prasodjo sejatinya sudah lolos sertifikasi penilai properti di MAPPI. Budi dikenal kutu loncat kerap pindah satu perusahaan ke perusahaan lain. Setiap kali melompat, dia selalu mencari nilai tambah baik kebebasan berpikir, mengelola SDM, membesarkan bisnis, peningkatan kompetensi, pengelolaan keuangan yang prudent, hingga menjadikan karyawan mandiri. “Itu bekal saya sebagai penilai. Penilai tidak bisa dibatasi pemikiran yang mikro saja, penilai harus memiliki pengetahuan diluar penilaian,” terangnya.
Nilai tambah itu, jelas Budi, sebagai bekal memberikan saran pada klien menjadi lebih puas, tidak selalu terkait nilai. Pengalaman itu telah menuntunnya semakin nyakin memberikan saran pada klien. Pengalaman yang tidak diajarkan dikelas diperoleh dilapangan dan itu modal dasar sebagai penilai, terangnya.
Semenjak pertemuan dengan penilai publik, Sugianto, Budi Prasodjo semakin tertarik menapakan kakinya di penilaian dan mengakhiri petualang di dunia developer. Tahun 2008, dia bersama Sugianto bergabung menjalani bisnis penilaian KJPP Sugianto & Rekan dari satu lantai di sebuah ruko bilangan Buncit Raya. Dia memulai dengan dua tenaga ahli, dua staf penilai, satu admin dibantu satu office boy. “Itu modal memulai membangun bisnis penilaian,” kenang Budi.
Pelan dan pasti, relasi dan jaringan kerja (networking) yang di bangun sebelumnya, mulai memberikan hasil. Jasa penilaian diperkenalkan, satu demi satu mulai masuk, rekanan perbankan mulai disasar dan berkembang menjadi besar. Dan akhirnya berubah menjadi KJPP Sugianto Prasodjo & Rekan (SPR). KJPP SPR bisnisnya berkembang, SDM bertambah dan terus didorong untuk bersertifikat, termasuk kebutuhan ruang kantor dan akhirnya pindah ke Gedung Office 18. Sekarang posisi KJPP SPR telah memiliki 10 cabang yang siap mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Lain apa yang dialami Managing Partner, KJPP Firmansyah & Rekan memulai bisnis yang tidak didukung dengan networking sebelumnya. Firmansyah Alumnus Teknik Sipil Andalas 2002 ini, berasal dari sebuah kampung di Padang Pariaman, Sumatera Barat, mengawali bisnis penilaian dari bawah. Tahun 2007 masuk ke penilaian sebagai surveyor. Setelah dua tahun bekerja sambil menyelesaikan pendidikan penilai, Firmansyah tergolong cepat menyelesaikan seluruh jenjang sertifikasi di MAPPI. Tempo dua tahun, dia mengondol sertifikasi penilai publik termuda di tahun 2009. Kesuksesan itu tidak lepas dari peran senior di tempatnya bekerja sebelumnya, selalu memberikan dukungan menyelesaikan pendidikan dan sertifikasi di MAPPI.
September 2009 ijin penilai publiknya keluar. Firmansyah bergegas membuka bisnis KJPP Firmansyah dengan dukungan semangat dari rekan sejawatnya di tempat bekerjanya lama. Namun, apa yang terjadi satu bulan menjalani bisnis penilaian, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bermodal secarik kertas ijin dia mulai mendirikan KJPP Firmansyah perseorangan. Sewa ruko di pinggiran dan memperkerjakan beberapa tenaga admin termasuk office boy, dilakukan mencari pinjaman pendanaan. Firmansyah road show ke perbankan, memulai bisnis penilaian KJPP-nya dari pinggiran, menghindari head to head dengan KJPP besar. “Kalau saya head to head dengan KJPP besar jelas kalah,” jelas Firmansyah.
Road show memperkenalkan bisnis penilaian dilakukan untuk mendapatkan order penilaian. Dia memulainya dengan sepeda motor buntut, ketemu orang perbankan maupun melakukan survey. Itupun yang dikerjakan belum menilai jaminan, namun penilaian lelang saja. Satu demi satu klien mulai menaruh kepercayaan. “Saat itu mau ketemu orang perbankan, begitu sampai di tempat parkir, saya langsung cari toilet untuk merapikan diri,” kenang Firmansyah memulai bisnis.
Tidak mudah membangun bisnis penilaian, semua dilakukan dalam keterbatasan. Saat survey lapangan dia selalu memperkenalkan diri sebagai staf penilai dari KJPP Firmansyah, padahal jelas-jelas dia managing partner-nya. Itu dilakukan, lambat dan pasti KJPP Firmansyah di bilangan Bintaro mulai dikenal luas dan menjadi perhatian perbankan. Mampu memberikan jasa sesuai harapan klien, bukan mengikuti keinginan klien. “Kami konsen di penilaian jaminan di perbankan,” terangnya.
Besarkan Bisnis KJPP
Sebelum KJPP tumbu menjadi besar, memang antara Budi Prasodjo dan Firmansyah tidak semua kebutuhan karyawan bisa di penuhi untuk mensejahterakan. Namun hanya bisa memberikan gaji, kesejahteraan lain seperti BPJS Kesehatan, pensiun pun tertunda. Awalua hanya gaji, asuransi masih tertunda.
Budi Prasojo menjelaskan awal mendirikan KJPP selalu melototi saldo keuangan. Ini untuk memastikan KJPP-nya tetap bertahan. Begitu juga diawal pandemic Covid, dia selalu menegaskan agar cabangnya selalu peduli meski dalam kondisi terjepit, cash yang tertahan dioptimalkan meningkatan kompetensi, meskipun dilakukan dengan prioritas. Akhirnya perusahaan berkembang, dan mampu memenuhi semua kesejahteran mulai gaji, iuran BPJS Kesehatan, pensiun dan lainnya. “Bekerja bukan untuk hari ini namun masa depan,” terangnya.
Baik Budi Prasodjo dan Firmansyah sepakat membesarkan KJPP tidak lepas dari personal branding. Kekayaan perusahaan jasa seperti KJPP, aset yang paling utama SDM yang kompeten. Budi Prasodjo selalu konsen dan memberikan kesempatan seluruh staf meningkatkan kompetensinya melalui pendidikan. SDM menjadi aset takberwujud yang nilainya besar. Membesarkan KJPP tidak bisa lepas dari personal branding SDM yang ada, seberapa jauh kompetensi yang dimiliki, terang Budi. Dia selalu menekankan pentingnya pendidikan dan memberikan kesempatan yang sama untuk semua staf penilainya menyelesaikan pendidikan dan sertifikasi profesi.
Sementara Firmansyah menegaskan untuk membesarkan KJPP dia rela menjadi marketing KJPP dari berdiri hinga sekarang. “Klien melihat KJPP AB & Rekan yang dilihat itu personalnya. Bisnis KJPP adaah bisnis kepercayaan, maka yang selalu dilihat personal,” terang Firmansyah. Dia menegaskan personal penilai dalam KJPP harus sertifikasi semua. Juga untuk membesarkan bisnis ini sangat tergantung leadership dan entrepreneur yang dimiliki. “Kapal masih di tengah lautan mau diarahkan kemana, butuh kerja keras mengarahkannya” terangnya.
Belajar dari pengalaman, baik Budi dan Firmasyah sepakat mengutamakan staf internal untuk terlibat mengembangkan bisnis KJPP-nya dan mereka sudah teruji karakter dan kompetensinya. Untuk itu strateginya tim penilai harus selalu memiliki target setiap tahunnya untuk maju. “Pendidikan jalan meningkatkan kompetensi dan melangkah lebih maju mencapai sukses,” terang Budi Prasodjo. Sebab di KJPP yang dilihat orangnya, personal branding harus tepat.
Sementara, Firmansyah menambahkan menjalani KJPP selalu mengutamakan staf internal yang sudah teruji, telah mengenal karakternya, terlibat berjuang membesarkan bisnis dari awal. Firmansyah tidak terlalu ambisi membuka cabang hanya untuk mengejar grade KJPP-nya, meskipun saat ini ada yang mengajak gabung dari luar tidak menjadi fokusnya. “Kalau staf yang pernah bersama membesarkan kita tahu karakternya,” tambah Firmansyah. Dan dia selalu terbuka saat sudah banyak staf penilaianya yang lulus sertifikasi. Apakah nama KJPP-nya diganti bajunya. Justru mereka tidak mau merubah, menganggap naman KJPP itu telah memiliki hoki sendiri. “Lagi-lagi personal branding yang kuat, ganti baju belum tentu menjadi jaminan kualitasnya”, terang Firmansyah.
Luasnya Real Properti
Sementara Jimmy H Sianipar, penulis buku “The Fundamental of Real Estate”, turut memperluas pandangan menjalani bisnis penilaian properti. Meski buku yang ditulisnya baru dasarnya saja, namun Jimmy memberikan gambaran ilmu properti itu luas, multi disiplin antara ekonomi, keuangan, marketing, legal. Dari jurusan bidang properti secara murni di Indonesia beluma ada.
Menilai properti di Indonesia, menghadapi kesulitan tersendiri karena belum tersdianya data dengan benar. Dia berkesimpulan rumus yang diperoleh dari tekbook dari buku luar menjadi sulit diterapkan di Indonesia. pasalnya data di Indonesia tidak tersedia data dengan sempurna.
JH Sianipar banyak mengulas isi bukunya yang hanya baru di tulis kulitnya properti, belum membahas secara mendalam bisacara historical, ini memberikan gambaran bukan step by step. Ke depan bukunya akan mengulas lebih dalam pengetahuan dasar penilaian. Dia juga mendorong penilai yang sudah berpengalaman mampu menuangkan pengalaman dan ilmu disusun menjadi sebuah buku. Tujuannya jelas memerkaya kasahan penilaian khas Indonesia.
JH Sianipar sangat setuju aset penting di jasa penilaian adalah SDM yang kompeten. Investasi terbesar di SDM untuk selalau mampu menjaga kualitas jasa yang diberikan. “Skill tumbuh seiring dengan pengalaman dan tidak kalah penting integritas penilai,” terang JH Sianipar.
Real porperti tidak lepas dari kondisi makro mikro ekonomi, sebagai penilai penting memahami pasar lokal di mana objek penilaia berada. Namun yang terjadi kerap dilakukan generalisasi, itu yang kerap terjadi di penilaian.
Sementara Andika banyak memberikan pengalaman membesarkan perusahaan dilakukan dengan marketing digital. Termasuk bisnis jasa penilai, sudah harus mempersiapkan diri masuk ke go digital. Penilai harus mampu antisipasi dunia digital harus dan wajib, terang Andika.
Strategi Hadapi Krisis
Lebih lanjut Budi Prasodjo juga menularkan startegi bisnis KJPP di tengah Pandemic Covid-19. Menurutnya pertama, selalu memastikan kondisi keuangan dan likuiditas (memastikan kemampuan membayar jangka pendek dan keperluan darurat) dan cash is the king. Kedua, memeriksa status aset dan utang (mengurangi utang, restrukrisasi, sampai melepas kalau memberatkan bisnis). Ketiga, membuat rencana bisnis baru/diversifikasi (mereview arah bisnis dan menimbang ceruk bisnis yang lebih speksifik dan melakukan kerjasama antar KJPP). Keempat, memperhatikan biaya operasional (menekan dan penghamatan pengeluaran, menunda ekspansi, sampai mengurangi gaji). Kelima, melakukan manajemen risiko (mitigasi risiko bisnis, kurangi risiko pekerjaan, mengalihkan risiko, meningaktakan komptensi, tetapi ikuti pendidikan). Dan kelima, jangan korbankan kesehatan demi keuntungan (tetap menerpakan protocol kesehatan) menjalani bisnis penilaian di tengah Covid-19.
Sementara, melihat potensi bisnis KJPP, dari Agustus 2020-2021, transaksi aset atau bisnis, perbankan dan bundel pailit, corporate action, dan pemerintah ada pembangunan infrastruktur, pembebasan lahan, KSO dan BOT. Dan Budi memberikan apa yang harus dilakukan seorang pemimpin, memimpin, mengelola, menyusun strategi, menciptakan budaya perusahaan, menginspirasi, prioritas waktu, multitasking, merencanakan, melaksanakan dan beradaptasi, membuat keputusan cerdas, dan menang. Itulah strategi menghadapi bisnis di tengah, ketidakpastian, dilakukan penuh kehati-hatian. (***/HS)