Bekali Peserta PDP-2 Bisnis, Lolos Sertifikasi MAPPI

by redaksi

Bimbingan Belajar PDP-2 Bisnis, yang digelar Tim Sukses (Timses) Balon DPN Paket Sepakat, banyak menuai apresiasi dari peserta. Bimbel disampaikan ringkas, padat, jelas disertai pembahasan soal dikaitkan teori dan SPI membuat peserta mudah memahammi materi penilaian dasar bisnis dengan tepat.

Wartapenilai.id—Apresiasi itu datang dari salah satu Penilai Publik Properti dan Bisnis (PB), Dudung Hamidi, yang terlibat sebagai peserta untuk melonggok penyampaikan materi Bimbel PDP-2 Bisnis. Dia berkomentar sangat bagus penyampaian materi yang diberikan pemateri membekali teman-teman penilai siap menyelesaikan PDP-2 Bisnis. “Kalau menyimak dengan benar, lebih banyak yang akan lulus, selamat untuk pemateri dan Paket Sepakat,” terang Dudung Hamidi memberikan dukungan.

Bimbingan Belajar PDP-2 Bisnis itu digelar, Timses Balon DPN, Paket Sepakat, menghadirkan pemateri Ginanjar Rizki Tarekat dan Ryan Pical Pratama, dan dimoderatori Balon DPK, Ferdinand Pardede. Bimbel on-line via Zoom itu diikuti sekitar 49 peserta yang digelar, 6 Agustus 2020, dari pukul 13.00 hingga menjelang Magrib Pukul 18.35.

Ginanjar Rizki Tarekat dalam pemaparan via Zoom menyampaikan pengenalan dan konsep penilaian usaha, statistik penilaian, analisa break even, analisis sektor industry, analisis SWOT, proyeksi keuangan, manejemen keuangan lanjutan, pengenalan instrumen keuangan, proyeksi keuangan, hingga pengenalan peraturan penilaian dan pasar modal. Pertimbangan analisis industri, persaingan industry, analisis pengambilan keputusan.

Lebih lanjut, Ginandjar juga memberikan matriks Boston Consulting Group (BCG), untuk menganalisa industri yang menjadi objek penilaian bisnis. Bagaimana matriks itu bisa memberikan gambar industri apakah apakah berada di Question Marks (pangsa pasar tinggi, pertumbuhan rendah), Stars (pangsa pasar dominan dan perumbuhan tinggi), Cash Cows (perumbuhan tinggi, pangsa pasar terbatas), Dogs (pangsa pasar rendah, pertumbuhan rendah). Untuk perusahaan yang berada di posisi dogs harus ditutup, terang Ginandjar.

Sedangkan untuk penilaian usaha, terang Ginandjar Rizki, penilai harus membuat analisa laporan keuangan historis objek penilaian, penyesuaian atas laporan keuangan, mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan binsis, penyesuaian proyeksi laporan keuangan, membuat informasi keuangan hasil penyesuaian (kertas kerja), dan menyajikan proyeksi dalam laporan (neraca, laba rugi, arus kas).

Proyeksi pendapatan tidak lepas dari laporan historis perusahaan. Sedangkan Penyesuaian laporan keuangan, penilai bisnis mengasumsikan pendapatan, biaya operasional. Untuk pertimbangan proyeksi pertumbuhan bisnis, bisa dilihat jurnal GDP dan inflansi yang banyak di publis pemerintah. Untuk penyesuaian proyeksi laporan keuangan, ini berkaitan dengan analaisis kewajaran proyeksi. SPI bila sudah dilakukan penyesuaian tidak bisa timpahkan begitu saja, bagiamana penyesuaian itu dicatat dan kenapa alasannya juga harus jelas, sebagai informasi di kertas kerja penilaian. “Minimal yang diproyeksikan neraca, laba rugi, arus kas, dan rasio lainnya,” terangnya.

Lebih lanjut, Ginandjar menjelaskan proyeksi keuangan, seperti diatur di Standar Penilaian Indonesia (SPI) wajib disiapkan manajemen. Dan Penilai wajib melakukan kajian dan penyesuaian, sepetti diatur di SPI, dilakukan analisis kewajaran proyeksi di implementasi dan analisis, dan analisis laporan keuangan seperti apa, jangan sampai manajemen terlalu optimis, moderat ditengah kondisi optimis, atau konservatif main aman padahal pasar lagi bagus, ini kaitannya ke tanggal penilaian. “Jangan sampai penilai main percaya apa yang disampaikan manajemen, apa yang didapat tinggal menjahit saja. Itu kurang tepat,” terangnya.

Untuk proyeksi laporan keuangan, penilai harus memahami hubungan antara neraca, laba rugi dan arus kas. Sebab, yang diproyeksikan tidak lain adalah pendapatan perusahaan ke depan seperti apa, menurun, naik taau tetap. Di titik ini juga ada kaitannya dengan analisi industri, misal saat melakukan penilaian dalam kondisi pendapatan tetap itu membuat tidak optimis.

Meski demikian penilai bisnis, tambah Ginandjar harus memahami karakter pendapatan setiap industry yang menjadi objek penilaiannya, seperti industry agro, tambang, keuangan memiliki karakter berbeda. Dimana pendapatan setiap industri berbeda (antara hotel, kelapa sawit, tambanng, real estate dan industry lainnya). “Penilai harus paham, pendapatan industri real estate diperoleh dari mana, penjualan, sewa mall atau yang lain. Begitu juga untuk industri lainnya seperti tambang, penilai harus memahami karena itu sebagai bahan yang di proyeksikan (pendapatan),” terang Ginandjar.

Dari pendapatan dibuat laba rugi (penjualan, HPP, biaya tetap dan operasi, pajak, hingga ketemu pendapatan bersih). Pemahaman industri ini sangat penting, sebab setiap industri memiliki kompenen bebeda saat penyusunan laba rugi, arus kas hingga neraca. Neraca juga sama, arus kas harus diproyeksikan, dari pendapatan yang di proyeksikan arus kas, bagaimana cash in cash out dari operasi bisnis itu. Tidak hanya itu, Ginandjar juga memberikan pemahaman hubungan arus kas—laba rugi—neraca. “Disinilah penilai bisnis harus memahami prinsip-prinsip dasar di bidang akuntansi,” terangnya.

Sementara tiba waktu Ryan Pical Pratama memberikan pemaparan dan semua materi di borong Ginandjar Rizki Tarekat. Ryan Pical akhirnya mengajak peserta untuk menyelesaikan soal jawab PDP-2 Penilaian Bisnis. Setidaknya ada 27 soal yang dibahas bersama, dan menjadi diskusi menarik, pasalnya saat peserta menjawab kurang di landasi teori dan SPI, Ryan Pical meminta Ginandjar meremender kembali ke teori dan pembahasan yang dilakukan sebelumnya. Itu membuat peserta semakin mudah memahami hubungan soal, teori dan SPI.

Lebih lanjut, dari Magister Manajemen Penilaian Properti (MMPP), Universitas Sumatera Utara (USU) Mardiani memberikan komentar terkait matriks BCG. Berarti matriks BCG dengan tipe perusahaan industri sejenis, seharusnya merk produk perusahaan posisi cash cows adalah yang tertinggi,’ terangnya. Meskipun kenyataannya tidak begitu berdasarkan laporan keuangan.

Irma dari KJPP Toha Okky Heru & Rekan menambahkan jika proyeksi (bisnis plan) sudah disediakan manajemen dan kemudian dilakukan review oleh penilai, kemudian ada yang dilakukan adjustment. Lalu dikomunikasikan dengan pihak manajemen klien tapi mereka tidak setuju, sebaiknya gimana, terang Irma.

Ferdinand Pardede moderator Bimbel PDP-2 Penilaian Bisnis itu memberikan jawaban pengertian cash cow di matrik BCG merupakan produk atau unit bisnis yang merupakan leader market, dengan kata lain  menghasilkan kas lebih besar, terangnya.

Pembahasan soal memakan waktu hingga menjelang Magrib, pukul 18.35. Itu semua karena peserta sangat antusias mengikuti bimbingan belajar via Zoom. Bimbel gratis diberikan Timses Balon DPN Paket Sepakat itu sebagai bentuk kepedulian akan persoalan pendidikan di MAPPI yang tergolong sulit. Minimal bimbel gratis ini sebagai solusi pembelajaran murah dan memudahkan peserta PDP-2 Bisnis lolos Sertifikasi di MAPPI. (***/HS)

4.3 3 votes
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x