Wartapenilai.id—Suatu siang, di Lobby Lounge, Hotel Sheraton, Gandaria City, berkumpul alumni Magister Ekonomika Pembangunan (MEP), Universitas Gadjah Mada (UGM) kelas Jakarta, dari angkatan III sampai IX, pada 24 Juli 2020. Mereka sahabat lama yang tidak pernah bertemu, namun mereka berpraktik di bidang yang sama, penilaian.
Mengenang masa-masa kuliah di MEP UGM kelas Jakarta, tidak pernah ada habisnya. Yang mengambil MEP UGM kebanyakan berpraktik sebagai penilai, baik penilai properti maupun bisnis. Didalamnya banyak cerita lucu, penuh semangat menyelesaikan kuliah, hingga disuruh keluar dosen pengajar.
Salah satu alumni ada yang nyeletuh, angkatan paling heboh adalah angkatan III. Mau tahu Ketua Kelasnya, Anas Karim Rivai. Anas sengaja mengundang beberapa alumni MEP UGM, diantaranya Iwan Bahron, Asno Minanda, Ayon Suherman, Juniadi Amral, dan Safrinal Firdaus. Mereka terlihat saling canda penuh akrab.
Memang, pekerjaan penilaian di pertengahan tahun seperti ini masih begitu longgar, apalagi di tengah Covid 19 seperti itu banyak pekerjaan penilaian yang tertunda. Mereka satu alumni dan menjalani profesi yang sama di penilaian. Baru siang itu, mereka bisa ngopi bareng, sekedar temu kangen dan beramah tamah.
Dalam percakapan memang terlihat seru, bagaimana masa-masa menempuh pendidikan MEP UGM yang penuh warna dan candaan. “Benar saat menempuh MEP UGM terasa umur kembali muda sepuluh tahun,” celetuh Asno Minanda.
Padahal saat menempuh kuliah MEP UGM, mereka sudah berpraktik di penilaian dan berumur diatas 40 tahun. Yang tidak lain untuk memperdalam ilmu penilaian, sebab UGM bersama MAPPI bekerja sama menyelenggarakan Program Studi Magister Ekonomika Pembangunan (MEB-UGM) konsentrasi penilaian properti serta penilaian bisnis.
Inisiator temu kangen, Anas Karim Rivai melemparkan ide perlunya di bentuk wadah bagi alumni MEP UGM Jakarta. Wadah yang tepat untuk mewadahi para alumni MEP UGM, bisa Ikatan Alumni MEP UGM Jakarta. Arah tujuan membantu perkembangan profesi penilai di Indonesia, bersama MAPPI mendorong terbentuknya UU Penilai di Indonesia.
“Saya kira pertemuan ini tepat untuk menggagas pentingnya wadah bagi para Alumnis MEP UGM Jakarta. Sebab, jumlahnya cukup banyak dan hingga saat ini belum pernah ada temu kangen,” terang Anas Karim Rivai penuh semangat.
Hingga saat ini tercatat ada 200 lebih Alumni MEP UGM Jakarta dari angkatan 3 sampai 9. Ini potensi yang luar biasa untuk memberikan sumbangan pada praktik penilaian. Melihat perkembangan praktik penilaian, Ikatan ini nantinya bisa memberikan sumbangan pemikiran praktik terbaik di penilaian.
Selain itu, rencana membentuk Ikatan Alumni MEP UGM Jakarta, bisa menyumbangkan pemikiran terkait praktik bisnis penilaian, perkembangan ekonomi makra mikro Indonesia dan pengaruhnya pada pertumbuhan ekonomi bangsa. Dan masih banyak hal lain yang bisa dikerjakan, untuk memberikan sumbangan pemikiran pada bangsa ini.
Dalam waktu dekat, mereka akan berkumpul kembali untuk mendeklarasikan pembentukan Ikatan Alumni MEP UGM Jakarta. Dan calon pengurus yang di gadang-gadang pun sudah di petakan dari alumni MEP UGM sendiri. “Saya kira yang bisa membawa organisasi ini menjadi besar teman kita, Karmanto yang akan kita gadang-gadang menjadi ketua,” terang Anas Karim.
Lebih lanjut, Anas Karim Rivai, akan mengundang lebih banyak alumni MEP UGM untuk mendeklarasikan Ikatan Alumni MEP UGM Jakarta. (***/HS)