Memasuki kantor penilai, PT Insal-Utama di bilangan Melawai Blok M. Jakarta, terbayang sejarah masuknya profesi penilai ke Indonesia. Gilbert Wiryadinata, sebagai pelaku utama dan penilai pertama, yang memperkenalkan konsep dan metode penilaian di Indonesia. Selain membesarkan penilai, Gilbert juga membantu Bapepam dan Reksadana membesarkan pasar modal. Melalui tangan dinginnya, Gilbert berhasil menyakinkan banyak perusahaan melantai di Bursa. Penilai diakui Gilbert memiliki banyak kontribusi baik untuk kemajuan bisnis, penerimaan pajak, hingga menggerakan roda perekonomian dan pembangunan.
Penilaian.id—Gilbert Wiryadinata, pribadi gesit dan terbuka, pergaulannya lintas negara. Keberadaan profesi penilai, yang belum berkembang di Indonesia, kala itu dia tangkap sebagai peluang. Setelah mendapat mitra appraisal dari Philipina, tahun 1969 Gilbert menghadap ke Menteri Perdagangan dan Perindutrian, Sumitro Djojohadikusumo untuk meminta ijin praktik. Lantaran profesi ini berkiatan dengan hitungan teknik, Gibert disarankan menghadap ke Menteri Pekerjaan Umum (PU), Ir. Sutami (kala itu).
Hasilnya, ijin praktik penilai oleh Menteri PU dilimpahkan ke Menteri Perdagangan dan Perindustrian. Jadilah ijin praktik bisnis penilaian kala itu diberikan Menteri Perdagangan. Keberadaan appraisal kala itu sangat dibutuhkan seiring masuknya investasi asing ke Indonesia. Gilbert pun support dari Sumitro untuk mengembangkan bisnis jasa apprasial di Indonesia. Dan akhirnya profesi penilai bisa melantai di Indonesia, berkat kerja keras Gilbert Wiryadinata dan menggandeng partner Philipina. Saat itu, bisnis jasa appraisal didirikan dengan menggandeng PT Asian Apprasial dan berkantor di Wisma Antara.
Sebagai profesi yang terbilang baru, rasa ingin tahu Gilbert pun membuncak untuk memahami cara kerja, hasil kerja, manfaat bagi pengguna jasa, pemerintah juga masyarakat Indonesia.
Gilbert mengembangkan profesi penilai berguru langsung ke American Appraisal (AP), induk dari induk semua profesi appraisal di Amerika Serikat. “Tahun 1973 saya mesti ketemu dengan induknya, ini saya lakukan dengan modal nekat, saya pergi ke sana, saya jalani semua, ketemu President American Appraisal, menjadi anggota. Saya juga pergi ke Incorporated Society of Valuers and Auctioneers (ISVA) di Inggris untuk belajar,” kenang Gilbert Wiryadinata.
Sambil menyelam minum air, Gilbert pun membandingkan prinsip dan konsep penilaian yang diterapkan di Inggris dan USA. Di USA penilai dan lelang dipisahkan, sedangkan di Inggris penilai dan lelang menjadi satu. Akhirnya jatuh pada Amerika konsep penilaian yang diadopsi masuk ke Indonesia. “Amerika tidak rumit, akhirnya saya bawa ke Indonesia. Lalu dibuat aturannya, membuat kode etik appraisal,” kenang Gilbert.
Bahkan Gilbert meminta, Gani Djemat (Lawyer), membuat badan hukum asosiasi, dengan memaparkan prinsip dan konsep penilai di Amerika dan Inggris saat itu, dan berdirilah Asosiasi Perusahaan Penilai Indonesia (APPI), kenangnya.
Setelah berjalan dua tahun di Asian Appraisal, Gilbert yang telah menunjukan prestasi di bidang penilaian, menginginkan sebagai pemegang saham paling besar, namun hal itu tidak direstui pihak Philipina. Gilbert beralasan pasar penilaian di Indonesia yang mencari dan bekerja orang Indonesia, sedangkan Philipina sebagai pemegang saham paling besar. Itu terasa tidak adil, akhirnya Gilbert hekang dari perusahaan itu.
Meski demikian, sebelum membuat PT Insal-Utama, Gilbert menghadap ke Sumitro untuk membuat perusahaan sendiri, lepas dari Asian Appraisal.
Sebagai perusahaan baru, PT Insal-Utama jelas menjadi saingan berat Asian Apprasial kala itu. Untuk mengimbangi persaingan, Insal-Utama merekrut SDM berkualitas, berkantor di Gedung PP, Jalan Tamrin.
Seiring waktu, sebagai profesi baru, Gilbert memiliki tugas dari Sumitro maupun Radius Prawiro (pengganti Sumitro sebagai Menteri Perdagangan kala itu). Dimana profesi penilai harus dikenalkan ke masyarakat dengan jelas dan tidak disalah mengerti. PT Insal-Utama sebagai perusahaan penilai ternama, berkibar dan banyak melahirkan penilai baru dan menyebar ke penjuru Indonesia. Ibarat kata, Insal-Utama adalah sebagai Citybank-nya para penilai professional di Indonesia.
Membesarkan Pasar Modal
Tahun 1976 pasar modal di Indonesia mulai berdiri, untuk menggairahkan ekonomi Indonesia kala itu. Seiring itu pula lahir Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam), dengan Keppres No. 52 Tahun 1976. Tugas Bapepam mengadakan penilaian terhadap perusahaan-perusahaan yang akan menjual saham-sahamnya melalui pasar modal apakah telah memenuhi persyaratan yang ditentukan, sehat serta baik. Juga menyelenggarakan Bursa pasar modal yang efektif dan efisien.
Sebagai Penilai, Gilbert Wiryadinata berhasil memasukan profesi penilai sebagai profesi penunjang pasar modal, untuk menilai aset perusahaan yang akan masuk ke Bursa. Untuk masuk di pasar Modal, Gilbert dibantu JB Sumarlin, kala itu menjabat sebagai Menteri Keuangan. Akhirnya profesi penilai bisa diterima sebagai peofesi penunjang pasar modal. Hubungan Ketua Bapepam, Josef A. Turangan, Ketua Danareksa, JA Sereh dengan Gilbert seiring seirama. Mereka bertiga saling bahu membahu membesarkan pasar modal.
Peningkatkan Pendidikan profesi penilai, kala itu, JB Sumarlin (Menteri keuangan) memberikan bantuan kelas di Kampus STAN Mulamarman di Kebayoran Baru. Bisa dikatakan profesi penilai, menjadi anak emas membesarkan bursa saham di Indonesia. Setelah diberikan pinjam dua ruang kelas, Gilbert mulai menyelenggarakan Pendidikan pertama penilai dengan mendatangkan pengajar dari American Appraisal (US), dari ISVA dari Inggris. “Ini sejarah yang benar,” kenangnya.
Setelah Pendidikan itu, Gilbert membantu Ketua Bapepam, Josep A Turangan bersama Ketua Danareksa JA Sereh keliling ke perusahaan dan industri untuk memperkenalkan dan menyakinkan industri masuk ke Bursa. “Jaman dulu mau masuk pasar modal (go Publik) banyak yang takut, semuanya harus terbuka, menurut mereka sangat berbahaya dapur perusahaan di telanjangi, semua potensi pajak bisa diketahuan,” terang Gilbert.
Gilbert memiliki jaringan yang kuat semua kalangan industry dan perusahaan di seluruh pulau Jawa. Dia keliling dibeberapa kota, bersama Turangan, Gilbert mulai menyasar pemilik perusahaan dan industry memperkenalkan pasar modal, sebagai tempat mengakses modal selain bank. “Saya bertemu mereka dan jelaskan, bila terbuka dan masuk pasar modal, tidak ada pemerasan, serta keuntungan dan kerugian masuk bursa,” kenang Gilbert menitukan Josep A Turangan memberikan janji pada pemilik perusahaan.
Meski demikian, seiring perkembangan pasar modal, dengan regulasi yang belum sempurna, dibentulah tim lintar sektor dan kementerian. Tim itu bertugas membuat dan menyempurnakan regulasi pasar modal dan aturan Bapepam yang masih amburadul. Tim itu terdiri dari tim Bank Indonesia, pajak, perdagangan, perindustrian, keuangan, menjadi satu tim, membuat dan menyempurnakan regulasi di pasar modal.
Gilbert Wiryadinata masuk menjadi salah satu anggota Tim. Tim ini membuat kamus pasar modal, regulasi perusahaan, perbankan, dan asuransi yang mau go publik. “Saya masuk ke tim itu, dengan keputusan yang dibuat Menteri Keuangan Ali Wardana,” kenangnya.
Banyak Diatur
Profesi penilai, menurutnya profesi kepercayaan, percaya di pakai tidak percaya tidak usah di pakai. “Jadi benar-benar menjadi profesi self regulation, tidak seperti sekarang banyak diatur,” jelasnya.
Seperti pengaturan yang dilakukan Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (P2PK), Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, Badan Pertanahan Nasional (BPN) membuat profesi ini seperti pegawai negeri. “Profesi ini kepercayaan, bukan soal ijin. Percaya pakai ngak percaya ngak usah, termasuk pengaturan fee, ini apa,” terangnya. Memang fee ada standarnya, yang unior sekian yang senior sekian, dan berlaku secara internasional. “Sekarang amit-amit, maaf ngomong profesi ini seperti pegawai negeri, yang tidak dibayar pemerintah namun mencari gaji sendiri. Saya tidak ikut, ini maaf ngomong MAPPI, cuma untuk dapat pekerjaan,” terangnya.
Gilbert Wiryadinata memiliki janji pada Sumitro maupun Radius Prawiro, untuk konsen di profesi ini. Sebab, kala itu banyak insiyur arsitek, sipil, akuntan, hukum, sarjana muda lainnya tidak bisa bisa bekerja, kala itu, lantaran lapangan pekerjaan terbatas. “Melalui profesi penilai ini semua berkarya, asal jangan macam-macam, cari duit yang benar dan tidak melacurkan profesi,” jelasnya. Mau cari duit besar silahkan asal tidak melacurkan profesi, tambahnya.
Meski hingga kini PT Insal-utama masih berpraktik menjalankan usaha bisnis Konsultan Penilaian, namun sejak MAPPI berdiri tidak terlibat. Insal-Utama hanya menghantarkan 16 perusahaan untuk melantai di Bursa, sekarang order penilaian banyak menangani perusahaan asing, yang tidak banyak mengikutin aturan di Indonesia tentang praktik penilaian. Insal-Utama memiliki pangsa pasar khusus, tidak seperti KJPP lainnya.
Meski Insal Utama tidak memiliki penilai sertifikasi MAPPI, hal itu tidak terlalu berpengaruh terhadap pangsa pasar yang dimiliki. Sebab Insal Utama tidak mengambil pangsa penilaian yang banyak diperebutan penilai yang terhimpun di MAPPI.
Ini memang ironis, namun tidak membuat Gilbert sebagai President Director PT Insal-Utama berkecil hati. Meski tidak memiliki penilai sertifikasi MAPPI, Insal-Utama memiliki pangsa pasar asuransi asing, kedutaan besar asing, perusahaan asing. “Seperti perusahaan Jepang yang ada di Indonesia, penilaian dilakukan setiap tahun, baik untuk keperluan internal mereka juga kepentingan investment. Pekerjaaan tidak ada habis-nya,” terang Gilbert.
Sebagai perintis profesi penilai, pengorbanan Gilbert luar biasa besar. Memulai profesi baru, harus mengeluarkan kocek sendiri, dia bertanggungjaab dan komit membesarkan profesi ini di Indonesia. “Kalau tidak sanggup jangan mulai, saya komit buat asosiasi pada saat itu,” terangnya. Organisasi profesi dia besarkan sendiri, bebas dari pengaturan pemerintah. Sejak MAPPI berdiri dan melibatkan pemerintah dalam mengatur dia sudah tidak terlibat lagi.
Menurut Gilbert Wiryadinata profesi penilai itu Art (seni), yang melibatkan semua unsur ilmu, baik teknik, akuntan, ekonomi, hukum, matematika, teknologi, sosial dan lainnya.
Gilbert memberikan contoh, ada dua buah rumah, satu memakai kayu jati yang berkelas dan satunya kayu jati kelas bawah. Penilai sekarang bila diminta menilai pasti nilainya sama. Padahal kayu jati itu jelas memiliki kelas tentunya nilainya jelas berbeda. “Itu seninya, jati ada kelasnya, tidak dipukul rata” terang Gilbert. Lanjut, terkait Tile, dibuat siapa, jerman, cina atau yang lain, juga memiliki nilai berbeda. “Padahal dalam menilai itu ada art-nya,” tambahnya.
Penilai itu harus memiliki pengetahuan luas, jika terbatas pengetahuan harus banyak belajar dan membaca. Insal Utama dalam satu tahun menghabiskan dana US $ 3000 per tahun untuk perpustakaan baik membeli buku, jurnal, regulasi terkait penilaian di seluruh dunia. Penilaian pesawat, mesin, satelit dan lainnya selalu membutuhkan update pengetahuan setiap saat, karena semua itu berpengaruh terhadap nilai yang dikeluarkan penilai. “Ujung hasil pekerjaan penilai itu selembar kertas yang harus dipertanggungjawaban,” tegasnya. Penilai itu tidak memiliki pabrik, untuk menghadirkan laporan yang bisa dipertanggungjawabkan, penilai harus paham betul atas apa yang di tandatanganinya di lapporan penilaian.
Selain pengetahuan luas, penilai harus memiliki jaringan dan pergaulan luas. Sebab, profesi ini juga membutuhkan dan melibatkan kompetensi bidang lain seperti ahli dan bengkel pesawat terbang, ahli satelit, ahli desain mesin pabrik dan lainnya.
Namun yang terjadi sekarang penilaian di standarisasi, penilaian property seperti ini, penilaian kebun seperti ini. “Maaf sekarang penilaian sudah amburadul, saya sedih sekali melihat perkembangan profesi seperti ini,” terangnya.
Jaman dulu profesi penilai tidak banyak diatur, namun ada syarat yang dipenuhi profesi penilai dengan aturan yang benar, agar profesi ini bisa berjalan sesuai rel nya. Banyak contoh penilaian pengadaan tanah untuk kepentingan publik seperti jembatan, pelebaran jalan, bandara, jalan tol dan lainnya.
Gilbert memberikan contoh pengadaan tanah untuk bandara Kulon Progo misalnya, sebelum dibangun ada rancangannya. Dari sisi politik, social seperti apa sebelum pembebasan, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat terkait pembebasan lahan. “Itu pekerjaan appraisal, yang sebenarnya, dia mengadakan survey terlebih dahulu, karena dalam profesi ini diisi bermacam dan beragam ilmu, ada teknik, hukum, akuntan, ekonomi, sehingga bisa membuat rancangan penilaian akhir yang tepat. “Hukum dan social di tengah masyarakat harus dipahami dulu baru tim penilai turun, namun semua kembali ke pemerintah,” terangnya. “Seperti sekarang pengadaan tanah hancur adalah pelacuran profesi,” tegasnya.
“Banyak yang tidak memahami profesi penilai itu sepeti apa, profesi penilai itu Art,” teranngnya.
Masalahnya banyak orang ingin cepat kaya, namun banyak yang bekerja tidak benar. Bila bekerja dengan benar, pekerjaan akan selalu datang, tidak usah sikut sana sikut sini. Bekerja benar dapat nama dan otomatis pekerjaan datang. “Bukan lantas dekat pejabat, minta order pekerjaan, bukan seperti itu, tunjukan pada mereka saya bikin ini karena menguasai, kalau terjadi selisih paham, saya hadapi, modal penilai itu cuman selembar kertas. Dan harus berani menghadapi bila mendapat tuntatan,” saran Gilbert.(***/HS)