Covid-19, Dampak Perang Dagang

by redaksi

Wartapenilia.id—World Trade Organization (WTO) atau organisasi perdagangan dunia, memiliki 164 anggota dan mewakili 99,5% populasi dunia dan 98% perdagangan dunia. Anggotanya bukan hanya negara berdaulat, tetapi juga meliputi wilayah kepabeanan, yang bebas mengatur hubungan dagang mereka sendiri. Sebagai contoh, wilayah kepabeanan Hong Kong—Tiongkok, Makau—Tiongkok, Tiongkoa Taipei (Taiwan).

WTO juga memiliki kekhususannya sendiri dengan menerima Uni Eropa sebagai anggota. Pada saat yang sama, negara anggota Uni Eropa juga menjadi anggota WTO, sehingga setiap negara ini seolah memiliki keanggotaan ganda. Meski demikian, kenyataannya Komisi Eropa-lah yang bertindak sebagai perantara Uni Eropa sekaligus semua negara anggotanya dalam pertemuan dan perundingan digelangang WTO.

Perang dagang USA vs Cina yang berlangsung dari 2018 sampai 2019, berakhir tanpa pemenang justru melahirkan covi-19.  Dari situ, muncul kejanggalan yang membuat rasa penasaran untuk melakukan analisa lebih dalam. Terbukti ada permainan politik dagang tingkat tinggi negara maju. Kepabeanan Tiongkok dengan munculnya covid-19 di Wuhan, Tiongkok, membuat negara-negara tetangganya berempati dan sejenak menghentikan perang dagang dengan US bersama sekutunya Uni Eropa.

Tak berapa lama, US bersama sekutunya melalui Italia mengeluarkan kebijakan lockdown terkait covid-19 dan nanti nya semua sekutu akan me-lockdown negara-nya (berhenti sejenak). Bagaimana dengan nasib negara-negara berkembang yang ada di dunia ini termasuk Indonesia, jelas menjadi korban dan umpan. Pemerintah pusat harus tegas untuk tetap menjalankan roda perekonomian rakyat dan tidak ikut me-lockdown.

Pemberdayaan Kawasan Ekonomi Regional Asean jawabannya. Asean harus bersatu melawan Politik Ekonomi Uni Eropa, US dan Cina yang saat ini mereka melakukan strategi mengejutkan melalui lockdown tanpa adanya kebijakan dari WTO, terkait ekspor import yang rata-rata menggunakan mata uang USD. Setidaknya ada kecurangan sepihak atas kondisi, negara persemakmuran di dalam Asean yang menjadi batu sandungan Indonesia.

Indonesia kedepannya perlu melakukan pendekatan kepada setiap kepala negara anggota Asean agar dapat persetujuan dari anggota Asean dan mendaftarkan wilayah kepabeanan Asean kepada WTO agar dapat melakukan transaksi ekspor impor di wilayah Asean dapat menggunakan mata uang rupiah. Sehingga terjadi penguatan Nilai mata uang Rupiah terhadap USD dan EURO. Dari situ diharapkan Indonesia bisa menjadi pelopor Asean, dengan membuat gebrakan ekpor import di wilayah Asean menggunakan mata uang rupiah—agar mata uang rupiah semain menguat dan stabil. (***)

Penulis: Penilai Publik Property Sederhana, di Sorong, Papua Barat.

 

 

0 0 votes
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x