Perkuat Kompetensi Penilai Dari Indonesia Timur

by redaksi

Abdullah Najang, dipercaya menduduki Ketua DPD Sulamapua 2020-2024. Tekadnya jelas,  membangun kompetensi penilai, memperbanyak pelaku profesi penilai berpraktik di sana, juga mendorong terbentuknya UU Penilai dari Indonesia bagian timur.

Wartapenilai.id—Itu yang bakal diwujudkan Abdullah Najang, membangun profesi penilai yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia bagian timur. Abdullah Najang tidak main-main sejak dipercaya memimpin DPD Sulamapua, bakal memperkuat struktur kepengurusan DPD Sulamapua dengan SDM yang kompeten. SDM yang terlibat diisi mereka yang memiliki kepedulian mengembangkan profesi penilai.

Tidak hanya itu, Abdullah Najang juga bakal memperbanyak jumlah pelaku profesi penilai dengan menyediakan pendidikan designasi penilai dengan biaya terjangkau (PDP-1, PDP-2, PDs, PLP-1, PLP-2 dan PLs). Pendidikan disebar di tiga pulau besar di Sulamapua serta membantu DPN MAPPI merealisasikan terwujudnya UU Penilai.

Pria kelahiran Bontosanra 13 Desember 1976 lalu, menghabiskan masa kecilnya di sebuah kampung terpencil, Bontosanra, Pattallassang, Takalar, Sulawesi Selatan. Semasa kecil Abdullah Najang biasa di sapa Doel atau Najang oleh teman sebayanya. Dia suka olah raga bulutangkis dan tenis meja. Dia anak ketiga dari empat bersaudara.

Masa indah menempuh pendidikan dasar mulai SD, SMP dan SMA dilakukan dari tempat tinggalnya di kampung halamannya. Doel kecil memang sudah terlihat cerdas dan suka berorganisasi. Seperti di SMP Doel dipercaya sebagai Ketua OSIS SMP Negeri 2 Takalar. Bahkan di SMA Doel hobi berorganisasi pun berlanjut hingga dipercaya sebagai Ketua Osis SMAN I Takalar. Doel siswa berprestasi, kerap mewakili sekolahnya mengikuti lomba karya ilmiah, cerdas cermat di tingkat provinsi di Sulawesi Selatan.

Tidak hanya itu diluar sekolah, Doel juga aktif di organisasi remaja Muhammadiyah dan Ikatan Remaja Masjid. Selain sapaan itu, Doel juga kerap disapa Daeng Siriwa—panggilan yang lazim untuk orang-orang di Makassar.

Alhasil ketekunannya belajar, membuahkan hasil. Selepas SMA, 1995, Abdullah Najang alias Doel diterima di Institut Pertanian Bogor pada Jurusan Statistika Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam, melalui jalur USMI (ujian seleksi masuk IPB) bebas tes.

Nah semasa kuliah di IPB ini Abdullah Najang mulai banyak mengerem aktivitas di luar bidang yang di tekuni. Organisasi kemahasiswaan hanya Himpunan Profesi “Gamma Sigma Bheta” yang diikuti. Dia lebih fokus menyelesaikan pendidikan perkuliahan, sebab IPB menerapkan sistem perkuliahan paket. “Bila IPK kurang dari 2.0 bisa kena drop out (DO), ini sistem terkenal cukup sadis, he…he…,” kenang Abdullah Najang mengingat masa lalu.

Di akhir semester, Abdullah Najang mulai mencari pengalaman kerja atau magang di beberapa tempat. Terlibat menjadi tim surveyor di Pusat Penelitian Teh & Kina di Bandung, anggota tim Lembaga Penelitian & Pengembangan Masyarakat (LPPM) IPB, pembinaan pengusaha kecil di Pongkor Bogor, terang Abdullah Najang.

“Pengalaman tak terlupa, saat kuliah akhir untuk bertahan hidup di tanah rantau, saya harus rela jualan minuman dan snack, untuk menyambung biaya hidup. Termasuk menjadi guru private matematika untuk kelas SMP dan SMA kala itu,” terang pria berdarah Makassar ini.

Serah terima Ketua DPD Sulamapua, 2016-2020, Ahmad Syawal ke Ketua DPD Sulamapua 2020-2014, Abdullah Najang.

Sekitar tahun 2000, usai menyelesaikan S1 Statistika IPB, Abdullah Najang bergabung ke PT Pronilai Konsulis Indonesia, saat itu dipercaya menempati posisi Unit Head Research & Database. Saat itu praktik bisnis penilaian masih di bawah PT. Ketertarikan di dunia tidak lain karena disiplin ilmunya yang menggunakan data-data/angka-angka banyak dibutuhkan di profesi itu. “Ilmu statistik cukup banyak membantu dalam hal penanganan research dan database, terangnya.

Abdullah Najang berkarir di Pronilai sekitar 4 tahun, lalu 2005 memutuskan pulang kampung ke Makassar. Abdullah Najang menikah dengan seorang ngadis pujaannya, seorang dokter, Nurrahma Muh. Amir, bekerja di dinas Kesehatan Kota Makassar.

Setelah berumah tangga, Abdullah Najang membangun usaha sendiri di bidang perikanan. Awalnya, tergolong kecil, pelan dan pasti usaha yang dirintisnya tumbuh berkembang hingga sekarang yang diwadahi PT Kassa Tambah Reja. Perkawinan Abdullah Najang dengan Nurrahma dikaruniai dua putra (satu kelas 9 SMP dan satu masih usia 1 tahun).

Kembali Sebagai Penilai

Setelah 6 tahun meninggalkan profesi penilai, sekitar 2011, Abdullah Najang terlihat kangen dengan bidang penilaian yang pernah digeluti 10 tahun lalu. Dia kembali terjun ke penilaian dengan bergabung ke KJPP Abdullah Fitriantoro & Rekan. Abdullah Najang dipercaya sebagai Kepala Perwakilan Makassar kala itu.  Abdullah Najang mampu menyelesaikan berbagai jenjang sertifikasi di MAPPI dan 2016 memperoleh Ijin Penilai Publik Properti Sederhana. Akhir 2018 Abdullah Najang mampu menyelesaikan USP dan mengantongi Ijin Penilai Publik Properti dari Kementrian Keuangan.

Abdullah Najang selama berkarir di profesi penilai mengakui banyak pengalaman baik yang menyenangkan maupun menegangkan. Suasana bekerja di profesi  diakuinya sangat menyenangkan rileks, saling berbagi ilmu, mempelajari pengalaman baru, termasuk kerap diundang sebagai pembicara di beberapa instansi. “Namun ada pula pengalaman menegangkan saat menghadapi Aparat Penegak Hukum (APH), menjadi saksi di pengadilan terkait kasus,” terangnya. Semua bisa diselesaikan secara baik, sebab pekerjaan yang dihasilkan selalu mendasarkan pada KEPI dan SPI serta dilakukan secara profesional, tambahnya.

Selain aktif sebagai penilai, Abdullah Najang di DPD Sulamapua sejak tahun 2012  terlibat di organisasi dan dipercaya sebagai bendahara. Dan periode berikutnya masih dipercaya sebagai bendahara. Dan di tahun 2020 dipercaya sebagai Ketua DPD Sulamapua 2020-2024.

Disinilah Abdullah Najang sebagai Ketua DPD Sulamapua memiliki kesempatan besar memajukan profesi penilai di wilayah Timur Indonesia. Abdullah Najang melanjutkan program DPD Sulamapua yang belum bisa di realisasikan. , termasuk memperkuat struktur organisasi, baik penguatan secara internal maupun eksternal.

Seperti rencana pemekaran DPD di Indonesia timur. Dimana wilayah DPD Sulamapua cukup luas, secara geografis mencakup 10 Propinsi dan 144 kabupaten/kota. Itu menjadi tantangan dan peluang bagi DPD Sulamapua. “Sudah saatnya di kepengurusan ini, membantu lahirnya DPD baru di bagian Timur Indonesia,” jelas Najang.

Secara internal struktur organisasi DPD diisi SDM yang memiliki integritas dan kompetensi memajukan profesi di DPD Sulamapua. Kompetensi anggota terus ditingkatkan baik melalui pendidikan designasi, lokakarya maupun seminar. Melalui pendidikan designasi yang dipermudah juga berbiaya terjangkau diharapkan anggota dan calon anggota penilai di Sulamapua meningkat jumlahnya. “Peningkatan komptensi dan penambahan jumlah anggota tentunya menjadi hal penting,” terang Abdullah Najang.

Begitu juga secara eksternal, DPD Sulamapua dibawah kendali Abdullah Najang akan terus mensosialisasikan pentingnya peran dan kontribusi penilai mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Atas peran itu profesi penilai harus memiliki payung hukum yang jelas. “Disinilah urgensinya UU Penilai, DPD Sulamapua akan men-support DPN MAPPI, menggolkan UU itu dengan melakukan lobby ke anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) di wilayah Sulamapua,” jelas Abdullah Najang.

Wilayah ini ada 10 provinsi yang mengirimkan wakilnya ke DPR RI di Senayan. Peluang seperti itu yang akan dioptimalkan mendorong terwujudnya UU Penilai dari Indoensia bagian timur ini, tambahnya. (***/Hari Suharto)

5 1 vote
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x