Ekonomi Indonesia optimis mengahadapi ekonomi global dengan memainkan peran ekonomi domestik. Kuncinya ada di pasar domestik yang semakin diperkuat, pasar ekspor terus didorong, juga mencari pengganti barang substitusi impor.
WartaPenilai.id—Sektor industri memiliki peran besar dan bisa dioptimalkan untuk mengakselerasi transformasi ekonomi. Sektor industri mampu menciptakan lapangan kerja dan mewujudkan visi 5 besar ekonomi dunia 2045.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan hal itu di seminar Jurnalisme Profesional untuk Bangsa bertema “Membangun Optimisme dan Peluang di Tengah Ketidakpastian Global”. Sinergi kebijakan fiskal dan moneter, reformasi struktural dan sustainability menjadi pendorong transformasi ekonomi,” terang Airlangga Hartarto di Jakarta, 3 Februari 2020.
Revitalisasi industri dilakukan pemerintah merespon era industri 4.0, dan melanjutkan pengembangan infrastruktur. Di periode pertama pemerintahan Joko Widodo telah selesai dibangun 92 proyek strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi Rp 467,4 triliun. Dilanjutkan dengan konektivitas infrastruktur yang ada ke pusat-pusat ekonomi masyarakat.
Untuk menyambut era transformasi, pemerintah juga mempersiapkan SDM, dengan strategi pengembangan Pendidikan dan pelatihan kejuruan, yang utama sektor prioritas. Untuk lebih mengoptimalkan program peningkatan kualitas SDM, pemerintah menjalankan program kartu prakerja untuk 2 juta peserta di tahun 2020.
“Selain itu, peran dunia usaha dan industri dilibatkan pengembangan SDM melalui kegiatan vokasi dengan insentif pajak berupa fasilitas pemotongan pajak hingga 200% dari biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan vokasi,” terang Airlangga.
Untuk meningkatkan daya saing, pemerintah tengah mengajukan dua Rancangan Undang-Undang (RUU) kepada DPR yaitu: (1) RUU Cipta Lapangan Kerja; (2) RUU Ketentuan dan Fasilitas Perpajakan untuk Penguatan Perekonomian, atau bisa disebut Omnibus Law Perpajakan. Saat ini RUU Omnibus Law Perpajakan sudah diserahkan kepada DPR, sementara RUU Cipta Lapangan Kerja dalam waktu dekat akan dikirim ke DPR untuk dibahas dan disahkan.
“Insentif fiskal juga diberikan untuk pengembangan industri manufaktur dalam bentuk Tax Holiday, Tax Allowance, Investment Allowance dan Super Deduction Tax,” tambah Airlangga.
Daftar Prioritas Investasi (DPI), bagian merelaksasi bidang usaha yang diatur dalam Daftar Negatif Investasi pun tengah disusun. Hal ini bertujuan untuk menarik investor berinvestasi di Indonesia untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Kunci optimisme ekonomi Indonesia ada di pasar domestik. “Kuncinya ada di pasar domestik yang akan kita perkuat. Pasar ekspor juga terus didorong, sembari kita mencari substitusi impor,” terangnya.
Perekonomian global, terang Airlangga, emang masih diliputi ketidakpastian. Sumber ketidakpastian antara lain wabah virus korona dari Cina, brexit yang telah resmi berlaku, perang dagang AS-Cina, resiko ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah, Jepang, Korea, dan penyalahgunaan penggunaan teknologi (Lethal Autonomous Weapons).
Meski dibayangi sejumlah ketidakpastian, Airlangga menggarisbaahi pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN mampu tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi dunia dan negara maju. “Kawasan ASEAN termasuk Indonesia diharapkan menjadi kontributor perbaikan ekonomi dunia,” terang Airlangga. (Atur Toto/***)