Analisis fundamental selalu menjadi dasar bagi investor dan analis, sebelum melakukan aksi corporasi. Seberapa profit, likuid, efisien, dan solvable perusahaan yang menjadi targetnya.
Wartapenilai.id—Analisis rasio yang yang diperoleh melalui metode kuantitiaf memberikan gambaran likuiditas, efisiensi operasional, profitabilitas perusahaan. Tentunya perhitungan itu mendasarkan pada laporan keuangan (neraca dan laporan laba rugi). Analisis rasio ini sebagai landasan analisis ekuitas fundamental.
Analisis rasio membandingkan data laporan keuangan perusahaan uang memberikan informasi dan wawasan akan profitabilitas, likuiditas, efisiensi operasional, dan solvabilitas. Analisis rasio juga bisa memberikan ukukran akan kinerja perusahaan dari waktu ke waktu, sambil membandingkan perusahaan dengan perusahaan lain dalam industri atau sektor yang sama.
Meski demikian rasio itu menawarkan wawasan yang bermanfaat bagi perusahaan dan rasio tersebut harus dipasangkan dengan metrik lain, untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas tentang kesehatan keuangan perusahaan.
Sebagaimana diketahui, baik investor maupun analis menggunakan analisis rasio untuk mengevaluasi kesehatan keuangan perusahaan dengan meneliti laporan keuangan masa lalu dan saat ini. Data komparatif dapat menunjukkan bagaimana kinerja perusahaan dari waktu ke waktu dan dapat digunakan untuk memperkirakan kemungkinan kinerja di masa depan.
Data itu juga bisa membandingkan posisi keuangan perusahaan dengan rata-rata industri sambil mengukur bagaimana perusahaan dibandingkan dengan perusahaan lain dalam sektor yang sama.
Investor bisa menggunakan analisis rasio dengan mudah, dan setiap angka yang diperlukan untuk menghitung rasio yang ada di laporan keuangan perusahaan.
Rasio tidak lain poin perbandingan bagi perusahaan. Misalnya saat mengevaluasi saham dalam suatu industri. Demikian pula saat mengukur perusahaan saat ini berdasarkan angka-angka historisnya. Dalam kebanyakan kasus, penting juga untuk memahami variabel-variabel yang menggerakkan rasio karena manajemen memiliki fleksibilitas, saat tertentu, merubah strateginya untuk membuat rasio saham dan perusahaannya lebih menarik.
Umumnya, rasio biasanya tidak digunakan secara terpisah melainkan dikombinasikan dengan rasio lain. Dengan memiliki gagasan bagus tentang rasio di masing-masing dari empat kategori yang disebutkan sebelumnya akan memberi pandangan komprehensif tentang perusahaan dari berbagai sudut dan bisa membantu melihat potensi risikon lainnya..
Seperti rasio likuiditas, untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang jangka pendeknya pada saat jatuh tempo, menggunakan aset lancar. Rasio likuiditas meliputi rasio lancar, dan rasio modal kerja.
Rasio solvabilitas atau rasio leverage keuangan, ini membandingkan tingkat hutang perusahaan dengan aset, ekuitas, dan pendapatannya, untuk mengevaluasi kemungkinan perusahaan tetap bertahan dalam jangka panjang, dengan melunasi hutang jangka panjangnya serta bunganya termasuk hutangnya. Rasio ini meliputi rasio utang-ekuitas, rasio utang-aset, dan rasio terhadap bunga.
Rasio profitabilitas, ini menunjukkan seberapa baik perusahaan bisa menghasilkan keuntungan dari operasinya. Margin laba, laba atas aset, laba atas ekuitas, laba atas modal yang digunakan, dan rasio margin kotor adalah contoh rasio profitabilitas.
Rasio efisiensi atau rasio aktivitas, untuk mengevaluasi seberapa efisien perusahaan menggunakan aset dan kewajibannya untuk menghasilkan penjualan dan memaksimalkan keuntungan. Rasio efisiensi utama meliputi: rasio perputaran, perputaran persediaan, dan penjualan hari dalam persediaan.
Rasio prospek pasar, ini rasio paling umum digunakan dalam analisis fundamental. Seperti hasil dividen, rasio P/E, laba per saham (EPS), dan rasio pembayaran dividen. Investor menggunakan metrik ini untuk memprediksi pendapatan dan kinerja masa depan.
Lebih lanjut, analisis rasio bisa untuk memprediksi kinerja masa depan perusahaan, baik atau buruk. Perusahaan yang sukses umumnya memiliki rasio yang solid di semua area, di mana petunjuk kelemahan yang tiba-tiba di satu area dapat memicu aksi jual saham yang signifikan.
Seperti, misalnya, margin laba bersih atau margin keuntungan, merupakan rasio yang digunakan investor untuk membandingkan profitabilitas perusahaan dalam sektor yang sama. Perhitungannya dengan membagi laba bersih perusahaan dengan pendapatannya. Untuk membedakan laporan keuangan untuk membandingkan seberapa menguntungkan perusahaan, investor bisa menggunakan rasio ini sebagai gantinya.
Contoh, perusahaan ABC dan perusahaan DEF berada di sektor yang sama dengan margin keuntungan masing-masing 50% dan 10%. Seorang investor dapat dengan mudah membandingkan kedua perusahaan tersebut dan menyimpulkan bahwa ABC mengubah 50% pendapatannya menjadi keuntungan, sedangkan DEF hanya mengkonversi 10%.
Menggunakan contoh itu, misalkan ABC memiliki rasio P/E 100, sedangkan DEF memiliki rasio P/E 10. Seorang investor rata-rata menyimpulkan bahwa investor bersedia membayar Rp 1,4 juta per Rp 15 pendapatan yang dihasilkan ABC dan hanya Rp 140 ribu per 15 ribu pendapatan yang dihasilkan DEF. (***/Lajiman)