Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), dalam Rapat Umum Anggota (RUA), memutuskan secara musyawarah dan mufakat, David Sutyanto sebagai Ketua Umum 2021-2023. Sebagai nahkoda baru, David Sutyanto diharapkan mampu membawa profesi analis semakin berjaya di tengah digitalisasi ekonomi.
Wartapenilai.id—Asosasi Analis Efek Indonesia (AAEI), menggelar Rapat Umum Anggota (RUA), dengan agenda pemilihan Ketua Umum AAEI. Secara musyawarah dan mufakat, RUA memutuskan secara aklamasi, David Sutyanto sebagai Ketua Umum AAEI 2021-2023. RUA itu digelar di Kantor AAEI, diikuti sekitar 39 peserta, dipancarkan secara zoom, dari bilangan Ampera, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 26 Februari 2021.
Dalam perjalanan AAEI yang sudah 18 tahun berkiprah di pasar modal, perlu terus dijaga marwah, citra, dan kontribusinya profesi analis. Dalam pasar modal yang berkembang, peran analis harus semakin berkembang.
David Sutyanto pada kepemimpinannya akan menjadikan profesi analis berjaya dengan mengusung visi “menjadikan asosiasi analis yang beretika dan menjunjung tinggi integritas”. Visi itu dicapai dengan mengoptimalkan peran asosiasi sebagai wadah asosiasi analis efek, meningkatkan peran anggota menjadi analis efek yang berintegritas dan menjunjung tinggi etika, serta berkontribusi aktif dalam perkembangan pasar modal di Indonesia.
Lebih lanjut, David Sutyanto yang memimpin sekitar 500 anggota analis AAEI itu, menjelaskan program kerja unggulan yang diusung melalui agenda rutin adalah meningkatkan branding profesi dengan meningkatkan pertemuan asosiasi dengan wartawan pasar modal. “Cepat melakukan sosialisasi perubahan peraturan bursa dan OJK dan menggelar webinar yang melibatkan asosiasi lain/emiten, dan analis lain,” terang David Sutyanto saat memaparkan program kerja yang diusungnya.
Selain memilih Ketua Umum, RUA juga membahas berbagai tantangan dan persoalan yang dihadapi anggota dan organisasi. Bagaimana AAEI dan anggotanya bisa terus mampu berkontribusi dan mendukung perkembangan pasar modal dan keekonomian bangsa.
Ditengah digitalisasi, David Sutyanto mengakui profesi analis menghadapi banyak tantangan dan diharapkan mampu memberikan solusi yang berkontribusi mengukuhkan pentingnya analis di tengah hirup pikuknya digitalisasi ekonomi. Seperti kemunculan bisnis star-up, e-commerce, digitalisasi perbankan, fintech, dan lainnya menjadi tantangan bagi analis untuk melakukan valuasi.
“Saya tidak melihat digitalisasi suatu rintangan, namun tantangan yang harus diselesaikan. Dimana ekosistem pasar modal cukup berkembang saat ini, makanya perlunya guidance dan edukasi yang tepat terhadap anggota dan pelaku pasar modal,” terang David.
Dia menegaskan di tengah digitalisasi, transaksi di pasar modal banyak dilakukan pemain ritel, dari segi nilai transaksi memang masih kalah dengan institusi. Disinilah David akan terus memberikan edukasi dan memberikan guidance yang benar. bahwa bermain saham harus melibatkan analisis fundamental dan technical. Bila hanya mengandalkan aspek technical, jelas sulit memenejemen risiko yang akan muncul.
Cara melakukan analisis saham atau stok yang selektif, memanag risiko. Seorang analis yang baik akan selalu bisa memperhantan judgement profesionalnya atas rekomendasi yang diberikan termasuk risiko yang bakal muncul. “Memang rekomendasi yang diberikan analis tidak selalu benar, namun risikonya masih bisa ditoleransi dan itu belum ada guidancenya. Akan banyak pihak yang akan kita rangkul dan berikan edukasi yang tepat. Analis saham yang baik jelas akan melibatkan aspek fundamental dan technical sesuai porsinya,” terang David.
Seiring digitalisasi ekonomi, tentu semakin terbuka peluang dan perkembangannya bisa di manajemen ke arah yang lebih baik. Untuk itu, AAEI akan semakin menjalin komunikasi lebih baik dengan self regulation organization (SRO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di pasar modal. Semua itu untuk mendukung perkembangan pasar modal menjadi lebih baik.
Masalah eksternal, David menjelaskan mengembangkan organisasi dengan spirit lebih mudah. Seperti valuasi terhadap star-up yang dianggap tidak masuk akal, bubble, sebagai wadahnya para analis—AAEI harus mampu melihat instrumen investasi yang semakin beragam.
Disinilah tantangannya untuk bisa mengadopsi dan mentransforamasikan keadaan itu. Jika bisnis diluar star-up, valuasinya dihitung dari berapa kali labanya. Namun untuk star-up berapa kali pendapatannya. E-commerce yang memakai GNP merupakan sesuatu yang baru. Dimana star-up mendapatkan Rp 1 miliar, nilai ekuitasnya bisa mencapai Rp 10 miliar. Padahal belum tentu menghasilkan laba, dan kebanyakan star-up saat ini masih merugi. “Pihak star-up harus kita rangkul dan adaptasi bagaimana pola pikir-nya sehingga menjadi seperti itu. Dan itu akan dilakukan penguatan secara internal bagaimana adaptasi dan transppormasinya,” terang David.
Selain itu, juga akan mengembangkan organisasi AAEI menjadi organisasi yang efektif, semua dilakukan secara on-line. Layanan keanggotaan, pendidikan dan pelatihan untuk anggota.
Di masa kepemimpinannya, David Sutyanto juga akan memperkuat perlindungan terhadap anggota saat menjalankan praktik profesi analis. Saat memberikan rekomendasi, agar analis tidak terlalu kebablasan dan bisa mendatangkan tuntut hukum. “Batasan rekomendasi yang diberikan analis, akan diatur seccara tegas di aturan main dan code of etic profesi ini. Sebagai profesi harus mendapat perlindungan menjalankan profesinya,” terang David.
Saat ini profesi analis bukan hanya berpraktik di sekuritas, namun sudah banyak dibutuhkan di sektor lain seperti asuransi, dana pensiun, banking, hingga analis yang bisa menjual rekomendasinya secara independen. Seorang analis hanya bekerja di sekuritas tetapi bekerja secara independent bisa menghasilan mendapatkan. “Semua pihak akan kita rangkul apakah praktik jasa profesionalnya telah sesuai kaedah yang berlaku dan menerapkan integristas sebagai analis yang independen. Rekomendasi analis yang baik selalu mendasarkan pada integritas, tanpa ada conflic of interest yang tersembunyi,” terang david.
Tantangan
Mantan Ketua Umum AAEI 2019-2021, Edwin Sebayang yang hadir dalam RUA AAEI menjelaskan ada beberapa tantangan ekternal yang dihadapi. Diantaranya, melakukan valuasi terhadap perusahaan star-up dan melakukan corporate visit terhadap perusahaan star-up itu.
Kemunculan bisnis star-up, ecommerce, perbankan digital, on-line dan lainnya, jelas membutuhkan pemahaman baru terkait cara melakukan valuasi. Seperti Go-jek, dalam operasinya melibatkan aset pihak lain, namun nilainya berapa puluh kali. “begitu juga dengan Bank Jago, yang memiliki ekuitas Rp 1,22 triliun, market value mencapai Rp 111 triliun. Ini sama dengan BRI yang lama berdiri dan ekutiasnya meningkat 40 triliun. Saat IPO bagaimana melakukan valuasi,” terangnya.
Selain itu, Edwin Sebayang juga mengingatkan bagaimana mengatur influenser, busser yang mempengaruhi perdagangan saham. Biasanya emiten juga melibatkan influensi itu untuk menaikan harga sahamnya. Ujungnya sering terjadi, selesai proyek transaksi nyangkut semua.
“Membeli saham tidak berdasarkan analisa yang tepat, hanya berdasarkan isu di pasar. Ini menjadi tanggung jawab analis, karena dia punya pengikut banyak, untuk saham atas dasar apa dia memutuskan untuk beli,” jelasnya.
Untuk itu, Edwin Sebayang menegaskan perlunya dilakukan revisi terhadap etik profesi ini. kondisi itu baru terjadi dalam dua tahun terakhir ini. Selain itu, juga meningkatkan komunikasi dengan emiten, yang tidak pernah di bayangkan dilakukan emiten, analis ketemu emiten direksi lalu melalukan company visit.
“Apakah hanya dilakukaan analis data, tidak dilakukan visit, apakah benar aset yang dimiliki star up, kalau on-line tidak tahu,” terang Edwin. Agar tidak terjadi dispute, profesi analis harus update kompetensi terkait bisnis star-up, ecommerce, dan online lainnya. Bisnis yang menjadi tantangan dimana start up tidak memiliki aset namun nilainya cukup besar.
Untuk tantangan internal, AAEI harus banyak melakukan sosialisasi dan menggalang pendanaan yang cukup buat organisasi. Dimana organisasi dijalankan secara efisien dan membuat program AAEI mampu memberikan nilai tambah buat anggota. Dengan begitu, jelas anggota akan mempu berkontribusi ke organisasi baik secara pemikiran, financial dan tenaga. (***/HS)