Pertumbuhan China Minus 1%, Ekonomi Indonesia Turun 0,3 %

by redaksi

Pertumbuhan ekonomi China berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. perlambatan ekonomi China sebesar 1 % berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia 0,3%. Sebab, Tiongkok menjadi patner utama perdagangan, investasi, dan pariwisata di Indonesia.

Wartapenillai.id—Dampak COVID-19 diperkirakan lebih besar dibandingkan virus SARS tahun 2002-2003 disebabkan semakin besarnya peranan Tiongkok dalam perekonomian global. Porsi PDB Tiongkok terhadap dunia meningkat dari 4,3 persen (2003) menjadi 15,8 persen (2018-nomor dua setelah AS). Kontribusi ekspor Tiongkok ke dunia meningkat dari 5,9% (2003) menjadi 12,9% (2018-nomor satu di dunia).

Jika dibandingkan SARS tahun 2002-2003, posisi PDB Cina USD 1,2 triliun sedang US mencapai USD 10,9 dan tahun 2002. Sedangkan, 2003 PDB Cina mencapai USD 1,7 triliun dan AS mencapai USD 11,5 triliun. Posisi AS masih menduduki posisi pertama dunia, sedangkan Tiongkok pada posisi 6 dunia.

Terkait dengan pandemic virus corona (2019-2020) posisi China tahun 2018 PDB secara nominal mencapai USD 13,9 triliun, dan AS mencapai USD 20,6 triliun. Sedangkan tahun 2019 PDB Cina meningkat menjadi USD 14,3 dan AS mencapai USD 21,4 triliun.  Dari data itu AS masih posisi pertama dunia, sedangkan Tiongkok berada di posisi ke 2 dunia.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan bila pertumbuhan ekonomi China menghadapi penurunan 1%, dampaknya pada perekonomian Indonesia sekitar 0,3 %. “Ini sedang kami kurangi dampaknya yang bisa menurunkan pertumbuhan ekonomi hingga ke 4,7 %,” terang Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, 25 Februari 2020 lalu.

Dengan bertambahnya pandemic virus corona, Sri Mulyani menjelaskan pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan melambat menjadi 2,8 % dan pertumbuhan ini akan sama atau seperti terjadi pada tahun 2008 dan 2009 dimana terjadi krisis keuangan global,” tambahnya.

Jika dilihat dari sisi ekspor Tiongkok dan AS ke dunia tahun 2003 ekspor AS mencapai USD 725 miliar atau menguasasi 9,7 %, sedangkan China mencapai USD 438 miliar atau menguasai 5,9%. Tahun 2018 ekspor China sudah mendapai USD 2.494 miliar atau menguasai 12,9 %, sedangkan AS mencapai USD 1.666 miliar atau menguasai 8,6 %. Terlihat data ekspor dunai China menguasai pasar lebih besar dibanding AS.

Itu jelas bertransmisi ke perekonomian Indonesia, ditambah dampak virus corona semakin menambah perlambatan ekonomi Tiongkok diperkirakan 1% -2%. (konsensus forecast oleh barclays, CNBC, the economist). Setiap perlambatan ekonomi Tiongkok sebesar 1%, akan mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia antara 0,11-0,3% (konsensus forecast, World Bank). Transmisi dampak akan lebih dalam, mengingat Tiongkok merupakan patner utama perdagangan, investasi, dan pariwisata di Indonesia.

Pasar tujuan ekspor, Tiongkok menjadi tujuan ekpor utama Indonesia yang mencapai Bio USD 27,9 atau sebesar 16,7 %, AS mencapai Bio USD 17,7 atau 10,6 %, dan Jepang Bio USD 15,9  atau mencapai 9,5%.

Dari sisi impor negara yang paling besar memasok Indonesia Tiongkok mencapai Bio USD 44,9 atau setara dengan 26,3 %, sedangnkan Singapore mencapai Bio USD 17,3 atau sebesar 10.1 %, dan Japan mencapai Bio USD 15,6 atau 9,2%.

Sedangkan dilihat dari Penanaman Modal Asing (PMA), Singapore mencapai USD 65 miliar atau 23 %, RR Tiongkok mencapai USD 4,7 miliar atau 16 %, Jepang USD 4,3 miliar atau 15,2 % dan Hong Kong, RRT mencapai USD 2,9 miliar atau 10,3%.

Sedangkan sektor pariwisata, kujungan yang banyak masuk ke Indonesia berasal dari Malaysia mencapai 3 juta kunjungan atau 18,51 %, China mencapai 2,1 juta kunjungan wisata atau 12,86 % dan Singapure mencapai 1,9 juta kunjungan atau 12,01%. (***/HS)

0 0 votes
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x