Kerjasama Bilateral antar dua negara itu semakin membuahkan hasil, dimana Belanda mitra dagang tersebesar ke 15 dan investor terbesar ke 9 di Indonesia. Belanda memberikan isyarat diberikan kesempatan berinvestasi di bidang pendidikan dan vokasi di Indonesia.
Wartapenilai.id—Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menggelar pertemuan bilateral dnegan dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Kerajaan Belanda Sigrid Kaag. Pertemuan itu untuk membahas potensi kerja sama dalam bidang perdagangan, investasi dan pariwisata.
Pertemuan bilateral itu juga dihadiri Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian, Musdhalifah Machmud; Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian; Rizal Affandi Lukman; Staf Khusus Menko Perekonomian I Gusti Putu Suryawirawan; Tim Ahli Menko Perekonomian Shinta Widjaja Kamdani; Direktur Jenderal untuk Hubungan Ekonomi Luar Negeri Kerajaan Belanda Peter Potman; dan Kepala Departemen Ekonomi Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia Joost Nuijten.
Negara Belanda, sejak 2018 menjadi mitra dagang tersebesar ke 15 dan investor terbesar ke 9 untuk Indonesia dengan nilai perdagangan yang selalu surplus untuk Indonesia. Seperti perdadgangan 2018, nilai perdagangan bilateralnya mencapai US$5,14 miliar, di mana ekspor mencapai US$3,90 miliar dan impor senilai US$1,24 miliar. Sedangkan di 2019, nilai total perdagangan kedua negara menurun 21,7% sehingga menjadi US$4,2 miliar.
Belanda menjadi negara tujuan ekspor terbesar ke-11 bagi Indonesia, dengan komoditas utama (berdasarkan HS4) antara lain: minyak sawit (19,16%), kopra (11,31%), asam lemak monokarboksilat (10,69%), asam monokarboksilat asiklik tak jenuh (5,97%), timah (5,41%). Sementara, komoditas impor Indonesia dari Belanda seperti distilasi coal tar (25,17%), kendaraan angkutan barang (7,10%), minyak bumi (4,39%), benang tow artifisial (2,64%), bahan makanan (2,12%).
Sementara realisasi investasi sektor riil Belanda di Indonesia pada 2019, seperti dikutif dari laman ekon.go.id, mencapai US$2,5 miliar untuk 11.040 proyek atau meningkat 122% jika dibandingkan tahun sebelumnya. “Kerjasama bilateral akan terus diperkuat diberbagai bidang, untuk sektor maritime, manajemen air, pertanian dan kesehatan,” terang Airlangga Hartarto di sela-sela kunjungan kenegaraan Raja dan Ratu Belanda, yang berlangsung di Bogor, 10 Maret 2020.
Sedangkan dari sisi wisata, jumlah wisatawan Belanda ke Indonesia di 2019 mencapai 215.287 orang, menempati urutan ke-4 terbesar dari Eropa dan ke-16 dari seluruh dunia. Tren peningkatan kunjungan rata-rata 4,88% per tahun sejak 2014. Negara Belanda termasuk penyumbang terbesar pendapatan dari sektor wisata, dengan kunjungan lebih dari dua minggu, dengan perkiraan jumlah devisi mencapai lebih dari US$ 200 juta per tahun.
Belanda termasuk negara yang menolak adanya pelarangan minyak sawit dari Indonesia. negara itu lebih mengutamakan pentingnya dialog dan kerjasama antara produsen minyak sawit.
Kedua negara, 26 September 2019 lalu telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Joint Production on Sustainable Palm Oil (ditandatangani Menteri Luar Negeri RI dan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerjasama Pembangunan Belanda) yang difokuskan pada pemberdayaan petani kecil dalam memenuhi sertifikasi ISPO.
Kunjungan bilateral, Airlangga berharap kedua negara bisa mengoptimalkan kerjasama bilateral, khususnya sektor ekonomi, perdagangan dan investasi. “Saya yakin masih ada potensi yang masih dapat dieksplorasi meskipun ada tantangan global yang kita hadapi,” jelas Airlangga.
Kedua negara ini juga akan mendorong penguatan kerja sama ekonomi, selesainya negosiasi dalam perjanjian Indonesia – Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). “Saya sangat berharap kedua negara memiliki upaya terbaik dan menjaga level antusiasme untuk menyelesaikan negosiasi itu sesuai jadwal. Dan bantuan dari Belanda bisa mendorong negosiasi bisa diselesaikan dalam round yang lebih sedikit,” tuturnya.
Negosiasi Indonesia – Uni Eropa CEPA telah dilaksanakan sembilan kali, terakhir diadakan di Brussels Belgia (Desember 2019). Yang ke-10 direncakan diadakan di Bali pada Maret ini, namun masih ditunda dikarenakan peristiwa menyebarnya virus Covid-19.
Dalam pertemuan bilateral itu, Airlangga memaparkan reformasi regulasi dengan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) dan Perpajakan. Ini Indonesia menjadi negara maju pada 2045, bila RUU sudah disahkan menjadi UU, diharapkan mengurangi hambatan investasi masuk dan membuka lapangan kerja baru. “Kami juga memperluas pasar ekspor melalui perjanjian perdagangan (dengan Eropa, Afrika, ASEAN, dan 6 negara lainnya yaitu Tiongkok, Jepang, India, Australia dan Selandia Baru), serta mendukung transformasi ekonomi melalui reformasi struktural,” tambah Airlangga.
Sementara, Mendag Sigrid menyatakan Belanda semakin membuka peluang kerja sama dengan Indonesia, terutama di sektor maritim, logistik, ketahanan pangan, dan pendidikan. Saat ini, Belanda sudah makin mengembangkan jangkauan dari universitas-universitas terbaiknya untuk meraih “pasar” mahasiswa internasional.
Belanda membuka diri dan memberikan kesempatan pada Indonesia memberikan kesempatan berinvestasi di dunia pendidikan, baik untuk pendidikan tinggi maupun pelatihan vokasi. Termasuk membuka kesempatan seluasnya bagi mahasiswa Indonesia belajar ke belanda dengan beasiswa Nuffic-Neso, serta menyediakan sistem pembelajaran online menggunakan teknologi terkini.
Belanda terus menjalin hubungan ekonomi baik dengan Indonesia, mengingat beberapa perusahaan multi nasional milik Belanda banyak yang beroperasi di Indonesia dalam jangka waktu sangat lama. Diantaranya, Unilever, Phillips, Royal Vopak, Shell, Port of Rotterdam, ABN Amro, dan TNT.
Mereka juga berharap proses berinvestasi untuk ekspansi bisnis perusahaan bisa semakin dipermudah adanya reformasi regulasi di Indonesia. “Usaha mereformasi regulasi tugas cukup menantang. Kami siap dukung perkembanngan usaha di Indonesia,” terangnya. (***/Atur)