Penilai dalam menjalankan pekerjaan juga kerap melakukan kesalahan. Appraisal Institute merangkum dan mengidentifikasi kesalahan paling umum yang ditemukan dalam pekerjaan penilaian.
Wartapenilai.id—Appraisal Institute, baru-baru ini menerbitkan beberapa kesalahan yang kerap muncul pada pekerjaan penilaian. Kesalahan umum penilaian perumahan, pengembangan dan pelaporan, yang berhasil identifikasi diantaranya pernyataan sertifikasi; identifikasi klien, pengguna dan tujuan penggunaan; lingkup pekerjaan dan identifikasi masalah; asumsi luar biasa/khusus dan kondisi hipotetis; nilai prospektif; penggunaan tertinggi dan terbaik (HBU); kelebihan tanah; persyaratan pelaporan; dan rekonsiliasi.
Berikut ringkasan kesalahan yang kerap muncul. Pertama, pertanyaan sertifikasi, disebutkan ini kesalahan paling umum dalam penilaian dan review laporan yang mensyaratkan sertifikasi. Laporan penilaian real property untuk review laporan penilaian dan sertifikasi yang harus dipenuhi penilai. Persyaratan sertifikasi dapat berubah dari waktu ke waktu dan menjadi kewajiban penilai memberikan sertifikasi sesuai tanggal penilaian. Dimana sertifikasi bagian penting dari laporan penilaian.
Kedua, identifikasi klien, pengguna dan penggunaan yang dimaksudkan. Identifikasi klien, pengguna yang dituju, dan penggunaan yang dimaksudkan menjadi bagian penting dalam proses penilaian. Mengidentifikasi berarti menentukan pihak-pihak yang menjadi tanggung jawab penilai. Klien dan pengguna yang dituju merupakan audiens yang menjadi pembahasan dan kesimpulan. Seperti laporan berisi informasi cukup dan memungkinkan pengguna penilaian memahami laporan dengan benar. Laporan penilaian, baik lisan maupun tulisan, harus berisi informasi yang cukup dan memungkinkan pengguna memahami laporan dengan benar dalam konteks penggunaan yang dimaksud dengan mengetahui pengguna terlebih dahulu.
Penggunaan yang dimaksud sebagai elemen menentukan ruang lingkup pekerjaan sesuai dengan penugasan. Kenapa penilaian diperlukan, apa masalah nilainya, tanggal efektif penilaian, dan kepentingan yang dipertimbangkan adalah faktor yang membentuk keputusan penggunaan, pengguna, ruang lingkup. Klien mungkin tidak sepenuhnya memahami proses penilaian, persyaratan pelaporan, atau kompleksitas penilaian. Identifikasi atas elemen itu bisa membantu menyediakan jasa penilaian yang tepat bagi klien.
Ketiga, lingkup pekerjaan dan identifikasi masalah. Keputusan paling kritis yang dibuat dalam penugasan penilaian. Indetifikasi masalah, ruang lingkup pekerjaan dan solusinya merupakan langkah yang dilakukan secara berurutan, dimana indetifikasi masalah untuk mencari tahu elemen utama penugasan. Klien dan pengguna yang dituju, tujuan penggunaan laporan, jenis dan definisi nilai, tanggal efektif opini dan kesimpulan nilai, subjek dan properti yang dinilai, karakter subjek property, asumsi khusus dan hipotesisi yang diperlukan dalam penilaian, dan kondisi lain yang berpengaruh terhadap ruang lingkup pekerjaan.
Setelah elemen penugasan diketahui, penilai dapat pindah ke langkah kedua, menentukan ruang lingkup pekerjaan untuk memecahkan masalah. Lingkup pekerjaan mencakup semua aspek dari proses penilaian, termasuk pertanyaan dari tiga pendekatan nilai yang digunakan. Berapa banyak data yang harus dikumpulkan, dari sumber apa, dari daerah geografis mana, dan selama periode waktu; sejauh mana proses verifikasi data; dan berapa luas inspeksi properti, jika ada, dan lainnya.
Keempat, lingkup pekerjaan pelaporan. Ruang lingkup pekerjaan setiap penugasan selalu unik, terhubung langsung dengan analisis dan proses penilaian. sejauh mana proses verifikasi data, tingkat pemeriksaan subjek properti, menjelaskan area bangunan bruto/bersih, bagaimana ukuran unit dibangun. Sering kali informasi ini menambah satu atau lebih asumsi luar biasa/khusus. Misalnya apakah bangunan diukur, dokumen dan informasi disediakan sumber sekunder. Jika ada akses minimal ke properti baik ukuran, kondisi, fasilitas dan ketentuan uraian dari penugasan yang ada.
Bila asumsi ternyata salah, hasil penugasan mungkin terpengaruh. Ini berlaku untuk asumsi biasa atau umum dan asumsi luar biasa/khusus. Asumsi luar biasa/khusus berbeda dari asumsi umum yang sering dibuat dan dilaporkan dalam semua penugasan. Asumsi luar biasa/khusus khusus untuk tugas yang dihadapi. Untuk memiliki asumsi yang luar biasa/khusus, penilai
Pasti ada alasan meyakini bahwa kondisi yang dianggap benar mungkin tidak benar. disini ada warning bagi penilai, akan ketidakpastian dari situasi. Penilaian pompa bensin tua, misalnya, tanggal nilai saat ini. diketahui banyak pompa sendsin vintage yang bocor, dengan tangka penyimpanan dengan asumsi properti itu tidak memiliki kebocoran. Penilai tentu menggunakan asumsi luar biasa/khusus, ini khusus untuk penugasan penilaian penilai pompa tua itu dan kemungkinan akan memengaruhi kesimpulan nilai jika ternyata tidak benar.
Penting dipahami ketika asumsi luar biasa terbukti bertentangan dengan kebenaran, itu tidak berarti penilai itu “salah.” Penilai harus memastikan bahwa penggunaan asumsi luar biasa yang sesuai mengingat tujuan penggunaan hasil penugasan oleh klien. Kemudian, kecuali disepakati dengan klien pada saat penugasan, penilai tidak berkewajiban untuk “memperbaiki” atau “mengoreksi” penilaian setelah mengetahui premis-alasan asumsi luar biasa/khusus, salah. Pendapat nilai selalu dikembangkan dalam konteks penugasan sebagaimana didefinisikan oleh ruang lingkup pekerjaan dan parameter penugasan lainnya seperti tanggal nilai dan jenis nilai, serta kondisi hipotetis yang dinyatakan dan asumsi luar biasa / khusus. Jika asumsi luar biasa / khusus yang dibuat dalam penilaian kemudian ternyata salah, penilai dapat menerima tugas baru yang akan mencerminkan premis yang mendasari yang berbeda.
Pernyataan penggunaan asumsi luar biasa/khusus mungkin mempengaruhi hasil penugasan/pendapat/kesimpulan diperlukan dan sangat penting agar laporan tidak menyesatkan. Aturan-aturan ini tidak mengharuskan properti dinilai dua kali, keduanya dengan dan tanpa asumsi luar biasa / khusus. Ini hanya berarti klien dan pengguna yang dituju harus waspada terhadap asumsi luar biasa/khusus sehingga signifikansi mereka, mengingat penggunaan yang dimaksudkan, dapat dipahami.
Banyak tugas melibatkan satu atau lebih asumsi luar biasa/khusus, yang dalam pelaporan, membutuhkan penanganan secara spesifik. Asumsi luar biasa/husus harus diungkapkan dengan alasan itu tidak bisa dimasukkan dalam cetakan kecil dalam tambahan yang sulit terbaca pengguna. Mungkin lebih tepat mengutip asumsi luar biasa/khusus lebih dari satu tempat di laporan, tergantung pada signifikansinya terhadap penugasan. (Bersambung/***)