Pabrik Karbon Hitam, Hemat Impor Rp 1,5 Triliun

by redaksi

Pemerintah terus mendorong industri penghasil substitusi impor dan memacu industri berorientasi ekspor.

WartaPenilai.id—Pemerintah mendorong tumbuhnya industri penghasil produk substitusi impor. Upaya menarik investasi dan mengurangi defisit neraca perdagangan guna memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menekankan pentingnya mendorong industry penghasil produk subsitusi impor. Ini seperti dilakukan Cabot yang terus menambah produksi black carbon pada fase pertama perkembangan industry, terangnya saat peletakan batu pertama, Pembangunan Pabrik PT. Cabot Asia Pacific South (PT CAPS) di Cilegon, beberapa waktu lalu.

Cabot Indonesia (PT CI), satu-satunya produsen karbon hitam (carbon black) di dalam negeri, dengan total kapasitas produksi mencapai 90 ribu ton per tahun. Korporasi ini menambah jumlah investasinya sebesar Rp1,4 triliun guna mendongkrak produksi carbon blacksebanyak 80 ribu sampai 90 ribu ton per tahun dan masterbatchsekitar 20 ribu ton per tahun.

“Kami apresiasi PT. Cabot Indonesia yang membangun pabrik carbon black dan masterbatch di Indonesia. Kami memberi tantangan perusahaan ini agar bisa operasional awal 2021,” terangnya.

Kebutuhan serat karbon hitam, terang Agus Gumiwang Kartasasmita di industri dalam negeri saat ini masih cukup banyak, yang 70 persen dipasok dari luar negeri. “Berdasarkan data, kebutuhan carbon black  dalam negeri sebesar 230 ribu ton per tahun. Dan, 70 persen dari kebutuhan itu dari berbagai macam negara, termasuk China dan India,” tambahnya.

Peningkatan kapasitas itu untuk memenuhi permintaan konsumen dalam dan luar negeri. yang terus meningkat sekitar 4-5 persen setiap tahunnya. Carbon black digunakan sebagai penguat produk ban dan produk karet lainnya. black Carbon juga digunakan pigmen warna plastik, cat dan tinta. Beroperasinya PT CAPS, Indonesia akan mampu melakukan substitusi impor carbon black sebesar 90 ribu ton per tahun, senilai Rp1,5 triliun per tahun.

Senior Vice President sekaligus President of Reinforcement Materials Cabot Corporation, Bart Kalkstein mengatakan, pihaknya berinvestasi sebesar USD100 juta untuk meningkatkan kapasitas produksi black carbon.

“Sebagai produsen carbon black terbesar di dunia, kami memiliki posisi khusus untuk memperluas langkah kami secara global untuk dapat memenuhi kebutuhan konsumen di seluruh wilayah di dunia,” ungkapnya.

Bart menambahkan, perluasan fasilitas produksi di Cilegon ini merupakan bagian proyek peningkatan kapasitas dan debottlenecking global yang telah diumumkan pada Mei 2018. Peningkatan kapasitas ini memungkinkan Cabot untuk mendukung pertumbuhan industri ban dan karet, serta karbon khusus di seluruh dunia.

Cabot telah mencatatkan perkembangan yang signifikan dalam mencapai tujuan peningkatan kapasitas produksi carbon black secara global sebesar 300 ribu metrik ton, dan akan mencapai target setelah proses commissioning dari fasilitas produksi baru ini.

Sektor industri sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Juga berperan penting menciptakan nilai tambah, perolehan devisa dan penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan kesejahteraan. Sektor manufaktur yang memberikan kontribusi besar adalah industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia. Sepanjang tahun 2018, memberikan kontribusi Rp166,89 triliun, dan pada triwulan II-2019 sebesar Rp63,88 triliun.

Sedangkan ekspor mencapai USD8,79 miliar dengan total investasi mencapai Rp. 26,2 triliun. “Industri kimia merupakan satu dari lima sektor yang sedang mendapat prioritas pengembangan, sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0,” tambah Agus Gumiwang.

Langkah strategis yang dilakukan dengan memberikan fasilitas insentif fiskal, tax allowancetax holiday, dan super deduction tax. “Selain itu, melakukan upaya pengendalian impor dan pengamanan pasar dalam negeri, optimalisasi pemanfaatan pasar dalam negeri dan pasar ekspor, serta Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN),” tambahnya.

Pemerintah juga berkomitmen membangun industri manufaktur berdaya saing global melalui percepatan implementasi industri 4.0. “Dalam upaya mendukung pelaksanaan Making Indonesia 4.0, pemerintah tengah mengupayakan penguatan SDM melalui program vokasi industri. Hal ini sangat penting guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil dan kompeten sesuai industri,” tutupnya. (tim)

0 0 votes
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x