WartaPenilai.id—Indonesia berada di trek yang tepat menuju transformasi ekonomi, melalui peningkatan daya saing, perbaikan iklim investasi, dan percepatan pertumbuhan ekspor. Ditengah ekonomi global yang penuh tantangan, ekonomi Indonesia masih mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi berkualitas di kisaran 5% Tahun 2019, yang didorong konsumsi dan investasi domestik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan hal itu saat merillis World Development Report (WDR) yang dikeluarkan Bank Dunia tahun 2020, yang bertema “Trading for Development in the Age of Global Value Chains”, di Jakarta 28 Januari 2019.
Indonesia, terangnya terus meningkatkan daya saing dan iklim investasinya, dimana seluruh Credit Rating Agency telah mengakui Indonesia sebagai negara layak investasi dengan resiko rendah. “Terlebih Indonesia konsisten meningkatkan peringkat ease of doing business (EoDB) sejak 2015, yang didukung peningkatan skor Indeks Persepsi Korupsi selama enam tahun terakhir,” terangnya.
Selain itu Indonesia, juga turut meningkatkan peran dalam skema nilai global atau Global Value Change (GVC) guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan pekerjaan bergaji tinggi.
“Ini waktu tepat bagi kita meningkatkan partisipasi di GVC dan menjadi pemain global utama dalam revolusi industri keempat. Tentu saja kita perlu menarik lebih banyak investasi agar bisa melakukan hal itu,” tegas Airlangga.
Dalam memperkuat dan memperluas perannya di kancah GVC, Indonesia menuju negara industri manufaktur dan jasa yang maju. Itupun dengan menjalankan strategi berdasarkan program prioritas, mulai dari penyederhanaan regulasi Omnibus Law (khususnya RUU Cipta Lapangan Kerja dan RUU Perpajakan), implementasi Online Single Submission (OSS). Ini juga sejalan dengan rekomendasi kebijakan yang tertuang dalam WDR 2020 ini, terangnya.
Komitmen lain pemerintah di tengah tantangan teknologi global dan revolusi industri 4.0, terus meningkatkan dan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas tinggi. Serta memastikan setiap pekerja bisa meningkatkan keterampilannya meraih pekerjaan lebih layak.
Itu dilakukan dengan kebijakan Pendidikan kejuruan (vokasi), untuk mempercepat investasi SDM serta merevitalisasi kurikulum sesuai kebutuhan industry. Tidak hanya itu, pemerintah juga menggenjot super deduction tax dan pelatihan melalui program Kartu Pra-Kerja.
Sebelumnya Indonesia pengekspor bahan mentah menjadi pengekspor barang-barang industri. Indoensia juga aktif dalam perjanjian dagangan untuk mengdieksplorasi dan meningkatkan perannya di GVC. Diantaraya Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang akan diimplementasikan pada 2021/2022.
Indonesia, terang Airlangga juga berhasil menurunkan biaya logistik dengan adanya Proyek Strategis Nasional (PSN), pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang akan meningkatkan konektivitas. Dimana saat ini terdapat 92 PSN dan 15 KEK yang tersebar di seluruh Indonesia. semua itu untuk memacu ekspor dan berkontribusi terhadap neraca perdagangan. (Atur Toto/***)