KEK Sorong diharapkan menjadi lokomotif ekonomi Indonesia bagian timur. Pembangunan KEK menelan investasi sebesar Rp 2,3 triliun, bisa menarik invetasi sebesar 32,5 triliun.
Wartapenilai.id—Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong, Provinsi Papua Barat telah diresmikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Sorong 11 Oktober 2019. KEK itu menempati lokasi seluas 523,7 ha. Kegiatan yang dilakukan di KEK ini meliputi industri pengolahan nikel, pengolahan kelapa sawit, hasil hutan dan perkebunan (sagu), serta pembangunan pergudangan logistik. KEK Sorong diproyeksikan akan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 15.024 orang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, saat peresmian mengatakan KEK Sorong memiliki peluang menjadi salah satu pilar ketahanan pangan nasional, khususnya protein berbasis kelautan. “Ddiharapkan ini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pesisir Papua,” terangnya.
Keberadaan KEK Sorong ini menuntut ketrlibatan aktif masyarakat, dan mereka harus dipersiapkan baik dari sisi pengetahuan, ketrampilan, serta kelembagaan ekonomi ke depannya agar bisa menjadi SDM yang lebih mumpuni. “Pemberdayaan social ekonomi masayrakat pesisir di sekitar KEK Sorong bisa dilakukan melalui berbagai vokasi, pelatihan koperasi. Pemda perlu menjamin kemudahan perizinan para calon investor, jelas Darmin.
Sementara dari sisi infrastruktur, selama tiga tahun terakhir, Kementerian Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah membangun akses jalan utama beserta saluran drainase sepanjang 3,5 km dan jalan lingkungan sepanjang 6,5 km. Telah terbangun pula Pembangkit Listrik Mesin Gas (PLTMG), yakni PLTMG Waymon, PLTMG Arar, dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) PT PLN untuk memasok kebutuhan listrik di kawasan Sorong Raya, sehingga saat ini telah tersedia Daya Mampu sebesar 46 MW dengan cadangan sebesar 9 MW.
Untuk jangka pendek, air bersih untuk Pelabuhan Arar dan industri existing akan menggunakan sumur bor dengan kapasitas 5 liter/detik dan Penampung Air Hujan (PAH). Sementara, untuk jangka panjang akan dibangun Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang menggunakan sumber air dari Sungai Klasafet (Klamono) dengan kapasitas 500 liter/detik.
Sampai saat ini, investor yang bergabung dalam KEK Sorong antara lain adalah PT Semen Gresik (Semen Indonesia Group) untuk membangun pabrik pengemasan semen, PT Henrison Inti Putra untuk membangun pabrik pengolahan kayu dan sawit, dan PT Bumi Sarana Utama (Kalla Group) untuk membangun storage aspal curah.
Sedangkan, investor lain yang akan masuk yaitu PT Gag Nikel (untuk pembangunan smelter nikel), PT Pelindo IV (untuk pengembangan Pelabuhan Arar sebagai sarana konektivitas dan logistik), PT Numarin Terra Anugerah (untuk pembangunan cold storage perikanan), serta PT Power Gen (untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas/PLTMG sebesar 20 MW).
Sementara Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan menambahkan pembangunan KEK Sorong telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022. Hal ini untuk meningkatkan perekonomian daerah dengan didukung pemanfaatan sumber daya lokal lintas sektor. Ke depannya, pembangunan di Papua Barat dapat meningkat sehingga mampu mengurangi kesenjangan antar wilayah.
Pembangunan KEK Sorong, jelas Dominggus diperkirakan akan memakan biaya sebesar Rp 2,3 triliun, dan sekarang telah menghabiskan anggaran sebesar Rp487 miliar, dan ke depannya ditargetkan akan dapat menarik investasi sampai Rp32,5 triliun. KEK Sorong juga akan mendongkrak perekonomian Kabupaten Sorong dengan proyeksi peningkatan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) sekira Rp 10,64 triliun pada 2030. “Semoga ini menjadi perhatian dari pemerintah pusat, supaya pembangunan infrastruktur dan masuknya investasi ke KEK
Sorong dapat berjalan maksimal. Ada beberapa catatan dengan kehadiran kawasan KEK, salah satunya yaitu dibutuhkannya tenaga kerja yang besar, jadi diharapkan akan dibangun Balai Latihan Kerja (BLK) skala nasional di daerah ini, maka nanti akan bisa membantu pemenuhan SDM di semua sektor industri yang ada di Papua Barat,” tuturnya.
Dominggus pun mengharapkan, para pemuda-pemudi Papua tidak hanya akan menjadi “penonton” saja dengan adanya KEK, melainkan mereka dapat bergabung di dalam industri-industri tersebut. “Kemudian, kami juga berharap jika di kawasan ini dibangun smelter, daripada hasil nikelnya dibawa ke pulau lain, jadi ini akan memberikan peluang dan kesempatan besar bagi anak-anak muda kami untuk bekerja di sana,” ujarnya.
Untuk KEK sendiri, hingga saat ini sudah ada 13 KEK yang ditetapkan (terdiri dari 8 KEK manufaktur dan 5 KEK kepariwisataan), yang 11 KEK di antaranya sudah beroperasi, termasuk KEK Sorong. Kemudian, sampai saat ini aliran investasi kepada 13 KEK tersebut mencapai Rp85,3 triliun, dan diharapkan pada 2030, investasi tersebut akan mencapai Rp726 triliun. (Toto)