Buah Simalakama Penilai

by redaksi

Opini nilai yang dikeluarkan tidak murni hasil penilai, tetapi merupakan hasil negosiasi.

Wartapenilai.id—Kekayaan, property, bursa saham, konsumerisme, mungkin yang muncul di benah semua orang menandai kapitalisme. Bapak Kapitalisme, Adam Smith, sering menggambarkan sistem ekonomi yang disenangi sebagai sistem kebebasan alami. Dimana, Smith mendefinisikan modal sebagai saham, dan laba sebagai harapan yang adil untuk mempertahanakan pendapatan dari peningkatan yang dibuat saham.

Sistem ekonomi kapitalis, memungkinkan indidvidu memiliki hak akan faktor produksi, seperti peralatan, pabrik, modal dan lainnya. Dengan haknya, individu bebas memperkerjakan orang lain untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Apa yang diproduksi, bagaimana cara memproduksi, dan untuk siapa produk yang dihasilkan menjadi keputusan individu secara sukarela. Berdasarkan kapitalisme individulah yang menentukan, tanpa campur tangan pemerintah.

Adam Smith, dalam bukunya the wealth nations, menjelaskan setiap orang selalu didorong memenuhi kepentingan pribadinya. Ketika ingin memenuhi kebutuhan pribadi tanpa disadari memenuhi kebutuhan orang lain.

Sebagai ilustrasi bisnis rumah makan, individu ini memiliki modal, bangunan, bumbu dan lainnya. Ketika memproduksi dan menyajikan makanan bukan ingin memberikan makanan pada konsumen. Apa yang dilakukan untuk menghasilkan pendapatan untuk  menghidupi keluarganya. Begitu juga sebaliknya, ketika konsumen makan di rumah makan itu, motivasinya bukan untuk membantu pendapatan keluarga pemilik rumah makan, tetapi memenuhi nafsu makan si konsumen itu sendiri.

Bila terdapat penjual makanan lainnya, yang ingin lebih sejahtera, harus bisa menyajikan makanan lebih berkualitas dan harga murah. Ketika ada kompetesi dari penjual makanan itu, terjadi persaingan makanan semakin berkualitas dan membuat harganya kompetitif.

Itulah yang diungkapkan Adam Smith, adalah spesialisasi. Menurunya, produktivitas akan meningkat jika semua individu atau pekerja hanya diberikan tugas yang spesifik tidak merangkap pekerjaan lain.

Tahun 1913 Mobil Ford mampu memproduksi setengah kebutuhan mobil di Amerika. Hendri Ford, pemilik pabrik, mempekerjakan pekerja dengan spesifik, ada pekerja yang khusus mengerjakan pintu, pasang ban, khusus mesin, dan lainnya. Hasilnya Ford mampu memproduksi secara efisien dan memenuhi setengah kebutuhan kendaraan di Amerika Serikat.

Dalam skala internasional Adam Smith percaya semua negara harus fokus pada keahliannya masing-masing. Negara yang ahli dibidang makanan tidak perlu memproduksi mobil atau sebaliknya. Ujungnya terjadi perdaganngan antar negara dan konsumen mendapatkan produk berkualitas dan harga yang bersaing.

Sistem kapitalis ini ditandai kurangnya intervensi pemerintah, sarana produksi dimiliki swasta, barang dan jasa didistribusikan sesuai dengan mekanisme harga (sebagai lawan control harga dari pemerintah).

 

Buah Simalakama Penilai

Individu dan swasta yang memiliki peran besar dalam produksi dan distribusi, kebutuhan untuk mengakses modal dari pihak ketiga (perbankan) kian meningkat. Alih-alih sebagai pihak independen dalam melakukan penilaian terhadap kekayaan, di tengah sistem kapitalis, profesi penilai memiliki banyak peran.

Profesi penilai berada di tengah pihak perbankan, kapitalis (swasta dan individu), untuk memberikan opini nilai terhadap agunan sebagai jaminan hutang. Atau bisa juga sebagai pihak independen, yang menjembatani kepentingan jual beli, diantara pihak yang membutuhkan opini nilai.

Namun yang terjadi, pengamat profesi penilai, Marwan Muchtar menjelaskan independen penilai kerap menjadi taruhannya. Penilai selalu mengikuti alur pengusaha dan perbankan manakala menilai jaminan kredit. “Untuk meloloskan sebuah nilai, penilai selalu ditekan. Kalau tidak bisa pengusaha dan perbankan akan mencari penilai lain yang bisa mengikuti alurnya,” terang Marwan Muchtar.

Sebab, tambah Marwan di dunia ini sudah premanisme, bila tidak mengikuti alur, bakal di ditinggalkan. Namun demikian, dalam penugasan penilaian, penilai kerap minta setengah pembayaran di muka atas jasa yang diberikan. Kenapa ini dilakukan, sebab biasanya sebelum keluar nilai, pihak perbankan atau pengusaha menanyakan hasil opini nilainya. “Proses opini nilai tidak langsung jadi. Hasil penilaian merupakan hasil dari beberapa tahap negosiasi yang dilalui,” terangnya.

Ini merupakan permainan yang terjadi dan umum dilalui para penilai. Bila tidak mengikuti aturan, penilai itu akan terbuang dari arena permainan. “Pertanyaannya, boleh tidak nilai sebelum keluar, dibahas dengan klien sebelum difinalkan,” tambahnya. Disinilah Marwan mengakui tidak ada laporan penilaian yang langsung jadi tentu melalui beberapa proses negosiasi baik dengan klien, atau pengusaha yang bersangkutan.

Penilaian yang benar, tambah Marwan, mau dibahas seribu kali, nilainya tetap sebesar itu.

Marwan menegaskan disinilah penilai makan buah simalakama, tidak dilakukan order hilang, dilakukan independensinya di pertaruhkan. “Contoh nilai tanah satu meter Rp 1 juta diminta diubah menjadi Rp 1.2 juta. Memang terlihat tidak material. Tetap saja itu hasil dari perundingan, tidak murni dari apa yang dihasilkan penilai itu sendiri,” terangnya.

Selain untuk menaikan, juga menurunkan nilai, seperti pada pengadaan tanah untuk kepentingan umum. Di dalam situ meskipun ada kepentingan umum, tetapi lebih banyak modal yang bermain. Penurunan nilai tujuannya untuk mengecilkan nilai ganti rugi yang di tanggung kapitalis. “Apapun merode penilaian yang digunakan, penilai mengikuti apa yang dimau kapitalis, baik perbankan atau pengusaha,” terangnya.

Apa yang terjadi saat ini, Marwan mengakui pernah terjadi di masa dia masih berpraktik sebagai penilai. Dia pernah dinegosiasi pihak perbankan. Awalnya permintaan kenaikan nilai itu dilakukan si pengusaha, namun tidak dituruti. Begitu hasil sudah selesai, perbankan melakukan negosiasi, bisa tidak hasilnya dinaikan, Marwan menirukan.

Jawaban Marwan sederhana bisa menaikan nilai asal dipenuhi satu syaratnya dimana tanggung jawab pekerjaan penilaian ini ada di pihak anda, terangnya. Diapun masih mengakui dalam pekerjaan itu tetap ada tanggung jawabnya sebagai penilai. “Akhirya pihak perbankan tidak berani,” jelasnya.

Apa yang disampaikan Marwan, penilai menghadapi situasi sulit, khususnya menghindari intervensi dari kaum kapitalis dalam proses menghasilkan nilai. Bila dia berani, jelas pelan dan pasti bakal keluar dari gelanggang penilaian, alias di blak list, kesulitan order penilaian. “Penilai jangan sok pinter, opini nilai yang dihasilkan, belum murni, masih banyak yang mengikuti alur perbankan dan pengusaha,” tegasnya.  (***/HS)

0 0 vote
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x