Penipuan Penilaian

by redaksi

Penipuan itu tidak berdiri sendiri melibatkan rantai transaksi pinjaman, mulai kontraktor bangunan, agen penjualan real estate, petugas pemberi pinjaman, broker hipotek, konselor kredit, penilai real estate, pengawas properti, hingga agen asuransi. Semua tindakan itu termotivasi adanya keinginan memperoleh komisi tambahan.

Wartapenilai.id—Penipuan penilaian merupakan bentuk mortgage fraud, istilah yang lebih luas merujuk pada banyak kegiatan. Diantaranya menggelembung penilaian untuk mendapatkan jaminan (hipotek) lebih dari nilai properti. Bisa juga dilakukan dengan mengklaim pendapatan atau aset yang tidak dimiliki debitur. Hingga menyamarkan debitur atas nama orang lain yang sebenarnya melakukan pembelian.

Memang pelanggaran etika dan kegiatan kriminal terjadi di berbagai industri yang telah mempengaruhi perekonomian selama beberapa dekade terkahir yang terjadi di sektor perbankan, keuangan, dan perumahan.

Bentuk paling sederhana adalah kesalahpahaman dan penipuan yang disengaja, dimana satu pihak menipu pihak lain dengan salah mengartikan informasi, fakta dan angka. Penipuan hipotek banyak dilakukan pemimjam predator, dengan target sejumlah pinjaman tertentu. Penipuan perumahan atau hipotek bisa dilakukan individu yang berniat menempati properti sebagai tempat tinggal atau kelompok investor menipu melalui properti sewaan atau melakukan penipuan penilaian saat membalik rumah.

Sebagai ilutrasi, seseorang membeli property justru mendapatkan untung, saat kredit kepemilikan rumah dikucurkan. Ini terjadi di bilangan Jakarta Selatan baru-baru ini. Seseorang membeli rumah mewah seharga Rp 12 miliar, sebelum diajukan sebagai agunan kredit rumah itu dinilai penilai publik dengan nilai sebesar Rp 21 miliar. Bank tersebut menyetujui pengucuran kredit sebesar Rp 17 miliar.

Dalam tempo tidak kurang dari tiga bulan, Debitur yang membeli rumah yang dibiayai kredit itu menagguk untuk Rp 5 miliar, yang diperolah dari selisih kucuran kredit Rp 17 miliar dikurangi harga rumah Rp 12 miliar. Meskipun pengucuran kredit itu selain dijamin properti property yang dibeli, juga usaha yang dimiliki debitur.

Itu bisa terjadi karena ada upaya kerjasama diantara banyak, baik debitur, penilai publik dan pihak perbankan. Sangat mudah mendapatkan penghasian besar dalam tempo singkat. Bahkan, bila itu terbongkar sebelum pengucuran kredit, paling diantara pihak yang bersekongkol mengatakan itu terjadi salah penyajian.

Debitur dan profesional termotivasi melakukan itu karena bebera alasan. Penipuan agunan perumahan dan penipuan untuk mencari keuntungan. Penipuan untuk perumahan dilakukan debitur yang seringkali dengan bantuan petugas pinjaman atau personel lain, salah menggambarkan atau menghilangkan detail yang relevan terkiat pekerjaan dan pendapatan, utang dan kredit, atau nilai dan kondisi properti untuk tujuan memperoleh atau mempertahankan kepemilikan real estat.

Penipuan demi keuntungan dilakukan profesional industri yang salah saji, salah mengartikan, atau menghilangkan perincian yang relevan tentang pekerjaan dan penghasilan klien, pendapatan, utang, dan kredit mereka, atau nilai properti dan kondisi dengan tujuan memaksimalkan laba pada transaksi pinjaman.

Penipuan untuk mendapatkan laba dilakukan profesional manapun dalam rantai transaksi pinjaman termasuk kontraktor bangunan, agen penjualan real estate, petugas pemberi pinjaman, broker hipotek, konselor kredit, penilai real estate, pengawas properti, hingga agen asuransi. Semua tindakan itu termotivasi adanya keinginan memperoleh komisi tambahan.

Bentuk lainnya penipuan penilaian seperti dimana nilai sebuah rumah sengaja diberikan nilai lebih tinggi, jauh diatas nilai pasar wajar (fair market value). Ini bisa terjadi manakala penilai terlibat dan tidak jujur (integritasnya rendah) melebih-lebihkan nilai property yang dinilai. Tentunya atas permintaan pemilik rumah, penjual atau pembeli secara fisik mengubah penilaian, dengan menggunkana metode seperti penyuntingan editing digital, dengan memberikan suap pada pejabat tertentu.

Penipuan penilaian ini umumnya digunakan untuk mendapatkan penjual di harga pasar yang lebih baik atau membantu pembeli mendapatkan pembiayaan atau refinancing yang dikehendaki.

Penipuan penilaian ini paling umum dilakukan untuk pengucuran kredit yang diberikan atas dasar jaminan properti, yang terjadi ketika penilai (atau pembeli atau penjual) secara artifisial menggelumbungkan atau mengecilkan nilai properti sehingga, berbeda secara signifikan dari nilai pasar wajar. Nilai lebih tinggi yang diperoleh melalui penipuan penilaian biasanya digunakan membantu penjual menetukan harga yang lebih baik daripada yang dijamin pasar. Membantu pembeli mendapatkan pembiayaan karena jumlah hipotek bisa jauh lebih sedikit daripada nilai rumah yang dinilai. Dan membantu pemilik rumah mendapatkan pembiayaan kembali yang diharapkan atau pinjaman ekuitas rumah.

Sebelum terjadi transaksi real estat, terutama jika akan melibatkan pinjaman hipotek, nilai properti akan dinilai penilai publik. Penilai umumnya melakukan praktik ini penuh hati-hati, memeriksa ruang interior dan eksterior, untuk mencapai nilai pasar wajar (atau rentang nilai) yang harus dijual properti di pasar. Jika penilaian terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan dengan harga jual yang disepakati, bank pemberi pinjaman bisa menolak aplikasi kredit itu.

Untuk melindungi dari kesalahan ini, pihak perbankan melakukan review hasil penilaian penilai publik (independent), untuk menilai jaminan utang untuk memastikan pembiayaan kredit atau pembiayaan kembali pinjaman bisa sesuai dengan kondisi nilai properti yang dijaminkan.

Terkait penilaian yang terlalu tinggi, bank mungkin mengharuskan penjual untuk mengurangi harga rumah atau menolak memberikan pinjaman, jika merasa nilai agunan terlalu tinggi. Meski pembeli masih bisa membayar harga penilaian yang tinggi, namun bank tidak akan menggunakan nilai itu untuk memberikan pinjaman. Artinya pembeli membayar selisih antara penilaian internal bank dan nilai yang diharapkan. Pemilik rumah dan calon pemilik rumah harus berhati-hati, dan memastikan memiliki pendapat kedua yang independen setiap kali membuat keputusan berdasarkan penilaian pihak lain. (***/HS)

0 0 vote
Article Rating

Baca Juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x